https://x.detik.com/detail/investigasi/20181223/Kegagalan-The-New-Prabowo/index.php
INVESTIGASI
Setengah Babak Pilpres
Kegagalan
The New Prabowo
Sandiaga Uno bilang Prabowo berubah dari yang terkesan galak dan keras
menjadi humanis. Namun jargon The New Prabowo hanya dimiliki Sandi.
Foto: Lamhot Aritonang/detikcom
Senin, 24 Desember 2018
The New Prabowo. Itulah narasi yang diusung Sandiaga Uno di pengujung
Agustus 2018 beberapa hari setelah dirinya didapuk menjadi calon wakil
presiden mendampingi Prabowo Subianto
<https://x.detik.com/detail/investigasi/20181213/Penyawer-Prabowo,-dari-Ahok-hingga-Ustadz-Heriansyah/index.php>.
Kata Sandi di hadapan sejumlah pewarta, Prabowo yang sekarang lebih cair
dan mau mendengarkan.
"Pak Prabowo itu orangnya asyik. The New Prabowo yang kita selalu bilang
sekarang orangnya sangat cair, sangat mendengar, menghormati. Pak
Prabowo sudah melewati dinamika politik kita, sangat menghargai bahwa
proses demokrasi harus mempersatukan, jangan memecah-belah,” ucap Sandi
di Masjid At-Taqwa, Jalan Sriwijaya Raya, Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan, Rabu, 22 Agustus 2018.
Dengan perubahan tersebut, Sandi yakin Ketua Umum Partai Gerindra
<https://x.detik.com/detail/investigasi/20181213/Penyawer-Prabowo,-dari-Ahok-hingga-Ustadz-Heriansyah/index.php>
itu bisa menggaet suara milenial, karena dirinya dan Prabowo bakal
menonjolkan sisi autentik biar disukai masyarakat. "Harus tetap
autentik. Kita jangan dibuat-buat. Milenial nggak suka yang dibuat-buat.
Harus relevan yang dirasakan oleh mereka, yang /nyambung /sama mereka.
Dan harus seru, harus bisa diviralkan. Kita punya banyak konten yang
nanti akan menarik," ujarnya.
Soal The New Prabowo, disebut Sandi, juga saran Didit Hediprasetyo,
putra semata wayang Prabowo Subianto dan Siti Hediati Hariyadi (Titiek
Soeharto). "Mas Didit bilang (pesan) ke saya, 'Papa juga kasih tahu
dong, jangan pakai baju empat kantong terus. Ganti-gantilah. Nggak
milenial. Mas Sandi /ingetin /juga, ya, Papa.’ Begitu kata Mas Didit.
Minta agar Pak Prabowo lebih lentur dalam berpakaian," kata Sandi.
Sandi menyambut baik saran Didit. Menurutnya, Prabowo memang sosok yang
luwes, santai, dan penuh humor, sehingga pas jika tampil lebih lentur
dalam berpakaian. Prabowo selama ini dianggap sejumlah elite sebagai
sosok yang temperamental dan militeristik. Padahal, dalam tiga atau
empat tahun terakhir ini, sikap temperamental mantan Danjen Kopassus itu
sudah jauh berkurang.
*Baca Juga : Penyumbang Prabowo, dari Ahok hingga Ustaz Heriansyah
<https://x.detik.com/detail/investigasi/20181213/Penyawer-Prabowo,-dari-Ahok-hingga-Ustadz-Heriansyah/index.php>*
Capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
*Foto: dok. Instagram Prabowo*
Sandi mencontohkan, sewaktu kalah dalam Pilpres 2014, Prabowo dengan
kesatria mengucapkan selamat kepada Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla
sebagai pemenang. Prabowo juga hadir di sidang umum MPR yang menetapkan
Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wapres RI 2014-2019. "Jadi saya melihat
ada satu diskoneksi persepsi masyarakat terhadap Pak Prabowo, persepsi
elite masyarakat (terhadap Prabowo). Ibu-ibu kalau ketemu Pak Prabowo
suka /auww/…," papar Sandi.
Namun, dalam pertarungan Pilpres 2019, yang sudah memasuki setengah
babak ini, narasi The New Prabowo itu belum juga terlihat. Prabowo masih
sering menunjukkan sifat meledak-ledaknya. Sebut saja saat Prabowo
berkunjung ke Ponorogo, Jawa Timur, 1 November 2018. Dalam kampanye yang
dilakukan di depan rumah makan Sate Lego, Prabowo geram melihat
emak-emak berebut buku 'Paradoks Indonesia' yang dibagikan timnya saat
dirinya berpidato.
“Saudara bisa diam nggak? Saudara, kalau mau saya bicara, harus sopan,
/nunggu /saya selesai bicara. Jangan rebutan sendiri. Saudara ingin saya
lanjut atau tidak?” tanya Prabowo dengan nada tinggi. Setelah suasana
kondusif, Prabowo melanjutkan pidatonya di hadapan ratusan simpatisan.
