Jurnal Korupsi
http://jurnal-korupsi.blogspot.com/2018/12/medianusantara-mahasiswa-unesa-juga.html
Mahasiswa Unesa Juga Persoalkan Pembelian Mebel Gedung Kampus Lidah Wetan
Setelah melaporkan pada aparat hukum tentang dugaan korupsi pada pembelian 
mebel untuk gedung kampus Unesa (Universitas Negeri Surabaya) ketintang, 
sebesar Rp. 6 milyar, para mahasiswa Unesa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi 
Mahasiswa Unesa (KAMU) juga mempersoalkan pembelian mebel untuk gedung kampus 
Unesa lidah wetan.
Yang disorot adalah:1. Pengadaan mebelair kampus Unesa lidah wetan (PIU-IDB) 
dengan kode tender 325162 
    senilai Rp. 12,5 milyar 
2. Pengadaan mebelair custom dan interior gedung kampus Unesa lidah wetan 
(PIU-IDB) dengan kode tender 324162 
    senilai Rp. 3,75 milyar 

Arief Winoto, ketua KAMU menyatakan bahwa masa kontrak pekerjaan pembelian 
mebel ini sudah habis, dimana tanggal 15 Desember 2018 seharusnya pengusaha 
yang melaksanakan pekerjaan sudah harus menyelesaikan pekerjaannya. Akan tetapi 
anehnya sekarang sudah tanggal 20 Desember, pekerjaan interior belum tampak 
dimulai, dan mebel belum ada yang dikirim.
"Dengan keadaan seperti ini, bisa saja orang akan menganggap bahwa pembelian 
mebelair dan pengerjaan interior ini adalah proyek fiktif", kata Arief.
"Kalau hal ini diulang2 seperti pembelian mebel di tahun2 sebelumnya, dimana 
mebel baru dikirim pada pertengahan tahun depan, tentunya itu bisa mengganggu 
kegiatan belajar mengajar civitas akademika Unesa", tuturnya.
Selain menyoroti kenapa sampai masa kontrak pekerjaan sudah habis, tapi proses 
pekerjaan pembelian mebelair itu belum jelas juntrungannya, Arief juga 
melaporkan pada aparat hukum tentang adanya aroma persekongkolan pada pembelian 
mebel gedung kampus Unesa tersebut.
"Bisa dilihat, meski mebelair yang dibeli itu barangnya sama persis dan 
pengusaha penyedia mebelair-nya juga orang yang sama, ternyata harga per mebel 
pada pembelian dalam pengadaan yang satu, ternyata harganya bisa jauh lebih 
mahal dibanding pada pembelian dalam pengadaan yang lainnya. Padahal waktu 
pembelian mebel Rp. 6 milyar dan pembelian mebel Rp. 12,5 milyar, cuma selisih 
beberapa hari saja", ungkap Arief. 

"Aneh bukan? Bisa saja orang akan menduga bahwa dalam pembelian2 mebel itu ada 
mark-up harga", pungkasnya

Kirim email ke