https://tirto.id/alun-alun-malang-simbol-kegagalan-belanda-menaklukkan-rakyat-c8kG
Alun-Alun Malang Simbol Kegagalan
Belanda Menaklukkan Rakyat
Alun-alun kota Malang. Foto/Wikipedia
<https://tirto.id/alun-alun-malang-simbol-kegagalan-belanda-menaklukkan-rakyat-c8kG>
Alun-alun kota Malang. Foto/Wikipedia
Oleh: Tony Firman - 24 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
/Alun-Alun Kota Malang dibangun Belanda sebagai simbol kekuasaan
kolonial. Kehilangan kesan angker karena digunakan bumiputera untuk
berdagang dan beristirahat./
tirto.id <https://tirto.id/> - Alun-alun Kota Malang di Jalan Merdeka,
atau kadang juga disebut Alun-Alun Merdeka, tampak lebih ramai
dikunjungi sejak direvitalisasi oleh Pemkot Malang pada akhir 2014.
Sebagai salah satu fasilitas ruang terbuka publik, Alun-Alun Merdeka
kini dilengkapi dengan toilet, deretan tempat duduk, arena /skate park/,
dan air mancur.
Alun-Alun Merdeka didirikan pada 1882. Saat itu, Malang masih berstatus
kabupaten, dengan pemerintahan pusat di Pasuruan. Hawa sejuk Kota Malang
dan hasil perkebunan khas dataran tinggi menjadi pemikat orang-orang
Belanda mendirikan koloni di wilayah ini.
Namun, keberadaan Alun-Alun Merdeka yang dibangun pemerintahan kolonial
ini terkesan menyimpang dari pola pendirian alun-alun di Jawa pada
umumnya. Alun-alun Jawa lazimnya terletak persis di depan keraton atau
pendopo kabupaten sebagai sebuah halaman luas.
Alun-alun adalah tempat yang penting dan sakral. Jo Santoso dalam
/Arsitektur-Kota Jawa: Kosmos, Kultus & Kuasa/ (2008) menyebutkan,
alun-alun tak cuma menjadi simbol dari pusat kekuasaan atau sebagai
pusat inti yang mengawali perkembangan suatu kota, tetapi juga sebagai
tempat berlangsungnya semua perayaan ritual atau upacara keagamaan
penting serta arena parade militer.
Alun-Alun Merdeka berbeda. Wilayah alun-alun dan sekitarnya memang tetap
berperan sebagai pusat kota, namun letak pendopo kabupaten justru agak
jauh di sebelah timur alun-alun. Wajahnya pun menghadap ke selatan.
Di bagian selatan alun-alun berbentuk persegi ini, terdapat rumah
asisten residen yang menghadap ke alun-alun. Di sebelah barat ada
masjid, penjara di timur, gereja di utara. Bangunan-bangunan penunjang
aktivitas pemerintahan Belanda terletak di ruas lainnya.
Handinoto & Paulus H. Soehargo dalam /Perkembangan kota dan arsitektur
kolonial Belanda di Malang/ (1996) menyatakan, di kota-kota kolonial di
Jawa pada 1800-1900, pusat kendali pemerintahan berada di sekitar
alun-alun kota. Tak heran jika melihat tata letak alun-alun dan bangunan
penunjang di sekitarnya, Alun-Alun merdeka di Malang sejak awal memang
didesain sebagai ruang publik khas pemerintahan kolonial yang jelas
menerabas pakem tata kota tradisional Jawa.
Baca juga: Keluarga Sarkies, Taipan Hotel-Hotel Mewah dari Armenia
<https://tirto.id/keluarga-sarkies-taipan-hotel-hotel-mewah-dari-armenia-cDym>
Dalam perjalanannya, simbol koloni itu rupanya tak cukup sukses menjaga
wibawanya sebagai arena penguasa kolonial. Alun-Alun Merdeka justru
banyak dimanfaatkan oleh penduduk pribumi untuk beraktivitas, mulai dari
bersantai hingga berdagang. Puncaknya, Alun-Alun Merdeka ditinggalkan
oleh pemerintah kolonial yang memilih membikin alun-alun baru.
Ditaklukkan Rakyat dan Ditinggalkan
Sebuah foto hitam putih koleksi A. Bierens de Haan menampilkan potret
kehidupan Alun-Alun Merdeka sekitar tahun 1900-an. Tampak para pedagang
makanan dan minuman menduduki sebuah area alun-alun dengan latar
rindangnya pohon beringin. Purnawan Basundoro dalam /Dua Kota Tiga
Zaman: Surabaya dan Malang Sejak Zaman Kolonial Sampai Kemerdekaan/
(2009) menjadikan foto tersebut bahan interpretasi bagaimana rakyat
pribumi ketika itu secara tidak langsung berhasil merebut simbol
kolonial dengan cara-cara keseharian.
"Setiap sore sampai malam hari perlawanan terhadap kolonialisme
sebenarnya terjadi di alun-alun walaupun bukan perlawanan fisik atau
peperangan," tulis Basundoro.
Bisa jadi, salah satu penyebab alun-alun Malang ini diduduki oleh para
rakyat pribumi adalah tata letaknya yang tidak /njawani: /pusat
kekuasaan seperti kabupaten justru berada di pinggiran alun-alun dan
menghadap ke selatan. Walhasil, alun-alun ciptaan pemerintah kolonial
ini tak punya makna sebagai otoritas di mata penduduk setempat yang
terbiasa melihat alun-alun di halaman keraton atau kantor kabupaten.
