https://news.detik.com/kolom/d-4356846/pulau-jawa-terhubung-jalan-tol?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.147561522.40131114.1545660729-473133218.1545660729
Senin 24 Desember 2018, 10:24 WIB
Kolom
Pulau Jawa Terhubung Jalan Tol
Hasanudin Abdurakhman - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4356846/pulau-jawa-terhubung-jalan-tol?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.147561522.40131114.1545660729-473133218.1545660729#>
Hasanudin Abdurakhman
<https://news.detik.com/kolom/d-4356846/pulau-jawa-terhubung-jalan-tol?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.147561522.40131114.1545660729-473133218.1545660729#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4356846/pulau-jawa-terhubung-jalan-tol?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.147561522.40131114.1545660729-473133218.1545660729#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4356846/pulau-jawa-terhubung-jalan-tol?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.147561522.40131114.1545660729-473133218.1545660729#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4356846/pulau-jawa-terhubung-jalan-tol?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.147561522.40131114.1545660729-473133218.1545660729#>
27 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4356846/pulau-jawa-terhubung-jalan-tol?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.147561522.40131114.1545660729-473133218.1545660729#>
Pulau Jawa Terhubung Jalan Tol Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi
Wahyono/detikcom)
*Jakarta* - Selama 2 abad lebih jalan yang menghubungkan ujung barat
Pulau Jawa dengan ujung timur adalah jalan yang dibangun oleh Deandels
pada awal abad XIX. Jalan pada masa itu berfungsi menghubungkan satu
dengan daerah lain. Di sisi sepanjang jalan itu tumbuhlah pusat-pusat
keramaian baru. Kota-kota yang dihubungkan itu pun kemudian tumbuh
menjadi pusat-pusat keramaian.
Jalan yang semula sebagian besar ruasnya melalui wilayah tak
berpenduduk, selama lebih dari 50 tahun terakhir berubah menjadi
pusat-pusat keramaian di kedua sisinya. Kota-kota yang tadinya
dihubungkan oleh jalan itu kemudian berkembang menjadi pusat keramaian.
Jalan yang tadinya menghubungkan antarkota secara perlahan berubah
menjadi bagian dari jalan kota.
Sepuluh atau 15 tahun yang lalu kalau melewati Pantura kita sering harus
berhadapan dengan kemacetan di kota-kota yang kita lalui. Kemacetan itu
coba diatasi dengan membangun /by pass/ yang mengitari kota guna
menghindari kemacetan dalam kota. Tapi, tak semua tempat bisa
diselesaikan dengan cara itu. Kedua sisi jalan sendiri tumbuh menjadi
pusat-pusat keramaian, tidak ada cara untuk menghindari keramaian itu.
Intinya, selama 20-30 tahun terakhir sebenarnya jalan yang cikal
bakalnya dibangun Deandels itu sebenarnya sudah tidak layak lagi
difungsikan sebagai penghubung utama kota-kota di Jawa. Kita memerlukan
jalur bebas hambatan. Kenyataannya, tidak ada yang membangun jalan itu.
Selama 30 tahun terakhir kita menanggar, menahan ketidaknyamanan.
Sejak mulai menjabat pada 2014 Presiden Joko Widodo menjadikan
pembangunan jalan tol yang menghubungkan kedua ujung pulau Jawa itu
sebagai prioritas. Kini pembangunan jalan itu boleh dibilang nyaris
tuntas. Jakarta dan Surabaya secara utuh sudah tersambung dengan jalan tol.
Ada banyak suara kritik terhadap pembangunan ini, baik dari sisi urgensi
maupun sumber pembiayaannya. Tapi, tanpa perlu berdebat panjang kita
bisa dengan mudah membandingkannya dengan tetangga kita Malaysia.
Semenanjung Malaysia itu terhubung dengan jalan bebas hambatan dari
Kedah di ujung utara sampai ke Johor di ujung selatan. Johor juga
tersambung dengan Singapura. Di sisi timur terbentang pula jalan dari
Trengganu ke Kuala Lumpur yang melewati Pahang.
Malaysia sudah jauh meninggalkan kita. Waktu saya tinggal di Kuala
Lumpur 22 tahun yang lalu jalan itu sudah ada. Artinya, setidaknya kita
sudah tertinggal 20 tahun lebih dari Malaysia. Belum lagi kalau diingat
bahwa penduduk Semenanjung Malaysia itu jumlahnya tidak seberapa
dibandingkan dengan penduduk Pulau Jawa.
Ringkasnya, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa jalan tol lintas
Jawa ini tidak perlu. Dengan adanya jalan tol ini kita memasuki fase
baru dalam transportasi darat. Tegal-Semarang yang selama ini harus
ditempuh dalam waktu 4 jam, kini bisa ditempuh dalam 2 jam.
Semarang-Surabaya bisa ditempuh dalam waktu 5 jam. Perbaikan-perbaikan
itu kini dapat dinikmati dan dimanfaatkan untuk keperluan bisnis,
wisata, maupun hubungan sosial.
Perhatikan bahwa jalan ini masih jauh dari cukup. Sekarang kita boleh
bergembira menikmati jalur bebas hambatan ini. Tapi, saya khawatir itu
hanya akan jadi bulan madu sesaat. Begitu ekonomi menggeliat setelah
adanya jalan itu, atau sekadar setelah jalan tol itu menjadi populer,
kita akan sampai pada suatu fase ketika jalan itu tak sanggup lagi
mendukung volume kendaraan yang lewat. Hasilnya, jalan akan macet parah.
Itulah yang kini kita saksikan di jalan tol Jakarta-Cikampek.
Idealnya Pulau Jawa itu memiliki jaringan rel kereta api yang lebih
banyak. Dengan demikian jalan tol tidak menjadi satu-satunya andalan.
Volume pergerakan orang dan barang harus dibagi agar tidak menumpuk di
jalan tol. Tapi, dalam hal jaringan rel kereta api kita jauh lebih
tertinggal. Hampir semua jaringan rel yang ada adalah peninggalan
Belanda. Parahnya, ada banyak rel yang tidak lagi digunakan, baik karena
rusak maupun sekadar dilupakan fungsinya, kemudian tanahnya dipakai
untuk keperluan lain.
Secara keseluruhan rel kereta api kita berkurang dibanding dengan zaman
Belanda dulu. Sudah adakah upaya untuk meningkatkan fungsi kereta api?
Nyaris tidak ada.
Dalam hal infrastruktur jalan dan kereta api kita sebenarnya sudah 20-30
tahun tertinggal. Perlu kemauan keras dan kerja keras untuk mengejarnya.
Presiden Joko Widodo sudah menunjukkan kerja keras itu. Kalau kita mau,
sebenarnya kita bisa. Cara ini kalau diteruskan selama 10-15 tahun lagi
akan membuat kita mengejar ketertinggalan.
*Hasanudin Abdurakhman* /cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang
profesional di perusahaan Jepang di Indonesia/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!
infrastruktur <https://www.detik.com/tag/infrastruktur/> trans jawa
<https://www.detik.com/tag/trans-jawa/> tol trans jawa
<https://www.detik.com/tag/tol-trans-jawa/>