Riwayat Rewang Mengumpulkan Sisa-Sisa PKI 1965
Portrait Rewang, mantan tapol PKI yang telah bebas. FOTO/Istimewa
<https://tirto.id/riwayat-rewang-mengumpulkan-sisa-sisa-pki-1965-cAcx>
Portrait Rewang, mantan tapol PKI yang telah bebas.
FOTO/Istimewa
https://tirto.id/riwayat-rewang-mengumpulkan-sisa-sisa-pki-1965-cAcx
Oleh: Petrik Matanasi - 20 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
*/Setelah PKI dibikin babak belur, Rewang dan kawan-kawan bergerilya di
Blitar Selatan dan akhirnya tertangkap./*
tirto.id <https://tirto.id/>- Berbulan-bulan Sri Kayati tak tahu lagi
kabar suaminya. Sampai dia dengar berita dari kawan-kawannya, pada akhir
1967, jika suaminya berada di Surabaya. Perempuan yang pernah jadi
anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Central Gerakan Mahasiswa
Indonesia (CGMI) ini pun memutuskan meninggalkan Jakarta, menuju
Surabaya, mencari suaminya.
Namun, begitu tiba di Surabaya, nasib sial menimpanya. Belum juga
menemukan sang suami, ia digelandang petugas keamanan. Suami Sri Kayati
adalah Rewang, pentolan Partai Komunis Indonesia (PKI).
“Seperti tersangka lain, ia ditangkap tanpa melalui prosedur hukum yang
ada. Ia ditangkap begitu saja tanpa ada surat perintah penangkapan,”
tulis Amurwani Dwi Lestariningsih dalam/Gerwani: Kisah Tapol Wanita di
Kamp Plantungan/(2011).
Saat Sri Kayati ditangkap, para petugas itu bilang: Ia akan dibebaskan
setelah suaminya dapat ditangkap. Belakangan, Sri Kayati menghuni Kamp
Plantungan, tahanan khusus perempuan untuk mereka yang dianggap PKI. Di
situ ia mengaku menyaksikan penganiayaan yang tiada tara kejamnya.
*Baca juga:*
* *Dialita Tak Lagi Bernyanyi Sendiri*
<https://tirto.id/dialita-tak-lagi-bernyanyi-sendiri-bQPk>
** <https://tirto.id/arsip-rahasia-as-soeharto-tahu-pembantaian-65-cyzC>
* *Arsip Rahasia AS: Soeharto Tahu Pembantaian 65
<https://tirto.id/arsip-rahasia-as-soeharto-tahu-pembantaian-65-cyzC>*
*Perlawanan yang Gagal di Blitar Selatan*
Setelah Gerakan 30 September (G30S) 1965 pimpinan Letnan Kolonel Untung
digagalkan, banyak pimpinan PKI ditangkapi dan tercerai-berai. Begitu
juga Rewang, yang berkeliaran di sekitar Blitar Selatan ketika Sri
Kayati ditahan.
Dalam pelariannya itu, menurut catatan Sukri Abdurahman dalam/Malam
Bencana 1965 Dalam Belitan Krisis Nasional: Bagian II Konflik
Lokal/(2012), Rewang yakin “PKI tidak salah” pada peristiwa G30S. Dia
termasuk anggota politbiro PKI yang tidak setuju dengan petualangan
partai dengan sekelompok tentara yang tidak puas dengan atasan mereka.
Rewang dan kawannya, Iskandar Subekti, berada di Surabaya sejak Februari
1967. Sebelum ke Surabaya, bersama Sudisman, Oloan Hutapea, dan Sukatno;
Rewang membangun PKI “gaya baru” dengan sebutan Tripanji PKI pada
September 1966. Dalam PKI “gaya baru” itu, Rewang juga menjadi anggota
Politbiro. Posisi lainnya adalah Ketua Departemen Agitasi Propaganda.
*Baca juga:**Nahasnya Organisasi-organisasi Onderbouw PKI*
<https://tirto.id/nahasnya-organisasi-organisasi-onderbouw-pki-bPED>
Bersama sisa-sisa anggota PKI dan simpatisannya, mereka membangun basis
di Blitar selatan—yang kala itu terisolir. “Tak ada lagi pilihan bagi
mereka selain melawan atau ditangkap hidup-hidup atau mati,” tulis Amurwani.
Di situ Rewang ikut jadi pemimpinnya. Di Blitar selatan, terdapat sungai
bawah tanah yang potensial menjadi lokasi pelarian dan persembunyian
orang-orang komunis yang dikejar aparat tentara. Beberapa tahun pertama
gerilya sisa-sisa komunis tersebut, mereka agak sulit dihantam, karena
lokasi persembunyian yang disediakan alam itu.