Dalam acara tersebut, Prabowo juga masih memakai kemeja khasnya yang
berkantong empat berwarna cokelat muda, yang coba ingin diubah dengan
konsep baru seperti harapan Sandi dan Didit.
Sikap emosional Prabowo juga terlihat pasca-Reuni 212, yang digelar di
Monumen Nasional, Jakarta, 2 Desember 2018. Kali ini yang menjadi
sasaran kemarahan Prabowo adalah media massa. Prabowo kesal karena Reuni
212 itu tidak menjadi laporan utama sejumlah media. Selain itu, Prabowo
mengkritik media yang dia nilai tak objektif dalam memberitakan jumlah
orang yang hadir dalam reuni tersebut.
Prabowo saat hadir di Reuni 212
*Foto: Pradita Utama/detikcom*
*Baca Juga : Tak Ada Jalan Kembali untuk Sandi
<https://x.detik.com/detail/investigasi/20181214/Tak-Ada-Jalan-Kembali-untuk-Sandi/index.php>*
Di acara reuni itu, menurut Prabowo, belasan juta orang hadir, yang
datang sejak pukul 03.00 WIB. Belum pernah terjadi di dunia orang
berkumpul sebanyak itu tanpa dibiayai oleh siapa pun. Namun banyak media
tidak meliriknya. Hal itu, katanya, merupakan bagian dari partisipasi
media dalam memanipulasi demokrasi di Indonesia.
“Mereka mengira dengan uang yang besar, uang yang didapat dari
praktik-praktik yang tidak benar--kasarnya uang yang mereka dapat dari
mencuri uang rakyat Indonesia--dengan uang itu mereka mau menyogok semua
lapisan bangsa Indonesia, semua lapisan. Partai politik mau dibeli,
pejabat-pejabat mau dibeli di mana-mana. Rakyat mau dibohongi, rakyat
dicuci otaknya dengan pers yang, terus terang saja, banyak bohongnya
dari benarnya,” katanya.
Pada 27 September, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA melakukan
survei terhadap The New Prabowo itu. Menurut LSI, sebetulnya jargon
tersebut mampu menjadi magnet bagi elektoral Prabowo-Sandi. Sekitar 50
persen lebih responden menyukai jargon tersebut dan mendukungnya. Namun
memang belum banyak yang mengenalnya. Tim Prabowo seharusnya
mengkapitalisasi jargon itu agar makin menimbulkan sentimen positif bagi
Prabowo.
Dua hari setelah dirilisnya hasil survei itu, Sandi kembali menggemakan
The New Prabowo saat menyambangi Kediri, Jawa Timur. Namun, praktis,
setelah itu tidak ada upaya yang terlihat dari Sandi maupun Badan
Pemenangan Nasional (BPN) untuk mempopulerkan. Ditanya soal itu,
Bendahara BPN, Thomas Djiwandono, mengatakan narasi Prabowo Baru hanya
pernyataan Sandi. Ia juga tidak tahu mengapa harus ada istilah The New
Prabowo. Sebab, karakter Prabowo dari dulu memang keras dan tegas.
“Makanya terkadang suka disalahartikan oleh media. Padahal maksudnya
tidak begitu,” terang Thomas kepada *detikX* di Menara Mid Plaza 1, 11
Desember 2018.
Veri Muhlis Arifuzzaman
*Foto: dok. pribadi*
Pengamat politik Konsepindo Research, Veri Muhlis Arifuzzaman, menilai
istilah The New Prabowo dilontarkan Sandi lantaran ada kegelisahan atas
sosok Prabowo yang selama ini dipandang menakutkan. “Wajar Sandi, yang
kini jadi cawapres Prabowo, menginginkan perubahan. Dia mau Prabowo yang
baru, yang berbeda dari yang dulu. Maunya Sandi, Prabowo yang baru
adalah yang lebih cair dan mau mendengar, asyik, menghormati pihak lain,
dan berorientasi mempersatukan, bukan memecah-belah,” jelas Veri.
Masalahnya, yang tampil adalah Prabowo lama yang garang, suka
marah-marah, dan justru banyak menebar ketakutan. Kemudian, tak jarang
keluar dari mulut Prabowo kata yang merendahkan, seperti kepada wartawan
atau pekerja ojek /online/.
Ditambahkan Veri, gagalnya membentuk kesan Prabowo baru berpengaruh
terhadap penambahan pendukung. Elektabilitas Prabowo sampai hari ini
masih berada di bawah 50 persen. Ia menilai lebih baik tim BPN banyak
mengkampanyekan program dibanding menjual /image /baru Prabowo.
------------------------------------------------------------------------
*Reporter:* Ibad Durohman
*Redaktur:* Deden Gunawan
*Editor:* Irwan Nugroho
*Desainer:* Fuad Hasim