Jokowi sang "Penebus" Dosa Soeharto

Hermanto Purba . 17 hours ago . 5 min read .2.8k

https://seword.com/politik/jokowi-sang-penebus-dosa-soeharto-PQU4J1IIK

Jokowi sang "Penebus" Dosa Soeharto

 * Politik<https://seword.com/category/politik>
 *

 *


 *



 *




Sesungguhnya, menjadikan Freeport menjadi milik bangsa Indonesia, adalah mimpi besar seluruh rakyat Indonesia. Sebuah mimpi yang sudah sejak lama didengung-dengungkan. Namun, presiden telah silih berganti, belum ada satu pun yang mampu menjadikan Indonesia sebagai tuan atas perusahaan tambang asal Amerika itu.

Berpuluh tahun lamanya Freeport mengeruk jutaan ton emas Indonesia dari perut bumi Papua. Erstberg, tempat Freeport mendirikan perusahaan tambangnya itu, yang pada mulanya merupakan sebuah gunung, namun kini, gunung itu sudah tidak ada lagi. Mesin-mesin tambang Freeport meruntuhkannya, hingga menjadi sebuah kubangan raksasa.

Adalah Soeharto, penguasa rezim orde baru, yang “menjual” tanah Papua yang kaya raya itu kepada kaum berduit Amerika dengan harga yang cukup murah. Berjuta ton emas yang nilainya mencapai ribuan triliun rupiah, telah berhasil mereka bawa ke negeri asalnya, sementara kita sebagai pemilik tanah, hanya diberi secuil saja.

Sungguh tragis memang. Ada bangsa asing, datang ke negeri kita, lalu mereka merayu penguasa bangsa ini, agar sumber daya alam kita yang begitu berlimpah ruah itu dapat mereka kuasai dengan imbalan yang sangat tidak berimbang. Namun sialnya, hanya karena diiming-imingi sejumlah uang, sang pemimpin terbuai, dan segera meng-ia-kannya.

Jauh-jauh hari sebelum tanah Papua secara resmi dikuasai Freeport, ketika bangsa ini baru saja memproklamasikan kemerdekaannya, para pemilik modal asal Amerika itu sebenarnya telah datang ke Indonesia dengan membawa “sejuta rayuan gombal” agar Soekarno, pemimpin Indonesia ketika itu, memberi mereka izin untuk menambang hasil bumi Indonesia.

Namun rayuan gombal itu ditolak mentah-mentah oleh Bung Karno. Bukan Indonesia tidak butuh uang kala itu. Butuh sekali malah. Sebab Indonesia baru saja terbebas dari penjajahan. Belum banyak sumber uang yang bisa diharapkan untuk memulihkan negeri yang masih porak-poranda, dan untuk mempercepat gerak pembangunan.

Namun uang bukanlah segalanya. Harga diri bangsa. Ya, harga diri bangsa, itu yang terutama. Indonesia harus menjadi tuan di tanahnya sendiri. Freeport akhirnya menemui jalan buntu. Mereka tidak mampu melunakkan “keras kepala” Soekarno. Presiden Indonesia pertama itu menyebut bahwa mereka adalah “penjajah gaya baru.”

Namun, pergantian rezim menjadi angin segar bagi Amerika. Mereka berpesta pora. Mereka bersukacita. Soeharto pengganti Soekarno memberi Freeport karpet merah untuk menjadi penguasa baru di tanah Papua. Belum genap satu bulan setelah Soeharto dilantik, ia lalu menandatangani kontrak karya dengan Freeport untuk 30 tahun pertama.

Sejak saat itu, Freeport begitu digdaya. Perusahaan asal Amerika itu seakan tidak tersentuh oleh siapaun. Mereka begitu perkasa. Freeport bahkan disebut-sebut sebagai negara bagian Amerika di Indonesia, yang jika diganggu atau coba-coba diintervensi, harus berhadapan dengan Soeharto yang bengis itu dan pemerintah Amerika Serikat tentunya.

