https://tirto.id/manuver-ginandjar-kartasasmita-yang-mempercepat-lengsernya-soeharto-cKMU
20 Mei 1998
Manuver Ginandjar Kartasasmita yang
Mempercepat Lengsernya Soeharto
Ilustrasi pernyataan mundurnya Soeharto. tirto/Sabit
<https://tirto.id/manuver-ginandjar-kartasasmita-yang-mempercepat-lengsernya-soeharto-cKMU>
Ilustrasi pernyataan mundurnya Soeharto. tirto/Sabit
Oleh: Husein Abdulsalam - 20 Mei 2018
Dibaca Normal 4 menit
/Melemah kaki.
Para kroni berlari
di ujung henti./
tirto.id <https://tirto.id/> - Siang hari, 20 Mei 1998, tepat hari ini
20 tahun lalu, Haryanto Dhanutirto pergi naik mobil dengan buru-buru ke
kantor Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Menteri Negara
Pangan, Hortikultura, dan Obat-obatan itu tengah memenuhi panggilan
Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin)
Ginandjar Kartasasmita.
"Bapak diminta hadir di Bappenas," ujar ajudan Haryanto beberapa waktu
sebelumnya.
Dalam perjalanan menuju Bappenas, Haryanto melihat tank-tank berbaris di
sekitar rumah duta besar Amerika Serikat. Tank-tank itu juga berjajar di
bundaran depan Taman Surapati, persis di depan kantor Bappenas.
"Saya langsung belok kanan dan masuk kantor Bappenas," sebut Haryanto
lewat kumpulan kesaksian yang dihimpun dalam buku /Sidang Kabinet
Terakhir Orde Baru/ (2008).
Jakarta kala itu benar-benar mencekam. Dalam sepekan, unjuk rasa
besar-besaran menuntut Soeharto mundur dari jabatannya meningkat, bahkan
berujung ricuh.
Pada 12 Mei 1998, empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas tatkala
ikut melancarkan unjuk rasa. Sepanjang 13-15 Mei 1998, sejumlah gedung
dan pusat perbelanjaan di Jakarta dijarah dan dibakar. Dalam kerusuhan
itu, masyarakat keturunan Tionghoa menjadi sasaran. Mereka dibunuh dan
banyak perempuan yang diperkosa. Pelbagai kerusuhan juga melanda
beberapa kota besar seperti Surakarta, Bandung, dan Palembang.
Baca juga:
* Misteri Penembakan Mahasiswa Trisakti 12 Mei 1998
<https://tirto.id/misteri-penembakan-mahasiswa-trisakti-12-mei-1998-cKaw>
* Api Membakar Jakarta Jelang Soeharto Lengser
<https://tirto.id/api-membakar-jakarta-jelang-soeharto-lengser-cKjX>
Lalu, pada 18 Mei 1998, ribuan mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR.
Mereka menuntut reformasi dan mendesak Soeharto untuk menyampaikan
pertanggungjawaban dan mengundurkan diri dari jabatan presiden yang
telah dipegangnya selama 32 tahun.
Pada hari yang sama, pimpinan DPR menandatangani pernyataan yang pada
pokoknya meminta Soeharto mundur. Lalu, pada 19 Mei 1998, giliran 9
pemuka agama Islam yang dipandang kritis terhadap pemerintahan Orde
Baru, yakni Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Achmad Bagdja, Ma'ruf
Amin, Malik Fajar, Ali Yafie, Sumarsono, Cholil Baidowi, dan Emha Ainun
Najib, meminta Soeharto mundur. Pernyataan itu disampaikan langsung
kepada Soeharto di Istana Merdeka.
Saat situasi keuangan negara tak lagi kondusif, DPR tak lagi
mendukungnya, dan berbagai kelompok mendesaknya mundur, apa yang
dikehendaki Soeharto?
Dia ingin tetap menjadi presiden. Dia berdalih akan mengocok ulang
komposisi kabinetnya (/reshuffle/) dan membentuk Komite Reformasi.