Berkat bantuan dari “mantan Dandim Pandeglang, Letnan Kolonel Pratomo,
Rewang dan kawan-kawan, mendapat latihan militer bagi para anggotanya.
Gerakan mereka dengan cepat memperoleh simpati masyarakat sekitar. Sebab
Blitar Selatan merupakan daerah terpencil dengan taraf hidup rakyat yang
sangat minim,” tulis Dasman Djamaluddin dalam/Jenderal TNI Anumerta
Basoeki Rachmat dan Supersemar/(2008).
Sementara dalam/Tahun Yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman
Korban 65: Esai-esai Sejarah Lisan/(2004), Rewang mengatakan, "bahkan
anak sekolah dasar pun membantu memberitahu seandainya ada polisi yang
datang." Menurutnya, "massa di Blitar selatan memberikan perlindungan
tanpa paksaan, karena aktivis PKI tidak membawa [senjata] apa-apa.”
“Selama di Blitar Selatan saya tanpa sabun dan handuk. Pendeknya kita
benar-benar meninggalkan pola hidup kota,” terang Rewang dalam memoar
yang diterbitkan Ultimus,/Saya Seorang Revolusioner/(2017), yang disusun
Joko Waskito. Bagi Rewang, “perlawanan itu dilakukan dalam situasi amat
sulit, ketika sebagian rakyat masih berada dalam ketakutan akibat
pembunuhan massal yang sangat kejam dan biadab.”
infografik rewang
Gerilyawan-gerilyawan komunis yang hendak meniru gerilya Vietkong
melawan Perancis dan Amerika itu tak pernah sukses. Meski wilayahnya
sulit terjangkau, pelan-pelan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
(ABRI) berhasil mematahkan perlawanan gerilyawan-gerilyawan komunis. Di
masa-masa itu, tak hanya sisa PKI di Blitar selatan yang berontak.
Setidaknya, ada juga PGRS/Paraku di Kalimantan.
*Baca juga:*
* *Sayid Komunis yang Diburu Tentara Baret Merah
<https://tirto.id/sayid-komunis-yang-diburu-tentara-baret-merah-chz3>*
* *Mengingat Pulau Buru, Kamp Siberia Rezim Orde Baru*
<https://tirto.id/mengingat-pulau-buru-kamp-siberia-rezim-orde-baru-oRN>
* *Inggris juga Tunggangi G30S untuk Gulingkan Sukarno*
<https://tirto.id/inggris-juga-tunggangi-g30s-untuk-gulingkan-sukarno-cxlc>
Rewang dan kawan-kawannya akhirnya kena gulung operasi militer Trisula
oleh Komando Daerah Militer (Kodam) Brawijaya (Jawa Timur). Menurut
pihak militer dalam/Operasi Trisula Kodam VIII Brawidjaja/(1969),
“Rewang alias Parto alias Karto alias Demo alias Siman, lahir tahun 1928
di Dawung Wetan Solo.”
Rewang adalah anak dari Marjosuwiknjo. Ketika ia ditangkap, kedua orang
tuanya sudah meninggal. Sang ayah wafat pada 1948. Menurut catatan
militer itu pula, Rewang lulus sekolah dasar dan tidak lulus sekolah
menengah MULO.
Di masa mudanya, ketika berusia 22 tahun, menurut/Bintang Merah/volume 6
tahun 1950, Rewang adalah anggota Barisan Tani Indonesia (BTI) cabang
Sukoharjo, Jawa Tengah. BTI merupakan organisasi petani yang belakangan
merasa satu tujuan dengan PKI.
Lalu, sebelum Agustus 1965, menurut MR Siregar dalam/Tragedi Manusia dan
Kemanusiaan/(2007), “Rewang adalah Sekretaris Pertama CDB (Comite Daerah
Besar) PKI Jawa Tengah.”
“Awal Juli 1966 saya pindah ke Jakarta. Kepindahan saya ke Jakarta
karena mendapat tugas baru sebagai Kepala Departemen Kebudayaan dan
Sekretariat CC [PKI],” aku Rewang yang akhirnya jadi anggota politbiro
partai.
Perlawanan di Blitar Selatan itu, menurut Rewang, hanya bertahan satu
setengah tahun dari 1966 hingga 1968. Rewang tertangkap pada 21 Juli
1968 dan ketika diadili ia sudah siap dieksekusi mati. Namun, majelis
hakim akhirnya memvonis penjara seumur hidup. Dalam memoarnya, Rewang
bercerita soal salah satu anggota majelis hakim yang menjatuhkan vonis
padanya belakangan masuk penjara Cipinang gara-gara korupsi.
Baca juga artikel terkaitSEJARAH INDONESIA
<https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>atau
tulisan menarik lainnyaPetrik Matanasi
<https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id -Politik)
Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com