http://mediaindonesia.com/read/detail/205441-drama-king-sby
/*Drama King SBY*/
Penulis: *Karna Brata Lesmana, Caleg DPR RI Partai NasDem No.Urut 5
Dapil DKI 3 Jakarta Barat, Jakarta Utara, Kepulauan Seribu* Pada: Kamis,
20 Des 2018, 11:01 WIB Opini <http://mediaindonesia.com/opini>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/205441-drama-king-sby>
<http://twitter.com/home/?status=Drama King SBY
http://mediaindonesia.com/read/detail/205441-drama-king-sby via
@mediaindonesia>
Drama King SBY
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2018/12/3f386a07f3540d47096422137cb1a83a.jpg>
/ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid/
BEBERAPA hari ini ramai soal kardus dan spanduk. Kardusnya sudah saya
bahas dalam tulisan sebelumnya, sekarang tentang spanduk. SBY saat
kunjunganya ke Pekanbaru menangis, ternyata karena spanduk Partai
Demokrat dirusak orang. Dengan penuh haru, di depan media, dia
mengangkat spanduk tersebut dan berkata "Saya Bukan Pesaing Bapak Jokowi."
Berdasarkan statement yang dikeluarkanya, SBY sudah melakukan suatu
tuduhan serius kepada orang lain secara tersirat. Dalam hal ini seakan
dimaknai, pengerusakan ini dihubungkan dengan jokowi. /Irrelevant/.
Setelahnya, SBY memerintahkan kepada seluruh kader untuk mencabut semua
spanduk Partai Demokrat. Arahan tersebut menjadi satu kebijakan yang
baper yang tidak seharusnya. Kebijakan ini justru menjadi tidak
menghargai kerja keras dari para kader di lapangan.
Lagipula kalau memang mau menurunkan semua spanduknya, tidak perlu
memanggil media ramai-ramai. Cukup beri instruksi senyap dan selesai,
bendera turun semua. Rakyat sudah pintar, tidak bisa dibodohi lagi,
tidak perlu /playing victim/.
Menjadi lucu, masalah spanduk dibesar-besarkan. Berapa banyak spanduk
caleg tingkat kota kabupaten yang diangkut satpol PP atau dirusak rival,
tapi tidak dibesar-besarkan. Mereka yang bukan elite parpol saja bisa
tidak gaduh. Elite rasa /grassroot/.
Kalau kita mau bandingkan dengan pengerusakan kantor PDIP 1996 lalu,
PDIP yang menanggung kerugian besar atas hancurnya aset mereka tidak
lantas jadi dramatis melankolis seperti SBY yang hanya rusak spanduk
sintetisnya.
Atau jangan-jangan bisa jadi skenario yang terlihat dibuat-buat ini,
berasal dari si korban sendiri? Bukan tidak mungkin modus yang
dilakukan, menyuruh sendiri, merusak sendiri, menangis sendiri,
melaporkan sendiri.
Melihat kejadian yang ada, terlihat SBY sedang memainkan gaya-gaya lama
strategi politiknya. Gaya Caper Drama King.
Hal ini mengingatkan kita pada proses perjalanan politik SBY, hingga
mencengkeram kekuasaan Presiden Indonesia 2 Periode. Periode pertama
kemenangan SBY sebagai Presiden RI, dibumbui aroma pengkhianatan SBY
pada Megawati.
Beberapa bulan sebelum Pemilihan Presiden, SBY ditanya oleh Megawati,
apakah dia akan maju dalam pemilihan Presiden? SBY menjawab tidak. Dan
kenyataanya, SBY maju, jujurkah sikap seperti ini?
Masyarakat mungkin tidak banyak tahu, namun itulah faktanya. Sikap tidak
kesatria ditunjukan oleh SBY kepada orang yang telah memberikan
kepercayaan penuh kepadanya. Pada akhir masa Presiden Gusdur, SBY di
pecat sebagai menteri, lalu di era Megawati, SBY diangkat kembali
sebagai Menko Polkam.
Mendekati Pilpres 2004, SBY kembali melakukan strategi kutu loncatnya,
dengan mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam. Alasan kemunduranya,
karena dia merasa kewenanganya diambil alih presiden.
Seperti menusuk dari belakang, sikap SBY tidak beretika dengan
menjatuhkan orang yang telah berbaik hati mengangkat kembali derajatnya.
Demi popularitas, dengan caper-nya SBY mencari simpati publik melalui
pembunuhan karakter Megawati.
SBY mungkin tidak buat hoaks, tapi drama. Dramanya dulu pernah membuat
terkesima rakyat Indonesia, yang menang dia, yang jadi korban, Ibu Mega,
seakan beliau yang jadi antagonisnya. Kasihan Ibu Mega, sampai almarhum
Bapak Taufik Keimas juga tersudut di masa itu.
Yang mungkin tidak banyak diketahui lagi, satu setengah tahun SBY
menjadi Menko Polkam, ia sudah menyiapkan berdirinya Partai Demokrat
secara diam-diam. 14 tahun berlalu sejak masa itu, gaya kotor yang sama
ingin dimainkan kembali.
Dua periode SBY menjadi presiden seharusnya sudah menjadi waktu yang
cukup baginya untuk belajar lebih bijak. Hari ini, ia seharusnya
mengambil peran sebagai seorang bapak negara. Tugasnya sudah paripurna.
Ia harus memberi kesempatan kepada orang lain sebagai regenerasi
kepemimpianan bangsa.
Yang jadi masalah, karena adanya ambisi dinasti yang ingin dipertahankan
dalam mengelola negeri ini. SBY rela tampil kembali di panggung drama
demi mengangkat partainya yang kurang bersinar dan buah hatinya yang
gagal dalam Pilgub DKI, nepotisme sistemis. Tentunya, karakter ini
berbeda dengan Presiden Jokowi yang tidak melibatkan keluarga dalam
urusan politik.
SBY masih harus banyak belajar. Seharusnya Presiden yang sudah menjabat
2 periode tidak perlu lagi menjadi ketua umum partai. Pertanda stagnansi
kaderisasi institusi. Sudahlah pak, beristirahatlah kembali menjadi
Bapak Bangsa, seperti Presiden Habibie, Presiden Megawati dan atau
tirulah Obama, yang sedang berlibur dengan tenang dari kehidupan negara.
Stop Drama. Mari Bekerja Membangun Bangsa.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/205441-drama-king-sby>
<http://twitter.com/home/?status=Drama King SBY
http://mediaindonesia.com/read/detail/205441-drama-king-sby via
@mediaindonesia>