http://www.balipost.com/news/2018/12/05/62958/Warga-Tianyar-Temukan-Fosil-Taring...html
Warga Tianyar Temukan Fosil Taring
Manusia Purba Dalam Goa
Rabu, 5 Desember 2018 | 18:44:22
Berbagi di Facebook
<https://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2018%2F12%2F05%2F62958%2FWarga-Tianyar-Temukan-Fosil-Taring...html>
Tweet di Twitter
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Warga+Tianyar+Temukan+Fosil+Taring+Manusia+Purba+Dalam+Goa&url=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2018%2F12%2F05%2F62958%2FWarga-Tianyar-Temukan-Fosil-Taring...html&via=balipostcom>
*
*
Jro Mangku Gede Wayan Berata sata menunjukkan posil berupa taring yang
di duga milik manusia pura di Goa Giri Kencana di Banjar Dalem, Desa
Tianyar Tengah, Kubu Karangasem, Rabu (5/12). (BP/nan)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Warga di Banjar Dalem, Desa Tianyar Tengah,
Kubu Karangasem Jro Mangku Gede Wayan Berata bersama warga lainnya,
yakni I Nyoman Mori dan Gede Dana menemukan fosil berupa taring
manusia purba di dalam sebuah goa.
Selain taring, warga juga menemukan cincin di dalam goa tersebut.
Sekarang ini taring dan cincin masih di tempatan di dalam goa tersebut
menggunakan toples.
Warga, Gede Dana, Rabu (5/12) menuturkan, jika goa tersebut sejatinya
sudah ditemukan oleh warga yakni Jro Mangku Gede Wayan Berata sekitar
setahun lalu. Hanya, goa tersebut baru di tata sejak Agustus 2018.
Kata dia, saat melakukan penataan goa itulah, dirinya menemukan sebuah
taring seperti taring manusia purba. Selain menemukan taring, warga
lainnya yang membantu menata kala itu juga menemukan sebuah cincin.
Penataan baru dilakukan setelah Ida Pandita Mpu Darma Yoga dari Gria
Jaya Santi Desa Wana Giri, Sukasada Buleleng datang langsung kesini
untuk melihat goa ini.
“Untuk taring itu saya sendiri yang menemukannya. Sementara untuk
cincinya ditemukan oleh Nyoman Mori. Dimana untuk taringnya itu
ditemukan pada tanggal 17 Agustus sekitar pukul 11.00 Wita. Sementara
untuk cincinnya itu baru ditemukan setelah tiga harinya tepatnya pada 20
Agustus pukul 14.00 Wita. Taring ditemukan di sela-sela bebatuan berisi
batok kelapa. Termasuk cicinya juga di temukan di sela bebatuan. Dan
sekarang taring dan cincin itu kami simpan di sebuah toples yang
ditempatkan di goa yang diberi nama Goa Giri Kencana,” ujarnya.
Dia menjelaskan, setelah menemukan taring tersebut, pihaknya coba
langsung mencari benda tersebut di internat. Dimana setelah dicari di
internet, benda tersebut di duga fosil taring manusia purba yang umurnya
sudah ratusan tahun.
Baca juga: Warga Padati Titra Panglukatan Taman Campuan
<http://www.balipost.com/news/2017/08/21/18791/Warga-Padati-Titra-Panglukatan-Taman...html>
Jelas dia, pascatemuan taring dan cincin tersebut, sudah banyak
masyarakat yang datang untuk melihat benda tersebut. Selain itu juga,
banyak warga yang melakukan yoga semedi, belajar weda.
Jro Mangku Gede Wayan Berata mengungkapkan, pihaknya melakukan penataan
goa itu setelah sering bermimpi membuat bataran di goa tersebut.
Jelas dia, atas mimpi itulah dirinya di bantu warga lainnya akhirnya
memutuskan untuk menata goa itu. Dimana sebelumnya goa itu cukup sempit,
namun setelah dilakukan penatan goa itu bisa ditempati sekitar 50 orang.
“Sebelum saya melakukan penaatan goa ini dulu saya sering sekali sakit.
Tapi setelah saya lakukan penataan goa ini, astungkara sekarang jarang
sakit. Dan setiap purnama, tilem dan rahinan lainnya saya salau
sembahyang ke goa ini,” katanya sembari menyatakan, jika sebelumnya
sempat ini membawa taring itu pulang kerumahnya, hanya saja di dalam
perjalan dirinya merasa resah dan ada orang yang mencegatnya. Sehingga
dirinya kembali membawa taring itu untuk di taruh di goa itu.
Sementara itu, warga lain, Ketut Suberata mengatakan, jika goa yang
ditemukan itu bakal dijadikan sebagai tempat untuk belajar spiritual
dengan dijadikan sebagai pasraman spiritual yang dimiliki banyak orang.
Dengan begitu dari manapun orangnya bisa belajar di tempat ini.
“Saya sering melakukan meditasi di tempat ini. Dan dapat mengalami
perubahan. Salah satunya sebelunya saya sangat sulit berkomunikasi
dengan orang banyak, tapi sekarang sudah biasa berkomunkasi dengan orang
banyak. Sebelumnya juga ada warga yang mengalami jantung lemah makemit
di goa ini, setelah makemit dia bilang jantung lemah yang dideritanya
sudah membaik,” jelas Suberata. (eka prananda/balipost)