https://tirto.id/mengenang-kemanusiaan-gus-dur-yang-melampaui-kita-dcs8
Mengenang Kemanusiaan Gus Dur
yang Melampaui Kita
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan (kedua
kanan), Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (kedua kiri), Ulama KH
Maimun Zubair (ketiga kanan) dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo
(kedua kanan) hadir dalam Haul Gus Dur ke-9 di kediaman Gus Dur di Jalan
Warung Sila, Ciganjur, Jakarta, Jumat (21/12/2018). ANTARA FOTO/Galih
Pradipta
<https://tirto.id/mengenang-kemanusiaan-gus-dur-yang-melampaui-kita-dcs8>
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar
Panjaitan (kedua kanan), Menteri Agama Lukman Hakim
Saifuddin (kedua kiri), Ulama KH Maimun Zubair (ketiga
kanan) dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kedua kanan)
hadir dalam Haul Gus Dur ke-9 di kediaman Gus Dur di Jalan
Warung Sila, Ciganjur, Jakarta, Jumat (21/12/2018). ANTARA
FOTO/Galih Pradipta
Oleh: Haris Prabowo - 22 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
/Haul Gus Dur kesembilan diikuti oleh para pejabat negara hingga rakyat
biasa. Di mata mereka sosok Gus Dur punya cerita tersendiri./
tirto.id <https://tirto.id/> - Zainuddin, 55 tahun, malam itu terbenam
dalam doa yang ia ucapkan dengan khusyuk. Kedua telapak tangannya dibuka
seperti menadah sesuatu dari atas. Ia mengikuti lantunan tahlil dan
istighotsah yang dipimpin oleh KH. Thobary Syadzili.
Perawakannya sederhana: kemeja betik coklat yang terlihat sedikit kotor,
celana panjang sampai di atas mata kaki, mengenakan sendal jepit, dan
membawa kantong kresek berisi sesuatu yang ia sempilkan di ketiak
sembari berdoa.
Tubuhnya bersandar di kiri badan mobil Avanza berwarna putih. Zainuddin
berada di parkiran mobil yang sekaligus menjadi tempat pasar malam kecil
dan layar tancap menyaksikan acara Haul Gus Dur ke-9, di Ciganjur,
Jakarta Selatan.
Zainuddin adalah satu dari sekian ratus orang yang tak bisa masuk ke
arena pelataran rumah almarhum Gus Dur yang sudah terlanjur pepak oleh
manusia.
Orang-orang itu rela berkumpul dalam sesak demi memperingati acara Haul
Gus Dur yang sudah diselenggarakan sembilan kali. Haul pada Jumat
(21/12/2018) ini mengambil tema "Yang Lebih dari Politik Adalah
Kemanusiaan". Tema ini sengaja dipilih untukmenyebarkan pesan-pesan
humanis dan manusiawi kepada Pemerintah, negara, politisi, dan seluruh
masyarakat.
Baca juga:
* Kisah AHY Saat Dilantik Gus Dur Ketika Lulus Perwira TNI
<https://tirto.id/kisah-ahy-saat-dilantik-gus-dur-ketika-lulus-perwira-tni-dcrm>
Beberapa tokoh publik yang ada di dalam poster Haul Gus Dur kali ini
awalnya KH. Maemun Zubair, Habib Abu Bakar Al-Attas, Mahfud MD, Ebiet G.
Ade, KH. Dzawawi Imron, Tuty Herawati, dan Aristides Katoppo—namun
belakangan yang hadir lebih banyak dari itu.
Namun, di antara orang-orang besar itu Zainuddin tak mau kalah. Pria
asal Jombang ini dari rumahnya di daerah Pasar Senen menuju Ciganjur
menggunakan KRL. Tepat pukul 19.00 WIB ia baru tiba di Ciganjur. Waktu
itu gerbang menuju pelataran sudah ditutup karena padat manusia. Hanya
ketika para pembesar datang saja gerbang itu dibuka. Tentu, Zainuddin
bukan salah satunya.
