Begini Isi Pesan Natal PGI dan KWI Tahun 2018 
http://manado.tribunnews.com/2018/12/07/begini-isi-pesan-natal-pgi-dan-kwi-tahun-2018?page=all
 Jumat, 7 Desember 2018 12:43
 
 

 
 
 Kolase Tribun Manado/Mirivicanews/Wikipedia
 
 Logo PGI dan Logo KWI 
 

 Begini Isi Pesan Natal PGI http://manado.tribunnews.com/tag/pgi dan KWI 
http://manado.tribunnews.com/tag/kwi Tahun 2018
 TRIBUNMANADO.CO.ID - Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan 
Konferenesi Waligereja Indonesia (KWI) mengeluarkan Pesan Natal Bersama tahun 
2018.
 

 Pesan yang dikeluarkan 14 November 2018 dan ditampilkan di situs resmi PGI 
http://manado.tribunnews.com/tag/pgi maupun KWI 
http://manado.tribunnews.com/tag/kwi itu ditandatangani Pimpinan PGI 
http://manado.tribunnews.com/tag/pgi dan KWI 
http://manado.tribunnews.com/tag/kwi.
 

 Berikut isi pesan tersebut:
 

 YESUS KRISTUS HIKMAT BAGI KITA
 

 Saudara-saudari terkasih,
 

 Setiap kali merayakan Natal, kita bersukacita atas kelahiran Yesus. Peristiwa 
ini sungguh menyatakan betapa besar kasih Allah kepada kita: “sehingga Ia telah 
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya 
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh yang kekal” (Yoh 3: 16). 
Kedatangan-Nya disambut baik oleh para gembala, yakni orang-orang kecil yang 
merindukan Juruselamat, maupun oleh orang-orang Majus, yakni kalangan bijak dan 
terhormat yang mencari kebenaran dan keselamatan. Janji Allah akan keselamatan 
terwujud dalam diri Yesus, yakni meskipun Anak Allah telah “merendahkan 
diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:8). 
Melalui kerendahan hati dan pengorbanan diri, Yesus melaksanakan rencana Allah 
untuk menyelamatkan manusia. Begitulah hikmat Allah yang berbeda dengan hikmat 
dunia. Itulah sebabnya Paulus menyebut Yesus sebagai hikmat Allah bagi Kita (I 
Kor 1: 24, 30).
 Sudah lebih dari dua ribu tahun Yesus datang ke dunia, tetapi karya 
keselamatan yang Dia tawarkan kepada umat manusia masih harus terus diwujudkan. 
Banyak orang telah menanggapi undangan Allah ini dalam hidup sehari-hari, di 
antaranya, dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM). Akan tetapi, kita 
masih menjumpai orang yang tidak peduli pada suara hati dan tidak mengindahkan 
hati nurani serta tidak malu terhadap sesamanya dan tidak takut kepada Allah 
hingga berbuat sesuatu yang melanggar hak asasi manusia. Tiada lagi sukacita 
dan gembira ketika manusia diperlakukan tidak adil oleh sesama; saat HAM 
diinjak-injak.
 

 Saudara-saudara terkasih,
 

 Hak asasi manusia adalah hak dasar yang melekat yang dianugerahkan Allah 
kepada setiap orang. Perwujudan HAM secara baik dan benar membuat manusia hidup 
secara manusiawi. Dalam Perjanjian Lama, Allah memanggil para nabi, salah 
satunya, untuk mewujudkan keadilan yang juga berkaitan dengan HAM. Nabi Amos 
mengingatkan bahwa mereka yang menginjak-injak hak asasi orang-orang lemah dan 
miskin tidak akan hidup sejahtera (bdk. Am 5:11-12). Lalu, Amos mengajak 
umatnya: “Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan 
demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu….” (Am 5: 14).
 

 Kita patut bersyukur kepada Allah karena bangsa Indonesia menjunjung tinggi 
HAM. Kita pantas berterima kasih kepada pemerintah yang telah berusaha 
menangani masalah HAM secara serius. Sekalipun demikian, persoalan HAM masih 
terjadi di sejumlah tempat. Pelanggaran HAM berat di masa lalu belum selesai 
secara tuntas. Hak hidup layak di bidang ekonomi, sosial dan budaya yang 
berkaitn dengan keamanan dan kenyamanan hidup masih terganggu di beberapa 
daerah. Kebebasan berbicara dan berujar dikacaukan oleh maraknya ujar kebencian 
dan berita bohong yang kadang disertai kekerasan baik secara fisik maupun 
psikis. Ancaman, pengrusakan dan penutupan rumah ibadah masih terjadi. Izin 
mendirikan rumuh ibadah masih tersendat. Eksploitasi alam berlebihan dan 
transaksi penjualan tanah masih merugikan masyarakat tertentu. Hak ekologis 
untuk menikmati lingkungan yang sehat tidak sepenuhnya dirasakan, terutama oleh 
kalangan masyarakat sederhana, karena pencemaran air, tanah dan udara. Hal-hal 
sedemikian merupakan pelanggaran terhadap HAM dan itu adalah tindakan manusia 
yang hidup menurut hikmat dunia.
 