Baca juga: Diminta Para Ulama untuk Mundur, Soeharto Bergeming
<https://tirto.id/diminta-para-ulama-untuk-mundur-soeharto-bergeming-cKKp>
Manuver Ginandjar
Di Bappenas, Haryanto tidak sendiri. Ada sejumlah menteri lain, terutama
yang mengurusi persoalan ekonomi, hadir atas panggilan Ginandjar.
Dalam /Managing Indonesia's Transformation: An Oral History/ (2013),
Ginandjar menulis pertemuan para menteri itu dia buat setelah sejumlah
menteri, pelaku bisnis, dan jurnalis mengunjungi rumahnya pada 20 Mei
1998 pagi. Dalam kunjungan itu, Akbar Tanjung, Kuntoro Mangkusubroto,
A.M. Hendropriyono, Arifin Panigoro, Zainal Arifin, Uni Lubis, dan Iwan
Qodar hadir menyampaikan betapa rentannya situasi politik Indonesia.
"Momok tragedi Tiananmen sayup-sayup terselip dalam pembicaraan kami.
Lalu, saya memutuskan membuat pertemuan para menteri yang mengurusi
ekonomi pada siang hari," sebut Ginandjar. Tiananmen merujuk di Republik
Rakyat Tiongkok (RRT) pada 1989. Saat itu sekitar 10 ribu orang tewas
<https://www.independent.co.uk/news/world/asia/tiananmen-square-massacre-death-toll-secret-cable-british-ambassador-1989-alan-donald-a8126461.html>
dalam demonstrasi menentang pemerintah komunis RRT.
Baca juga: Asa Demokrasi Cina yang Lumat di Lapangan Tiananmen
<https://tirto.id/asa-demokrasi-cina-yang-lumat-di-lapangan-tiananmen-cHFP>
Semua menteri yang mengurusi ekonomi hadir memenuhi panggilan Ginandjar.
Hanya ada tiga menteri yang tidak bisa hadir, yakni Menteri Lingkungan
Hidup Juwono Sudarsono, Menteri Industri dan Perdagangan Bob Hasan, dan
Menteri Keuangan (Menkeu) Fuad Bawazier. Karena ketiadaan Menkeu,
Ginandjar mengikutsertakan Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin.
Ginandjar membuka pertemuan di Bappenas, lagi-lagi, dengan membicarakan
situasi ekonomi terkini di Indonesia. Para menteri melaporkan situasi
yang dihadapi lembaganya.
Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin menyampaikan Bank Indonesia (BI)
sudah tutup selama dua hari karena gedungnya tidak bisa diakses para
pegawai. Syahril berspekulasi, andai BI terus mandek dalam seminggu,
perekonomian Indonesia bakal kolaps.
Kepada Haryanto, Ginandjar juga menanyakan soal pasokan pangan. "Pak
Haryanto selaku menteri pangan, kalau dalam keadaan begini, ada blokade
di mana-mana, kapan persediaan makanan akan habis?" tanya Ginandjar.
Haryanto menjawab, "Dua minggu persediaan makanan di Jakarta akan habis
kalau tidak ada suplai."
Kemudian, Ginandjar berbicara soal /reshuffle/ kabinet yang dicanangkan
Soeharto. Laki-laki kelahiran 9 April 1941 itu menyatakan bakal menolak
seandainya Soeharto mengajaknya bergabung dalam kabinet tersebut.
"Mengapa? Karena itu tidak akan mengatasi masalah. Sebaliknya, itu malah
memperkeruh suasana," sebut Ginandjar.
Sejurus kemudian, masing-masing menteri menyatakan hal serupa. Haryanto
adalah salah satunya. Guru besar sekolah farmasi ITB itu menyatakan ada
kemungkinan dirinya tidak akan dipilih sebagai menteri dalam kabinet
hasil /reshuffle/.