Ia akhirnya memilih menyaksikan suasana haul lewat layar tancap yang ada
di parkiran mobil sebelah kiri gerbang menuju pelataran. Gus Dur punya
tempat sendiri di hati Zainuddin.Ketika pulang kampung ke Jombang, Jawa
Timur, ia menjadi salah satu jemaah rutindiPondok Pesantren Mambaul
Maarif (PPMM) Denanyar—pondok dimana Gus Dur dilahirkan. Ia juga selalu
berusaha meluangkan waktu menziarahi makam Gus Dur.
"Lebaran kemarin, saya libur seminggu. Tiga hari sebelum pulang ke
Jakarta saya sempatkan ke makam. Biarngalap barokah," kata pegawai di
kantin RSPAD Gatot Subroto ini.
Baca juga:
* Ganjar: Spirit Gus Dur Harus Dihadirkan Lagi, Bukan Caci-Maki
<https://tirto.id/ganjar-spirit-gus-dur-harus-dihadirkan-lagi-bukan-caci-maki-dcrD>
Sepanjang hidupnya Gus Dur dikenal sebagai kyai, esais, kritikus,
politikus, aktivis gerakan sosial, dan pembela HAM. Konsistensinya
membela kelompok minoritas membuat Gus Dur mendapat julukan "bapak-nya
orang-orang Tionghoa dan Papua".
Afiruz Zaki, 27 tahun, juga tak mau melewatkan acara Haul Gus Dur.
Seperti halnya Zainuddin, Zaki hanya bisa mengikuti acara haul dari luar
pelataran rumah almarhum Gus Dur. Baginya hal ini menjadi cerita menarik
dan tantangan tersendiri.
"Kalau kita lancar-lancar saja bisa akses masuk ke dalam, itu lebih
enak, tapi tidak ada cerita uniknya. Lurus-lurus saja. Seperti jalan
tol, enggak ada hambatan. Maka dari itu perlu ada cerita, dateng ke Haul
Gus Dur tapi di sana enggak dapet tempat," kata Zaki.
Satu pesan Gus Dur yang Zaki pegang hingga sekarang adalah menjunjung
kesederhanaan sebagai seorang santri. "Apa adanya, misal cuma
dikasih/space/satu kali satu meter, atau 30 centi kali satu meter, ya
udah berdiri, nikmati saja. Sebagai santri juga, kejar
nilai-nilai/ngalap/ barokah," katanya.
Produk Gus Dur
"Agar menjaga Indonesia tetap waras, orang Indonesia harus menggunakan
produk Gus Dur!"
Guyonan itu diungkapkan Djadi Galajapo saat tampil di malam haul Gus
Dur. "Produk" yang dimaksud adalah nilai-nilai, pemikiran dan tindakan
Gus Dur yang dikenal bernas dan bermanfaat untuk Indonesia.
Pria yang akrab disapa Cak Djadi dikenal sebagai Imam Besar Pelawak
Indonesia. Malam itu, ia mendapat jatah bercerita beberapa hal unik
tentang Indonesia dibalut dengan lelucon.
Selain lontaran-lontaran lelucon, acara haul Gus Dur juga diisi dengan
lantunan salawat dan tahlil mendoakan Gus Dur, nyanyian seorang kawan
dari Ebiet G. Ade, karangan bunga dari banyak pihak, termasuk dari
Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).
Tokoh-tokoh besar yang hadir pun datang dari lintas kalangan, etnis, dan
agama: Agum Gumelar, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menteri Agama
Luqman Hakim Syaifuddin, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD,
Pimpinan SETARA Institute Hendardi, budayawan Sujiwo Tejo, politikus
Partai Demokrat Agus H. Yudhoyono, pendagog Kak Seto, Menko Kemaritiman
Luhut Binsar Pandjaitan, hingga filsuf Franz Magniz Suseno.
Semua bercerita jalan keberagaman yang diperjuangkan dan ditempuh Gus
Dur semasa hidupnya.
