http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1402-diri-yang-harum
/*Diri yang Harum*/
Penulis: *Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Group* Pada: Senin, 24 Des
2018, 05:30 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1402-diri-yang-harum>
<http://twitter.com/home/?status=Diri yang Harum
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1402-diri-yang-harum
via @mediaindonesia>
Diri yang Harum
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2018/12/232534d08adb9608d02998dd2b9b05eb.jpg>
/MI/
BAGAIMANAKAH mestinya seorang presiden yang terpilih kembali menghormati
secara mendalam mantan wakil presidennya?
Jangan membuang waktu mencari jawaban dalam sejarah kepresidenan
Republik Indonesia. Kenapa? Karena memang jawabannya tidak dapat
ditemukan di masa lalu.
Faktanya belum pernah terjadi presiden yang berkuasa kembali menunjukkan
rasa hormat yang mendalam kepada mantan wakil presiden yang sebelumnya
mendampinginya. Akarnya kuat, presiden ingin dirinya sendiri yang harum.
Yang terjadi di masa lalu ialah perpisahan. Bukan bersama-sama harum.
Presiden terpilih kembali tidak lagi membutuhkan mantan wakil
presidennya. Hubungan kemudian lebih merupakan hubungan seremonial.
Setiap perayaan 17 Agustus dia diundang ke Istana, seperti mantan wakil
presiden lainnya.
Sikap macam itu warisan Pak Harto yang berpisah ‘begitu saja’ dengan
wakilnya. Punya wakil presiden karena diatur konstitusi. Wapres
merupakan kepantesan bernegara.
Bahkan, sekalipun telah menjadi wapres yang bersangkutan tetap dipandang
sebagai bawahan. Karena itu tidak akan muncul pertanyaan, bagaimanakah
supaya diri sama-sama harum? Bagaimanakah mestinya seorang presiden yang
terpilih kembali menghormati secara mendalam mantan wakil presidennya
agar sama-sama harum?
Pertanyaan itu juga tidak muncul ketika zaman berubah, ketika pasangan
presiden-wakil presiden tidak lagi dipilih MPR, melainkan dipilih
langsung oleh rakyat. Bukankah di zaman baru itu cawapres diperhitungkan
memberi pengaruh elektoral? Benar, tetapi kemudian ‘terlupakan’.
Terlupakan karena hubungan yang terbangun semata kontrak lima tahun.
Habis itu sayonara, goodbye. Maaf, saya kira itulah yang terjadi dalam
hubungan SBY-JK.
Sejarah kemudian punya cerita baru. JK digandeng Jokowi, menjadi wakil
presiden kembali. Dia satu-satunya wakil presiden dua periode, untuk dua
presiden berbeda. JK tidak dapat diusung kembali bersama Jokowi karena
konstitusi, bukan karena faktor lainnya. Pekan lalu Jokowi bilang bila
ia terpilih kembali menjadi presiden, ia meminta JK tetap membantunya
melaksanakan tugas-tugas negara.
Meminta bantuan untuk tugas-tugas negara jelaslah merupakan ekspresi
rasa hormat yang mendalam kepada sang wakil. Bukan rasa hormat
seremonial. Hubungan Jokowi-JK bukan hubungan kontrak lima tahun, lalu
adios amigos. Jokowi ingin dirinya harum bersama. Sebuah contoh keteladanan.
Saya teringat pandangan yang bilang kemenangan pribadi yang
berintegritas merupakan fondasi bagi kemenangan publik. Kemenangan
Jokowi untuk dua periode juga berkat kepemimpinan berintegritas bersama JK.
Jokowi melihat kepemimpinan sebuah karya yang bersifat saling mengisi,
saling memperkuat, bahkan dalam derajat tertentu saling tergantung.
Karena itu, ia meminta wakil presidennya itu untuk tetap membantunya
melaksanakan tugas-tugas negara bila ia terpilih kembali menjadi
presiden. Kiranya itu ajakan agar tetap harum bersama.
Seorang presiden pada akhirnya bukan hanya merupakan sebuah pilihan.
Namun, keyakinan bahwa yang terpilih akan meninggalkan jejak yang dalam
di ranah kepublikan, serta diri yang harum di hati rakyat yang terdalam
karena keteladanannya.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1402-diri-yang-harum>
<http://twitter.com/home/?status=Diri yang Harum
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1402-diri-yang-harum
via @mediaindonesia>