"Ya bersedia saja. Pokoknya, siapa yang bersedia, itu tidak akan
kembali. Pak Ginandjar bilang kalau dari menteri-menteri ini tidak ada
yang memberikan pernyataan, ya sudah kami para menko akan membuat
pernyataan sendiri," ujar Haryanto.
Secara keseluruhan, ada empat belas menteri yang dalam pertemuan di
Bappenas itu menolak bergabung dengan Kabinet Reformasi bentukan
Soeharto. Selain Ginandjar dan Haryanto, mereka merupakan anggota Golkar
seperti Akbar Tanjung (Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Pemukiman)
dan Theo L. Sambuaga (Menteri Tenaga Kerja), golongan militer seperti
A.M. Hendropriyono (Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan),
atau teknokrat semacam Tanri Abeng (Menteri Negara Pendayagunaan BUMN),
Giri Suseno Hadihardjono (Menteri Perhubungan), dan Kuntoro
Mangkusubroto (Menteri Pertambangan dan Energi).
Sedangkan enam menteri lainnya adalah Justika S. Baharsjah (Menteri
Pertanian), Rachmadi Bambang Sumadhijo (Menteri Pekerjaan Umum), Rahardi
Ramelan (Menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala BPPT), Subiakto
Tjakrawedaya (Menteri Koperasi dan Pengusaha Kecil), Sanyoto
Sastrowardoyo (Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM), dan Sumahadi
(Menteri Kehutanan dan Perkebunan).
Namun demikian, tidak semua hadirin dalam pertemuan tersebut menyetujui
sikap Ginandjar dan para menteri yang baru dilantik 16 Maret 1998 itu.
Syahril menyatakan jabatannya non-politis sehingga tidak berkenan
menyatakan sikap. Sedangkan Ary Mardjono (Menteri Negara Agraria/Kepala
BPN) mengatakan tetap loyal kepada Soeharto.
"Dia (Ary Mardjono) diketahui dekat dengan Mbak Tutut, anak sulung
Presiden Soeharto. Ary Mardjono tidak berkata apapun saat diskusi.
Tanggapan yang dia berikan selama rapat hanya meminta diperbolehkan
untuk tidak menandatangani surat pernyataan. Saya menghormati posisi
keduanya dan begitu kata saya kepada mereka," ujar Ginandjar menilai
posisi Syahril dan Ary.
Setelah kesepakatan diambil, empat belas menteri itu memutuskan untuk
menyampaikan pernyataan sikapnya melalui surat kepada Soeharto. Akbar
Tanjung memimpin penyusunan surat pernyataan tersebut.
Pernyataan yang Mengguncang Soeharto
/Dengan hormat,/
/Bersama surat ini dengan hormat kami laporkan bahwa setelah melakukan
evaluasi terhadap situasi akhir-akhir ini terutama di bidang ekonomi,
kami berkesimpulan bahwa situasi ekonomi kita tidak akan mampu bertahan
lebih dari 1 (satu) minggu apabila tidak diambil langkah-langkah politik
yang cepat dan tepat sesuai dengan aspirasi yang hidup dan berkembang di
tengah-tengah masyarakat khususnya mengenai reformasi di segala bidang,
seperti antara lain yang direkomendasi oleh DPR-RI dengan pimpinan
fraksi-fraksi pada hari selasa, 19 Mei 1998./
/Dalam hubungan itu kami bersepakat bahwa langkah pembentukan kabinet
baru sebagaimana yang Bapak rencanakan tidak akan menyelesaikan masalah.
Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati kami secara
pribadi-pribadi menyatakan tidak bersedia diikutsertakan dalam kabinet
baru tersebut./
/Sebagai anggota Kabinet Pembangunan VII kami akan tetap membantu
sepenuhnya pelaksanaan tugas yang Bapak emban dalam menyukseskan Catur
krida Kabinet Pembangunan VII. Atas perhatian dan perkenan Bapak kami
ucapkan terima kasih./
Infografik Mozaik 14 Menteri Mengundurkan Diri
Begitu surat pernyataan plus tanda tangan 14 menteri Kabinet Pembangunan
VII yang dihasilkan dari pertemuan di Bappenas. Surat itu kemudian
diantar salah satu kepala biro Ginandjar, Inugroho, kepada ajudan
Soeharto, Teddy Sumarno.