Di arena pasar malam, berbagai lapak jualan bisa ditemukan. Mulai dari
makan dan minum, hingga juga kaos, buku, sorban, dan aksesoris berbau
Gus Dur.
Di beberapa titik, ditemukan gerobak kopi keliling (koling)
dengantagline"Ngopi Aja Kok Repot". Ungkapan tersebut tentu menyitir
omongan Gus Dur yang paling kelakar dan paling menohok: "Gitu Aja Kok
Repot."
Dayu Pratama, 26 tahun, yang merupakan penggerak gerobak kopi tersebut,
hadirnya /tagline/ tersebut memang dimaksud sebagai kampanye kreatif
untuk mengenang kehidupan Gus Dur yang dikenal sebagai sosok santai dan
tidak reaksioner terhadap berbagai hal.
"Gus Dur itu semacam bapaknya orang Islam Indonesia. Saya sudah ikuti
Gus Dur sudah lama, dari beberapa buku beliau, beliau visioner banget.
Dia juga enggak reaktif saat dikomentari banyak hal, kalau masih inget
betul bahwa dia sangat ditentang banyak orang, tapi setelah beliau
meninggal malah dirindukan," kata Dayu.
Baca juga:
* Sentil Soal Pilpres, Mahfud MD Ingatkan Lagi Demokrasi Ala Gus Dur
<https://tirto.id/sentil-soal-pilpres-mahfud-md-ingatkan-lagi-demokrasi-ala-gus-dur-dcqK>
Dayu mengatakan ia sebenarnya menyediakan sembilan gerobak koling dalam
rangka haul Gus Dur kesembilan. Namun karena keterbatasan tempat,
akhirnya hanya empat yang digunakan.
"Saya non-Muslim, jadi Gus Dur adalah sosok yang kalau di kita itu di
atasnya Romo, dia itu kaya Alexandre de Rhodes, dia itu kaya ngerangkul
semua orang dan pihak dengan sesuatu yang simpel dan apa adanya," kata Dayu.
Salah satu putri Gus Dur, Alissa Wahid, menilai masyarakat kecil, yang
biasanya terpinggirkan dalam pusaran politik elektoral, memang banyak
yang merasa kehilangan sosok Gus Dur.
"Mereka kehilangan sosok Gus Dur yang memanusiakan manusia. Rakyat kecil
mencintai Gus Dur karena mereka merasakan betul bahwa Gus Dur hadir
untuk mereka, tidak berjarak dan apa yang dilakukan itu tulus untuk
mereka," kata Alissa saat ditemui wartawan/Tirto/, selepas Haul Gus Dur
berakhir, Sabtu (22/12/2018) dini hari.
Bagi sebagian orang pemikiran dan tindakan Gus Dur yang lebih
mengedepankan kemanusiaan—dengan posisinya sebagai orang nomor satu di
Indonesia—memang sulit dipahami. Ia misalnya mengubah nama Irian Jaya
menjadi Papua, paham penderitaan masyarakat Timor Timur, menaikkan
harkat martabat etnis Tionghoa, hingga meminta maaf kepada korban
pembantaian 1965—hal-hal yang, mungkin, sulit untuk dilakukan Presiden lain.
"Itu barangkali itikad yang sangat jernih terlihat, bahwa Gus Dur itu
tidak pernah melakukan sesuatu untuk kepentingan sendiri tapi untuk
masyarakat. Bisa jadi banyak yang tak setuju dengan cara-cara Gus Dur,
tapi siapa yang bisa menyangkal cinta Gus Dur kepada masyarakat kecil,"
kata Alissa.
"Gus Dur ke makam Santa Cruz, meminta maaf karena banyaknya pertumpahan
darah yang terjadi di sana. Kita mungkin kesal karena Timor Timur lepas
dari Indonesia. Tapi dia telah melampaui kita."
Baca juga artikel terkait HAUL GUS DUR
<https://tirto.id/q/haul-gus-dur-gfm?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
<https://tirto.id/author/harisprabowo?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Jay Akbar
"Gus Dur semacam bapaknya orang Indonesia."