http://mediaindonesia.com/read/detail/205221-kasihan-pak-prabowo?utm_source=dable


*Kasihan Pak Prabowo*

Penulis: *Jarot Doso, Penulis menyelesaikan S1 dan S2 dengan spesialisasi
politik Islam di Fisipol UGM Yogyakarta. Pernah menjadi wartawan Republika
dan Tempo serta Tenaga Ahli DPR RI. Kini bekerja sebagai tim redaksi Jokowi
App, aplikasi resmi Tim Kampanye Nasional*Pada: Rabu, 19 Des 2018, 13:16
WIB *OPINI* <http://mediaindonesia.com/opini>


[image: Kasihan Pak Prabowo]
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2018/12/0a51a45e6d5d5d8011d101500f34af31.jpg>*NTARA
FOTO/Dhemas Reviyanto*
CALON PRESIDEN NOMER URUT 02 PRABOWO SUBIANTO MENYAMPAIKAN SAMBUTAN SAAT
DEKLARASI DUKUNGAN DARI KOMANDO ULAMA PEMENANGAN PRABOWO-SANDI (KOPPASANDI)
DI JAKARTA, MINGGU (4/11/2018).

TERUS terang saya adalah pendukung Jokowi. Pendukung garis keras mungkin
malahan. Karena tidak hanya tahun ini saja, empat tahun lalu pun saya
terlibat dalam kerja-kerja tim pemenangan nasional Jokowi sebagai calon
presiden. Meski peran saya memang lebih banyak di belakang layar.

Nah, dalam posisi sebagai pendukung Jokowi itu, sebetulnya saya
kadang-kadang menaruh kasihan kepada kompetitor Pak Jokowi, dalam hal ini
kepada Pak Prabowo khususnya. Terutama ketika Prabowo dicitrakan oleh para
pendukungnya secara tidak rasional sebagai sosok pemimpin umat Islam atau
figur yang (seolah-olah) sangat Islami.

Menjadi seseorang yang dicitrakan religius atau taat beragama itu tidak
mudah. Terutama jika dalam kenyataan sehari-harinya yang bersangkutan
justru tidak agamis atau bukan pemeluk agama yang taat. Terlebih tidak pula
memiliki pemahaman atau pengetahuan agama yang cukup.

Pencitraan sebagai sosok agamis yang dipaksakan seperti itu justru menjadi
semacam “jebakan batman” (untuk tidak mengatakan jebakan kampret) para
pemujanya terhadap Prabowo. Prabowo bukan hanya akan menjadi salah tingkah,
akan tetapi juga sangat berpotensi untuk dipermalukan di depan publik.

Dan, ironisnya, itulah yang tengah terjadi saat ini! Prabowo, yang telanjur
secara ceroboh digambarkan sebagai tokoh yang akan bisa memperjuangkan
kepentingan umat Islam tersebut, ternyata gagal melakukan hal-hal sederhana
yang seharusnya dapat dilakukan dengan mudah oleh seorang Muslim.

Misalnya saat berpidato dalam acara reuni alumni 212 awal Desember 2018,
Prabowo salah mengucapkan "Rasulullah Shallaallahu Alaihi Wassalam" menjadi
“Rasulullah Shallaallahu hulaihi wassalam.” Pada kesempatan lainnya, ia
juga salah melafalkan "Allah Subhanahu Wa Ta’ala" menjadi “Allah Subhanahu
watuulo”

Baru-baru ini, Prabowo juga keliru memulai wudhu dengan mendahulukan kaki
kiri, yang belakangan viral. Belum lagi kekeliruan Prabowo saat menyebut
jenis salat sunah di hadapan massa pendukungya, di Pilkada di Sumsel, Kamis
(20/6).

Kesalahan penyebutan jenis salat itu sempat mengundang tawa hadirin.
Harusnya Prabowo mengajak pendukungnya melakukan salat hajat guna
memenangkan calon kepala daerah yang didukungnya. Bukan sholat istikharoh.
Karena salat istikharoh justru dilaksanakan bagi mereka yang masih ragu
menentukan pilihan.

Dalam konteks ini para pemuja Prabowo telah sukses menjadikan sosok mantan
Danjen Kopassus era Orde Baru itu sebagai semacam ustaz Jarkoni alias ustaz
yang hanya bisa berujar tapi tidak bisa melakoni. Bahkan dalam kasus
Prabowo ini, untuk berujar pun masih belum mampu pula.

Prabowo juga tidak menjawab tantangan untuk menjadi imam salat, seperti
dicetuskan oleh bekas tim suksesnya, La Nyalla Mattalitti. Menanggapi
tantangan itu, cawapres Sandiaga Uno justru berkilah bahwa Pilpres bukan
soal agama, melainkan soal ekonomi. Sementara Partai Gerindra akhirnya juga
menyerah, dengan mengakui Prabowo bukan ahli agama (CNN Indonesia,
13/12/2018)

Pertanyaannya, jika Pilpres bukan masalah agama, mengapa para pemuja
Prabowo sejak awal memainkan isu agama, seperti memobilisasi fatwa ijtima’
ulama? Meski tak jelas ulamanya siapa. Karena ijtima’ ulama toh ditolak NU
dan Muhammadiyah --dua ormas Islam terbesar, yang jika digabung jumlah
anggotanya bisa separuh lebih warga negeri ini. Mengapa juga mereka
memanfaatkan ajang reuni 212 yang jelas-jelas bernuansa agama?

Sebagai antiklimaks, setelah merasa tersudut akibat isu agama, akhirnya
Prabowo melontarkan pengakuan mengejutkan. “Saya nggak bisa jadi imam
sholat. Saya tahu diri,” kata Prabowo di depan Konferensi Nasional Partai
Gerindra di Bogor, Jawa Barat, Senin (17/12/2018).

Selang sehari menyusul pernyataan Prabowo, Jokowi yang sering mereka tuduh
anti Islam, justru menjadi imam salat di Pesantren Darul Ulum, Jombang,
Jawa Timur, Selasa (18/12/2018). Sebelumnya Jokowi juga sudah sering
menjadi imam salat di berbagai kesempatan.

Kirim email ke