*
*Meski demikian, sebagai pusat pemerintahan kolonial, di area sekitar
alun-alun terus dibangun gedung-gedung penunjang kehidupan orang Eropa,
misalnya hotel, bank, gereja, bioskop, sampai gedung pusat hiburan macam
Societeit Concordia yang terletak di barat laut alun-alun.
Di sisi lain, penduduk setempat semakin melihat kesenjangan antara elit
penguasa kolonial dan rakyat jelata. Jika orang-orang Eropa bisa melepas
penat dengan berdansa-dansi serta main kartu dan bilyar di Societiet
Concordia, maka penduduk pribumi cukup puas dengan melepas penat di area
alun-alun seraya menikmati hidangan pedagang setempat. Begitu pula saat
orang Eropa menikmati hiburan di Rex Bioscoop, masyarakat setempat sudah
cukup senang menyaksikan ludruk yang digelar di pojok alun-alun.
Menyadari situasi itu, penguasa kolonial memilih membiarkan alun-alun
tersebut menjadi ruang terbuka biasa yang tak lagi punya makna
kekuasaan. Salah satu buktinya adalah izin yang diberikan kepada
jaringan rel trem kota yang dikelola Malang Stoomtram Maatschappij (MS)
untuk melintasi alun-alun kota dari pojok barat laut menuju pojok
tenggara. Sebuah halte trem bahkan berdiri di tengah alun-alun.
Baca juga: Kelahiran dan Kematian Trem di Kota Malang
<https://tirto.id/kelahiran-dan-kematian-trem-di-kota-malang-c1aJ>
Malang baru mendapat status /gemeente/ (Kotamadya) pada 1914. Status ini
sekaligus menjadi penanda baru pembangunan Kota Malang modern yang
meninggalkan tata ruang pembangunan kota lama. Alun-alun tidak
dimasukkan ke dalam delapan tahap rencana pembangunan (/bouwplan/) Kota
Malang.
Alun-alun Baru
Sebagian orang Belanda generasi baru memandang alun-alun sebagai pusat
kota sebagai simbol usang, berbau /indisch/. Anggapan seperti itu muncul
khususnya dari generasi yang datang belakangan ke Hindia Belanda.
Menurut Basundoro, sesudah tahun 1900, Malang dan kota-kota lainnya
kebanjiran orang Belanda /totok/ yang menginginkan konsep kota baru.
Freek Colombijn & Joost Coté dalam /Cars, Conduits, and Kampongs: The
Modernization of the Indonesian City, 1920-1960/ (2015) menyebutkan,
sebagai tindak lanjut penerapan /bouwplan/ dan perubahan status Malang
dari kabupaten ke kotamadya, pemerintah Kota Malang membangun alun-alun
baru yang dinamai J.P Coen Plein pada 1922. Desain alun-alun ini sudah
dikerjakan sejak 1917. Jarak antara alun-alun lama ke alun-alun baru
sekitar 700 meter ke arah timur laut. Keberadaan J.P Coen Plein membuat
Malang memiliki dua alun-alun sekaligus.
Pada 1922, pemerintahan Kota Malang pindah dari alun-alun pusat ke J.P
Coen Plein yang akrab disebut "Alun-Alun Bunder". Pada tahun-tahun
berikutnya, kantor pemerintah Kota Malang didirikan menghadap ke utara
dengan latar depan alun-alun J.P Coen Plein. Di sekeliling alun-alun
baru itu, terlihat Gunung Kawi di barat, Gunung Semeru di timur, dan
Gunung Arjuno di utara.
Infografik Alun alun malang
Tata letak alun-alun baru ini terbilang unik. Alun-alun dan pusat
pemerintahan kembali bersatu dalam garis linier yang mengingatkan akan
alun-alun khas Jawa. Konsep dan tata letak alun-alun baru ini tak lepas
dari tangan dingin Herman Thomas Karsten, arsitek ternama Hindia Belanda
yang anti-kolonialis. Ia menciptakan bangunan yang memadukan gaya
arsitektur Barat dan identitas lokal.
Dalam perjalanannya, berbagai macam acara diselenggarakan di Alun-Alun
bunder. Alun-alun lama semakin ditinggalkan dan berganti rupa menjadi
arena bermain masyarakat setempat. Setahun setelah kemerdekaan, sebuah
tugu dibangun di bagian tengah alun-alun bunder dan diresmikan oleh
Presiden Sukarno.
Baca juga: Rock yang Hidup di Kota Malang
<https://tirto.id/rock-yang-hidup-di-kota-malang-cyVT>
Ada banyak hal yang membuat Alun-Alun Merdeka tetap ramai dikunjungi
sampai hari ini, khususnya jika dibandingkan dengan Alun-Alun Tugu yang
lebih bernuansa Jawa. Namun demikian, Alun-Alun Tugu alias Alun-Alun
Bunder tak kalah penting kedudukannya. Sampai kini, ia tetap menjadi
ikon Kota Malang, lengkap dengan Balai Kota Malang terus berfungsi dalam
kehidupan sosial masyarakat setempat.
Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA
<https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
<https://tirto.id/author/tonyfirman?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Humaniora)
Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf
Pada 1922, pemerintah Kota Malang membikin alun-alun baru yang dinamai
J.P Coen Plein.