Soeharto menilai bahwa kehadiran Freeport di Indonesia merupakan bentuk kepercayaan asing kepada Indonesia untuk membangun masa depan bangsa, dan memajukan masyarakat lokal (Papua). Namun kenyataannya bukanlah demikian. Kehadiran Freeport justru menjadi petaka bagi bangsa Indonesia secara khusus bagi rakyat Papua.

Keberadaan perusahaan tambang Amerika itu di Papua justru membuat penduduk asli Papua terusir. Mereka terusir di tanah leluhur mereka sendiri. Mereka tidak dianggap. Mereka menjadi warga kelas dua di sana. Mereka dianggap sebagai masyarakat tertinggal yang tidak ada nilainya di mata para pekerja Freeport itu.

Hingga akhirnya masyarakat Papua yang merasa terpinggirkan itu marah. Mereka melakukan penjarahan, pencurian, dan merusak berbagai peralatan tambang Freeport. Apa yang terjadi? Soeharto bukan justru memperjuangkan hak-hak warga Papua. Ia justru berdiri di pihak Freeport. Ia menurunkan pasukan angkatan bersenjata ke sana.

Mereka dibantai oleh Soeharto. Ribuan orang harus meregang nyawa ditembus peluru panas pasukan bersenjata orde baru itu. Kebun dan rumah-rumah mereka dihancurkan. Hingga akhirnya lahirlah apa yang dinamakan dengan Daerah Operasi Militer (DOM). Soeharto menganggap bahwa warganya yang berkulit hitam itu, sebagai pemberontak.

Kenapa Soeharto begitu marah ketika Freeport merasa terusik oleh aksi protes rakyat Papua? Karena kepentingannya juga turut terganggu. Sebab jika saja Freeport berhenti beroperasi, maka pundi-pundinya tidak akan terisi. Sebab konon, Soeharto menerima upeti sebesar 5 sampai 7 juta dolar AS dari Freeport setiap tahunnya. Angka yang cukup besar.

Setelah Soeharto lengser dari takhtanya lalu digantikan oleh BJ. Habibie hingga SBY, keadaannya tetap sama. Indonesia tidak dapat berkutik. Indonesia hanya diberi jatah kepemilikan saham sekitar 9 persen saja. Dan selebihnya menjadi milik para “penjajah” itu. Kita tidak lebih seperti pengemis di negeri kita sendiri. Hanya dapat setetes saja.

Lalu datanglah si “cungkring” Jokowi. Ia bukan orang kaya, ia bukan seorang jenderal, ia bukan keturunan raja, bukan pula ketua umum partai. Ia hanya orang biasa, orang desa, orang yang tidak memiliki apa-apa. Ia hanya memiliki satu modal yang mungkin tidak dimiliki oleh para pendahulunya: ia begitu mencintai bangsanya yang raya ini.

Oleh karena kecintaannya itu pula, muncul sebuah keberanian dalam dirinya. Keberanian untuk melawan para perampok, untuk melawan para perusak, keberanian untuk melawan para penjajah gaya baru. Ia lalu bergerak cepat. Ia melakukan cara-cara yang tidak lazim. Ia perintahkan para pembantunya untuk bergerak cepat: “Freeport harus direbut.”

Berkat keberanian Jokowi dan usaha keras para menterinya, belum genap satu periode ia berkuasa, akhirnya pada 21 Desember lalu, Indonesia berhasil mencetak sebuah sejarah baru. Indonesia secara resmi menjadi pemegang saham mayoritas PT. Freeport. Di tangan Jokowi yang “kurus kerempeng” itu, Indonesia berhasil membuat perusahaan tambang Amerika itu tak berdaya. Dengan segala keperkasaannya, Freeport dipaksa bertekuk lutut.

Selamat buat Indonesia. Selamat buat Jokowi. Peristiwa ini akan menjadi sebuah catatan sejarah yang akan dikenang oleh anak cucu kita kelak. Jokowi akan dikenang sebagai seorang pemimpin pemberani. Seorang pemimpin yang begitu mencintai bangsanya. Seorang pemimpin yang menebus kesalahan Soeharto, pendahulunya itu.

Salam Indonesia satu!



---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke