http://www.balipost.com/news/2018/12/21/64311/Dulu-Kumuh,Hutan-Ampupu-Kini...html
Dulu Kumuh, Hutan Ampupu Kini
“Instagrammable”
Jumat, 21 Desember 2018 | 09:42:20
Berbagi di Facebook
<https://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2018%2F12%2F21%2F64311%2FDulu-Kumuh%2CHutan-Ampupu-Kini...html>
Tweet di Twitter
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Dulu+Kumuh%2C+Hutan+Ampupu+Kini+%E2%80%9CInstagrammable%E2%80%9D&url=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2018%2F12%2F21%2F64311%2FDulu-Kumuh%2CHutan-Ampupu-Kini...html&via=balipostcom>
*
*
Wisatawan berkunjung ke Hutan Ampupu. (BP/ina)
BANGLI, BALIPOST.com – Tempat wisata baru yang instagrammable banyak
hadir di sejumlah daerah. Salah satunya di Kabupaten Bangli, yakni
Ampupu Kembar. Tempat wisata yang mulai banyak dikunjungi untuk
sekedar berswafoto hingga camping ini, dulunya adalah hutan yang
kumuh dan dipenuhi semak.
Tempat wisata Ampupu Kembar cukup mudah dijangkau. Lokasinya berada di
pinggir jalan utama jurusan Pura Jati menuju Toya Bungkah, Kintamani.
Sesuai namanya, di tempat wisata ini terdapat banyak pohon ampupu (kayu
putih) yang tumbuh saling berhadapan. Sementara di tengahnya membentang
jalan setapak menuju Danau Batur.
Di atas jalan setapak itu menggantung banyak kukusan bamboo yang dicat
berwarna warni. Terdapat juga beberapa spot foto yang indah dan
kekinian, serta beberapa ayunan untuk bersantai.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ampupu Kembar, Jero Gede Kasuma
ditemui belum lama ini menjelaskan, objek wisata Ampupu Kembar ini baru
dibuka pada 3 Desember 2017 silam. Meski tergolong baru, rata-rata
kunjungan wisata terbilang cukup tinggi. Kebanyakan wisatawan lokal.
Saat kemarau, rata-rata kunjungan ke Ampupu Kembar mencapai 30 orang per
hari.
Jumlah kunjungan biasanya meningkat saat akhir pekan dan hari raya. Di
dalam objek wisata ini, terdapat tiga macam atraksi yang ditawarkan,
mulai dari spot untuk berfoto, lokasi memancing, hingga camping ground
di pinggir danau.
Dijelaskan Jero Kasuma, sebelum menjadi tempat rekreasi, mulanya wilayah
itu hanyalah hutan ampupu biasa yang dipenuhi semak. Hutan ampupu yang
lokasinya berada di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur Bukit
Payang milik BKSDA Bali itu juga kumuh karena dipenuhi banyak sampah.
Baca juga: Karya Ngusaba Pura Ulun Danu Batur, Ini Pengalihan Arus Lalinnya
<http://www.balipost.com/news/2017/04/07/4702/Karya-Ngusaba-Pura-Ulun-Danu...html>
Dengan mengajak masyarakat sekitar yang awam dengan pariwisata, dirinya
kemudian mencoba menata hutan itu secara perlahan. Sejalan dengan itu
dibentuklah kelompok sadar wisata (pokdarwis) untuk mengelola
bersama-sama hutan ampupu tersebut menjadi obyek wisata.
Untuk bisa mengelola Hutan Ampupu seluas kurang lebih 21 hektar itu,
Pokdarwis Ampupu Kembar telah mendapat izin dari BKSDA. “Dari BKSDA
tidak ada larangan jika wilayah hutan dikelola, selama tidak merusak
hutan,” katanya didampingi Wakil Ketua Pokdarwis I Wayan Wismargi.
Jero Kasuma mengungkapkan sejak berjalan selama setahun terakhir,
masyarakat yang tergabung sebagai anggota Pokdarwis mulai mengalami
perubahan dalam memandang keelestarian hutan. Mereka yang sebagian besar
bekerja sebagai petani dan penggali batu, kini sudah mulai sadar
pentingnya menjaga kebersihan lingkungan hutan. “Ide awal pengembangan
ini sebenarnya kita angkat untuk pemberdayaan. Supaya masyarakat tahu
tentang pariwisata, tidak hanya jadi penonton saja,” kata Jero Kasuma.
Untuk menarik semakin banyak wisatawan, Jero Kasuma mengatakan pihaknya
akan melakukan pengembangan dan penambahan fasilitas. Rencananya
pihaknya akan membuat homestay, panggung budaya, kantin, dan
memperbanyak spot foto.
Dikatakan Jero Kasuma, untuk menikmati wisata di Ampupu Kembar,
pengunjung hanya dikenakan tiket Rp 10 ribu per orang. Dari tiket yang
dikenakan itu, Rp 5 ribunya disetor ke BKSDA dan sisanya dikelola
Pokdarwis untuk pengembangan obyek wisata tersebut.
Sementara itu, salah seorang pengunjung asal Jerman, Sven Nikel mengaku
senang berkunjung ke Ampupu Kembar karena suasananya natural. Dirinya
yang datang bersama istri dan dua orang anaknya sangat menikmati udara
di areal Ampupu Kembar yang menurutnya sangat segar. (Dayu
Swasrina/balipost)