*Pada kesempatan lainnya, ia juga salah melafalkan "Allah Subhanahu Wa
Ta’ala" menjadi “Allah Subhanahu watuulo”  *
Allah Subhanahu Wa Ta’ala"  = Allah yang maha suci dan maha tinggi.
Sedangkan watuulo, watu = batu. Ulo = ular
Watuulo : https://id.wikipedia.org/wiki/Pantai_Watu_Ulo
Rupanya pahamnya bahasa Inggris, tidak paham betul bahasa Arab dan bahasa
Jawa ?

Pada tanggal Kam, 20 Des 2018 pukul 08.41 Sunny ambon [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

>
>
>
> http://mediaindonesia.com/read/detail/205221-kasihan-pak-prabowo?utm_source=dable
>
>
> *Kasihan Pak Prabowo*
>
> Penulis: *Jarot Doso, Penulis menyelesaikan S1 dan S2 dengan spesialisasi
> politik Islam di Fisipol UGM Yogyakarta. Pernah menjadi wartawan Republika
> dan Tempo serta Tenaga Ahli DPR RI. Kini bekerja sebagai tim redaksi Jokowi
> App, aplikasi resmi Tim Kampanye Nasional*Pada: Rabu, 19 Des 2018, 13:16
> WIB *OPINI* <http://mediaindonesia.com/opini>
>
>
> [image: Kasihan Pak Prabowo]
> <http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2018/12/0a51a45e6d5d5d8011d101500f34af31.jpg>*NTARA
> FOTO/Dhemas Reviyanto*
> CALON PRESIDEN NOMER URUT 02 PRABOWO SUBIANTO MENYAMPAIKAN SAMBUTAN SAAT
> DEKLARASI DUKUNGAN DARI KOMANDO ULAMA PEMENANGAN PRABOWO-SANDI (KOPPASANDI)
> DI JAKARTA, MINGGU (4/11/2018).
>
> TERUS terang saya adalah pendukung Jokowi. Pendukung garis keras mungkin
> malahan. Karena tidak hanya tahun ini saja, empat tahun lalu pun saya
> terlibat dalam kerja-kerja tim pemenangan nasional Jokowi sebagai calon
> presiden. Meski peran saya memang lebih banyak di belakang layar.
>
> Nah, dalam posisi sebagai pendukung Jokowi itu, sebetulnya saya
> kadang-kadang menaruh kasihan kepada kompetitor Pak Jokowi, dalam hal ini
> kepada Pak Prabowo khususnya. Terutama ketika Prabowo dicitrakan oleh para
> pendukungnya secara tidak rasional sebagai sosok pemimpin umat Islam atau
> figur yang (seolah-olah) sangat Islami.
>
> Menjadi seseorang yang dicitrakan religius atau taat beragama itu tidak
> mudah. Terutama jika dalam kenyataan sehari-harinya yang bersangkutan
> justru tidak agamis atau bukan pemeluk agama yang taat. Terlebih tidak pula
> memiliki pemahaman atau pengetahuan agama yang cukup.
>
> Pencitraan sebagai sosok agamis yang dipaksakan seperti itu justru menjadi
> semacam “jebakan batman” (untuk tidak mengatakan jebakan kampret) para
> pemujanya terhadap Prabowo. Prabowo bukan hanya akan menjadi salah tingkah,
> akan tetapi juga sangat berpotensi untuk dipermalukan di depan publik.
>
> Dan, ironisnya, itulah yang tengah terjadi saat ini! Prabowo, yang
> telanjur secara ceroboh digambarkan sebagai tokoh yang akan bisa
> memperjuangkan kepentingan umat Islam tersebut, ternyata gagal melakukan
> hal-hal sederhana yang seharusnya dapat dilakukan dengan mudah oleh seorang
> Muslim.
>
> Misalnya saat berpidato dalam acara reuni alumni 212 awal Desember 2018,
> Prabowo salah mengucapkan "Rasulullah Shallaallahu Alaihi Wassalam" menjadi
> “Rasulullah Shallaallahu hulaihi wassalam.” Pada kesempatan lainnya, ia
> juga salah melafalkan "Allah Subhanahu Wa Ta’ala" menjadi “Allah Subhanahu
> watuulo”
>
> Baru-baru ini, Prabowo juga keliru memulai wudhu dengan mendahulukan kaki
> kiri, yang belakangan viral. Belum lagi kekeliruan Prabowo saat menyebut
> jenis salat sunah di hadapan massa pendukungya, di Pilkada di Sumsel, Kamis
> (20/6).
>
> Kesalahan penyebutan jenis salat itu sempat mengundang tawa hadirin.
> Harusnya Prabowo mengajak pendukungnya melakukan salat hajat guna
> memenangkan calon kepala daerah yang didukungnya. Bukan sholat istikharoh..
> Karena salat istikharoh justru dilaksanakan bagi mereka yang masih ragu
> menentukan pilihan.
>
> Dalam konteks ini para pemuja Prabowo telah sukses menjadikan sosok mantan
> Danjen Kopassus era Orde Baru itu sebagai semacam ustaz Jarkoni alias ustaz
> yang hanya bisa berujar tapi tidak bisa melakoni. Bahkan dalam kasus
> Prabowo ini, untuk berujar pun masih belum mampu pula.
>
> Prabowo juga tidak menjawab tantangan untuk menjadi imam salat, seperti
> dicetuskan oleh bekas tim suksesnya, La Nyalla Mattalitti. Menanggapi
> tantangan itu, cawapres Sandiaga Uno justru berkilah bahwa Pilpres bukan
> soal agama, melainkan soal ekonomi. Sementara Partai Gerindra akhirnya juga
> menyerah, dengan mengakui Prabowo bukan ahli agama (CNN Indonesia,
> 13/12/2018)
>
> Pertanyaannya, jika Pilpres bukan masalah agama, mengapa para pemuja
> Prabowo sejak awal memainkan isu agama, seperti memobilisasi fatwa ijtima’
> ulama? Meski tak jelas ulamanya siapa. Karena ijtima’ ulama toh ditolak NU
> dan Muhammadiyah --dua ormas Islam terbesar, yang jika digabung jumlah
> anggotanya bisa separuh lebih warga negeri ini. Mengapa juga mereka
> memanfaatkan ajang reuni 212 yang jelas-jelas bernuansa agama?
>
> Sebagai antiklimaks, setelah merasa tersudut akibat isu agama, akhirnya
> Prabowo melontarkan pengakuan mengejutkan. “Saya nggak bisa jadi imam
> sholat. Saya tahu diri,” kata Prabowo di depan Konferensi Nasional Partai
> Gerindra di Bogor, Jawa Barat, Senin (17/12/2018).
>
> Selang sehari menyusul pernyataan Prabowo, Jokowi yang sering mereka tuduh
> anti Islam, justru menjadi imam salat di Pesantren Darul Ulum, Jombang,
> Jawa Timur, Selasa (18/12/2018). Sebelumnya Jokowi juga sudah sering
> menjadi imam salat di berbagai kesempatan.
>
>
> 
>

Kirim email ke