 Syukur kepada Allah, berkat Yesus Kristus kita dipanggil untuk hidup menurut 
hikmat ilahi. Yesus Kristus itulah hikmat Allah bagi kita. Kristus itulah yang 
mengajarkan kita nilai-nilai Kerajaan Allah serta mengajak kita hidup saling 
mengasihi dan rela berkorban demi terciptanya kesejanteraan bersama. Yesus 
menunjukan hikmatnya, melalui pewartaan Injil dan tindakan belaskasihan untuk 
menguduskan dan menebus kita. Paulus merumuskannya dengan bagus: “Tetapi oleh 
Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi 
kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor 1:30).
 

 Kita diajak untuk menyadari panggilan sebagai pribadi berkhitmat yang dipilih 
untuk melayani bukan untuk dilayani. Prilaku pemimpin yang koruptif telah 
merusak kesadaran moral masyarakat, seolah jalan pintas yang tidak pantas 
adalah cara cepat mencapai keberhasilan. Tindakan koruptif sering berhubungan 
dengan pelanggaran HAM. Untuk itu, kita membutuhkan pemimpin dan wakil rakyat 
yang penuh hikmat. Hal ini sejalan dengan sila ke-4 Pancasila: “Kerakyatan yang 
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
 

 Saudara-saudari terkasih,
 

 Natal mengingatkan kita akan hikmat Allah yang terwujudkan dalam diri Yesus. 
Natal bukan semata mengenang kelahiran Yesus sebagai bayi di atas palungan, 
tetapi juga kehidupan Yesus yang penuh hikmat dan dicurahi Roh Kudus. Ia datang 
membawa Tahun Rahmat Tuhan (bdk. Luk 4: 18-19). Kata-katanya tidak menekan, 
tetapi menyejukkan. Nasihatnya tidak meninabobokan, tetapi menegur dan memberi 
jalan. Tegurannya bukan penghujatan, tetapi jalan keselamatan. Ajarannya bukan 
asal menyenangkan, tetapi mengembalikan martabat manusia. Saat ditanya 
murid-murid Yohanes apakah Dia itu Mesias, Yesus menjawab: “Pergilah, dan 
katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta 
melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli 
mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar 
baik” (Luk 7:22).
 

 Marilah kita merayakan Natal bukan hanya dengan nyanyian dan pujian saja, 
tetapi juga dengan upaya konkret untuk hidup dalam hikmat Allah. Kita diajak 
untuk membela hak-hak asasi manusia sebagai ungkapan kewajiban asasi manusia. 
Perayaan kelahiran Yesus, Sang Juruselamat, menjadi saat dan kesempatan untuk 
memahami hakikat HAM secara baik dan benar, menyadari luhurnya martabat manusia 
dan pentingnya gerakan menghormati hak asasi manusia.
 

 Semoga Natal ini sungguh menjadi saat bagi kita untuk bersukacita dan 
bergembira. Yesus, Sang Imanuel dan Hikmat Allah bagi kita, sungguh lahir di 
tengah-tengah kita dan memimpin kita untuk hidup dalam hikmat Allah.
  
 SELAMAT NATAL 2018 DAN TAHUN BARU 2019
  
 Jakarta, 14 November 2018
 

Artikel ini telah tayang di tribunmanado.co.id 
http://manado.tribunnews.com/2018/12/07/begini-isi-pesan-natal-pgi-dan-kwi-tahun-2018?page=all
 dengan judul Begini Isi Pesan Natal PGI dan KWI Tahun 2018, 
http://manado.tribunnews.com/2018/12/07/begini-isi-pesan-natal-pgi-dan-kwi-tahun-2018?page=all
 
http://manado.tribunnews.com/2018/12/07/begini-isi-pesan-natal-pgi-dan-kwi-tahun-2018?page=all.
Penulis: David_Manewus 
Editor: Fernando_Lumowa
 

 

 

 

 

Kirim email ke