GAWAT! KITA TIDAK BISA MEMILIH PRABOWO DI PILPRES 2019 DAN INDONESIA BAKAL PUNAH


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Gawat! Kita Tidak Bisa Memilih Prabowo di Pilpres 2019 dan Indonesia Bak...

Jika Pak Prabowo tidak bisa menjadi imam salat, Indonesia bakal punah. 
Ujung-ujungnya kita menjadi penduduk asin...
 |

 |

 |



YAMADIPATI SENO18 DESEMBER 2018


MOJOK.CO – Jika Pak Prabowo tidak bisa menjadi imam salat, Indonesia bakal 
punah. Ujung-ujungnya kita menjadi penduduk asing dan aseng. Duh, gawat!

“Maka kita angkat pemimpin yang bisa soooo?” Tanya Ustaz Abdul Somad di sebuah 
ceramah memancing respons jamaah. Tak sampai satu detik, jamaah menyahut 
bersama-sama: “Soooolaaaat!!!1!!!1”

“Solat! Bukan Somad!” Ustaz Abdul Somad menimpali sambil bercanda. “Angkat 
pemimpin yang bisa jadi imam solat! “Tak bisa solat Maghrib, Pak Ustaz” Tak 
apa, solat Dzuhur saja dulu.”

Petikan ceramah Ustaz Abdul Somad di atas bikin saya cemas. Bahkan sudah pada 
tahap khawatir. Mengapa? Karena baru-baru ini Pak Prabowo, capres yang 
didampingi oleh Sandiaga Uno sebagai cawapres, mengaku bahwa dirinya tak pantas 
menjadi imam salat. Ini bahaya. Semoga Pak Prabs hanya sedang merendah, bukan 
karena memang tidak bisa salat.

Lho, kamu tidak percaya Pak Prabowo mengakui bahwa dirinya tidak pantas menjadi 
imam salat dan bakal terancam gagal menang Pilpres 2019 karena Ustaz Abdul 
Somad menyarankan kita memilih pemimpin yang bisa menjadi imam salat?

Tanggal 17 Desember 2018 yang lalu, Pak Prabowo sudah mengakuinya secara 
terbuka. Bahkan direkam, ditulis, dan diunggah oleh banyak wartawan dan media 
seperti permintaan Ketum Gerindra bahwa media-media di Indonesia harus adil 
memberitakan.

“Saya gak bisa jadi imam salat katanya. Ya saya merasa tahu diri, yang jadi 
imam ya harus orang yang lebih tinggi ilmunya. Betul? Saya tidak takut mengakui 
saya merasa tidak pantas saya menjadi imam salat, lebih baik saya ikuti orang 
yang lebih tinggi ilmunya dari saya,” aku Pak Prabs seperti dilansir oleh 
Tribun, yang seperti punya cabang dari Sabang sampai Merauke itu.

Ini lho yang saya khawatirkan. Begini, Pak Prabowo. Anda kan tahu kalau di 
Indonesia ini “beragama dan punya iman sundul langit” itu kelasnya sangat 
tinggi di kontestasi politik. Sensitifitas terkait masalah rakyat, paham 
masalah ekonomi-sosial, budaya, masalah internasional itu kan urusan remeh. 
Yang penting adalah agamis. Titik. Lha kalau Pak Prabs mencoba merendah, nanti 
malah diserang banyak orang.

Nanti Anda dibilang memang tidak bisa salat, apalagi menjadi imam ketika 
menjalankan rukun Islam yang kedua tapi sok-sokan merendah biar terhindar dari 
disuruh-suruh. Eeh tapi, Pak Prabs bisa salat dan menjadi imam, kan? Nanti saya 
sudah capek membela Pak Prabs ternyata memang tak bisa salat apalagi menjadi 
imam.

Apalagi ketika Ustaz Abdul Somad, salah satu calon wakil presiden pilihan 
Ijtima Ulama itu bilang bahwa:

“Aslinya yang menjadi imam itu adalah pemimpin. Makanya selama Nabi Muhammad 
SAW masih hidup tidak ada yang maju ke depan (memimpin), kecuali atas titah 
Baginda (Nabi Muhammad), maka majulah Sayyidina Abu Bakar Ash Siddiq Radiallahu 
Anh,” kata Ustaz Abdul Somad, yang kembali dicatat oleh Tribun, yang cabangnya 
nauzubillah banyak banget itu. Itu kalau di Planet Mars boleh buka kantor 
berita, Tribun pasti udah pesan kaveling sejak lama.

Nah, kalau pemimpin harus bisa menjadi imam salat, sedangkan Pak Prabowo 
mengaku tidak pantas (tidak mampu?), lalu kita harus memilih siapa? Masak milih 
Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin.

Ya sebetulnya sih tidak masalah kalah kudu memilih Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin. 
Jokowi sudah beberapa kali menjadi imam salat. Soal bacaan yang salah, itu 
urusan lain. Yang sedang dipermasalahkan itu kan keberanian dulu untuk maju 
memimpin salat, menjadi imam. Berani dulu, baru dibenahi kemudian kalau salah. 
Ingat, seperti kata iklan Rinso, “Berani kotor itu baik!”

Tapi, Pak Prabowo, ada satu masalah besar kalau kami kudu memilih Jokowo dan 
Kiai Ma’ruf Amin. Masalahnya cuma satu sih, yaitu Indonesia bakal punah karena 
Bapak kalah.

Seperti kata Pak Prabowo sendiri, kalah kalah di Pilpres 2019, Indonesia ini 
bakal punah.

“…Kita tidak boleh kalah. Kalau kita kalah, negara ini bisa punah. Karena elite 
Indonesia selalu mengecewakan, selalu gagal menjalankan amanah dri rakyat 
Indonesia. Sudah terlalu lama elite yang berkuasa puluhan tahun, sudah terlalu 
lama mereka memberi arah keliru, sistem yang salah.”

Ketika pemilih memilih Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin karena bisa menjadi imam 
salat, artinya Pak Prabowo akan kalah. Indonesia lalu punah. Takut, Pak. Saya 
takut tidak bisa julid dan ghibah lagi di medsos.

Apalagi ketika nanti Indonesia punah dan kita pindah kewarganegaraan. Masak 
kita kudu gabung ke Cina dan Amerika Serikat. Masyaallah, Pak. Anda kan 
menyerukan kalau kita kudu anti-aseng dan anti-asing. Masak malah mengingkari 
nasihat Bapak.

Jadi, Pak. Ayo jadi imam salat. Biar Indonesia tidak punah dan kita jadi 
penduduk asing dan aseng. Nanti biar dibantu Ahmad Khadafi, redaktur Mojok yang 
lulusan pesantren Al Muayyad di Surakarta.

Kirim email ke