Selepas mengirim surat, Ginandjar menelepon Ketua DPR Harmoko dan
Panglima ABRI Wiranto.
Wiranto menyatakan tidak sanggup menyampaikan pernyataan menteri-menteri
ekonomi itu. Dia menyarankan Ginandjar untuk menghubungi Mbak Tutut yang
saat itu menjabat sebagai Menteri Sosial. Ginandjar pun melakukannya.
"Kang, apa tidak ada jalan lain?" balas Tutut kepada Ginandjar.
"Baik, saya mohon maaf, ini keputusan bersama menteri-menteri ekonomi.
Tapi ini mungkin yang terbaik untuk Bapak (Soeharto)," sambut Ginandjar.
Setelah Tutut, Ginandjar menelepon Widjojo Nitisastro, ekonom yang amat
dihormatinya. Lalu, giliran Wakil Presiden B.J. Habibie dan mantan
wapres Sudharmono dihubungi Ginandjar.
"Beliau (Soedharmono) marah sambil membanting telepon. Dianggapnya saya
tidak loyal," kata Ginandjar.
Soedharmono, bersama dua mantan wapres lainnya, Umar Wirahadukusumah dan
Try Sutrisno, memang baru saja bertemu Soeharto pada 20 Mei 1998 pagi,
sebelum pertemuan Ginandjar dan para menteri di Bappenas.
"Barangkali untuk mendiskusikan situasi dan strategi pilihannya," sebut
Robert Edward Elson dalam /Soeharto: A Political Biography/ (2017).
Pada pagi itu pula, presiden Soeharto melalui Menteri Sekretaris Negara
(Mensesneg) Saadilah Mursyid mengumumkan 45 nama anggota Komite
Reformasi. Daftar calon canggota berisi nama-nama mentereng dari pihak
oposisi seperti Amien Rais, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri,
dan Nurcholish Madjid (Cak Nur).
Gong Terakhir Penanda Lengsernya Soeharto
Hingga sore hari, sebagian besar tokoh yang terdaftar menolak masuk
Komite Reformasi. Mengutip Adi Suryadi Culla, A. Malik Haramain
mengatakan dalam /Gus Dur, Militer, dan Politik/ (2004) bahwa pada pukul
8 malam 20 Mei 1998, Soeharto masih menginginkan Cak Nur menjadi ketua
Komite Reformasi. Namun, Cak Nur menolak tawaran itu.
"Kalau Cak Nur yang moderat saja menolak, maka tak ada pilihan lain
kecuali saya mundur," ujar Soeharto.
Pada pukul 8 malam 20 Mei 1998 itu pula, surat pernyataan 14 menteri
sampai di tangan Soeharto. Elson menyatakan Soeharto kaget membaca surat
pernyataan itu.
/
/Dalam/Indonesian Politics in Crisis: The Long Fall of Soeharto,
1996-1998/ (1999), Stefan Eklöf menyebutkan pernyataan empat belas
menteri dan kegagalan membentuk Komite Reformasi membuat Soeharto tidak
punya banyak pilihan selain mengundurkan diri.
"Bagi presiden, tidak bisa menghadirkan salah satu dari itu berarti
kehilangan muka," sebut Eklöf (hlm. 201)
Dan, keesokan harinya, terjadilah salah satu peristiwa paling penting
dalam sejarah Indonesia: Soeharto, tiran yang telah berkuasa selama 32
tahun itu, menyatakan berhenti dari jabatan presiden.
Baca juga artikel terkait REFORMASI 1998
<https://tirto.id/q/reformasi-1998-hMU?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
<https://tirto.id/author/huseinabdulsalam?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
14 menteri yang menolak gabung kabinet baru mendorong keputusan Soeharto
untuk segera lengser.