Di Tiongkok, Kecoak pun Menjadi Bisnis Raksasa! 
http://www.lampost.co/berita-di-tiongkok-kecoak-pun-menjadi-bisnis-raksasa.html 
 H. Bambang Eka Wijaya  23 Dec 2018 - 6:05  144
 http://www.lampost.co/upload/di-tiongkok-kecoak-pun-menjadi-bisnis-raksasa.jpg
H. Bambang Eka Wijaya. (Foto:Dok. Lampost.co) 
http://www.lampost.co/upload/di-tiongkok-kecoak-pun-menjadi-bisnis-raksasa.jpg
 SERANGGA kecil yang menjijikkan bagi banyak orang, kecoak alias lipas bin 
coro, di Tiongkok dibudidayakan dan perusahaan peternakannya menjadi bisnis 
raksasa dengan nilai penjualan setahun mencapai 4,3 miliar yuan atau 684 juta 
dolar AS, setara Rp9,918 triliun (kurs Rp14.500/dolar AS).
 Kevin Enoch dari VOA dikutip Medcom (15/12/2018) melaporkan, perusahaan itu 
menjual hasil olahan ekstrak hewan kaya gizi, terutama protein, dalam berbagai 
bentuk makanan dan minuman. Seperti minuman botolan tonik kesehatan mandarin 
yang disebut sebagai sari kecoak.

 

 Aslinya dahulu kala, ini merupakan sejenis obat tradisional Tionghoa yang 
sudah dikenal sejak ribuan tahun untuk penyakit tukak lambung dan luka pada 
kulit. Sekarang, dengan penduduk Tiongkok 1,3 miliar jiwa, peran kecoak sebagai 
bahan pengobatan juga berkembang.
 Menurut sebuah laporan resmi instansi pemerintah, lebih dari 40 juta pasien 
respiratory gastric sembuh dengan pengobatan ini lewat resep dokter. Peternakan 
itu melayani lebih dari 4.000 rumah sakit di seantero Tiongkok.
 Makanan utama kecoak yang jumlahnya lebih besar dari umat manusia di muka bumi 
itu adalah sampah dapur. Pengelolaan dalam ruang peternakan yang besar itu 
dilakukan oleh artifisial intelligent (AI), dari pembiakan hingga pengaturan 
koloni-koloni penggemukan maupun pemanenan kecoak dewasa.
 Stephen Chen di South China Morning Post melaporkan peternakan itu 
dioperasikan oleh Gooddoctor Pharmaceutical Group di Chengdu, Sichuan. 
Peternakan kecoak itu sebesar stadion sepak bola yang besar dengan 
keseluruhannya tertutup rapat, bahkan lebih rapat dari penjara sehingga tak 
seekor kecoak pun bisa lolos keluar.
 Setiap pengunjung harus berganti pakaian dengan mengenakan pakaian steril 
untuk mencegah polutan dan patogen. Sangat sedikit manusia yang bekerja dalam 
peternakan tersebut. Di semua balai, lantai dan dinding penuh kecoak.
 Zhu Chaodong, guru besar pemimpin studi evolusi serangga Institute of 
Zoology's pada Academy of Sciences, Beijing, mengatakan akan menjadi bencana 
besar bila miliaran kecoak itu tiba-tiba terlepas ke lingkungan  
masyarakat—baik itu akibat kesalahan manusia maupun akibat bencana alam, 
seperti gempa bumi yang merusak bangunan peternakan.
 
 Fasilitas itu di Xichang, kota dengan 800 ribu penduduk, jika suatu kecelakaan 
terjadi bisa amat mengerikan, ujar Zu. Berlapis pengaman harus disiapkan dan 
dijamin bekerja sempurna guna mencegah bencana bebasnya kecoak. ***

Kirim email ke