*Sekarang Anda sekalian tahu bagaimana bisa selamat dari tsunami.*

https://www.hidayatullah.com/feature/read/2018/12/27/157235/kisah-para-penghafal-al-quran-selamat-dari-tsunami.html


*Kisah Para Penghafal Al-Qur’an Selamat dari Tsunami*

Kamis, 27 Desember 2018 - 22:17 WIB

"Ketika kita menjaga kalam-Nya ya, menjaga ayat-ayat Allah, maka Allah akan
menjaga kita, baik itu di dunia maupun di akhirat."

*ACHYAR* baru saja merebahkan dirinya untuk tidur, tiba-tiba dentuman keras
terdengar seakan begitu dekat. “Boooooooooommm!!!”. Ia bangkit, tak lama
kemudian keluar kamar.

Di luar, ia mendapati anak-anak didiknya tengah dilanda kepanikan. Rupanya
mereka menyaksikan gelombang besar dari laut sedang mengarah ke Villa Umbul
Tanjung Resort di Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang,
Banten.

Malam itu, Sabtu (22/12/2018) tragedi tsunami melanda Umbul Tanjung dan
desa-desa di sekitarnya, bahkan sampai Kabupaten Pandeglang serta tiga
kabupaten di Pulau Sumatera; Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pesawaran.

Tsunami itu dipicu erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, yang
materialnya longsor ke bawah laut. Data sementara BNPB hingga Rabu
(26/12/2018), bencana menelan korban 430 orang tewas, 1.495 luka-luka, 159
hilang, dan beratus-ratus bangunan rusak termasuk villa yang berjamur di
pesisir Banten.

Tapi ajaib! Villa Umbul Tanjung Resort tak disentuh gelombang tsunami.
Mengapa demikian? Siapa penghuni villa itu?

Mereka adalah para santri dan ustadz-ustadzah dari pesantren Nurul Fikri
Boarding School Serang. Sejak tanggal 18 November lalu, mereka mengadakan
kegiatan tahunan, Qur’an Camp di villa itu. Fokus utamanya menghafal
Al-Qur’an.

Rutinitas harian mereka di villa diawali dengan shalat tahajud pada pagi
dinihari. Usai shalat subuh berjamaah, kegiatan menghafal Al-Qur’an
dilakukan sampai pukul 07.30 WIB. Dilanjutkan apel lalu istirahat. Pada
pukul 10.00 WIB, mereka belajar bahasa Arab, Hadits, fiqih, dan sebagainya.
Dilanjutkan istirahat. Usai shalat zuhur dan makan siang, para santri
belajar lagi, kemudian menghafal Al-Qur’an. Usai ashar berolahraga. Bakda
maghrib kembali menghafalkan kitab suci. Selepas isya, dilakukan evaluasi.

“Tiap hari begitu,” ujar Achyar Muhammad Yunus (28 tahun), nama lengkap
wali kelas yang membimbing para santri tersebut kepada *hidayatullah.com
<https://www.hidayatullah.com/>* saat diwawancarai, Kamis (27/12/2018).

Baca: Sekeluarga Selamat dari Tsunami setelah Batalkan Nonton Band
<https://www.hidayatullah.com/feature/read/2018/12/26/157190/sekeluarga-selamat-dari-tsunami-setelah-batalkan-nonton-band.html>

*Detik-detik Kejadian*

“Boooomm!”

Sabtu itu, rutinitas bersama Al-Qur’an berlangsung sebagaimana biasanya.
Para santri dan santriwati, berjumlah total 55 orang, menyetorkan
hafalannya diiringi dentuman dan getaran dari erupsi Gunung Anak Krakatau
yang cukup terasa.

Sekitar pukul 21.30 WIB setelah para santri selesai beraktivitas, tiba-tiba
mereka mendengar suara gemuruh yang sangat besar. Lalu santri-santri
berhamburan, berlari dari arah villa belakang, sebab mereka melihat ombak
besar sudah sampai ke dekat tembok pembatas resort. Salah seorang
pembimbing bahkan sempat lari melihat ancaman bencana di depan mata.

“Ombak gede banget,” tutur Jasir, salah seorang santri seperti ditirukan
Achyar.

Achyar sempat merasa tsunami sudah menghantam villanya. Ia pun bergegas ke
kamar, bermaksud mengamankan barang-barang penting seperti ijazah, paspor,
laptop, dan lain sebagainya. Sampai di kamar ternyata keadaan baik-baik
aja, seperti tidak terjadi apa-apa. Kepanikan itu hilang, berganti perasaan
tenang mengetahui kondisi yang aman.

Usai itu, datang lagi ombak kedua yang lebih besar. “(Tapi) ombaknya terus
mengecil gitu begitu dekat villa,” tutur Achyar yang pada 26 Desember 2004
silam juga selamat dari tsunami yang menghantam kampungnya di Aceh setelah
sebelumnya ia memilih pindah tinggal ke pesantren jauh dari kampungnya.

Setelah gelombang *tsunami Selat Sunda
<https://www.hidayatullah.com/tag/tsunami-selat-sunda>* berlalu, suasana
agak santai di villa. Para santri dan ustadz-ustadzah berkumpul di mushalla
villa, mereka terus berdzikir dan tetap bertilawah, sambil berkoordinasi.
Tapi sebagian masih khawatir adanya tsunami susulan. Sejumlah santri pun
menghubungi orangtuanya lewat telepon. Sebagian lainnya terlihat sangat
tenang.

Sempat ada orangtua santri –yang menginap di villa itu– sebelum kejadian
berkeinginan untuk pergi ke laut. “Tadinya dia lima menit lagi mau
mancing,” tutur Achyar, tapi bencana keburu datang, orangtua santri itu
nyaris jadi korban.

“Orangtua ini nelpon ke BMKG Serang, kata BMKG (kejadian) ini enggak
potensi tsunami, hanya air pasang karena bulan purnama,” tuturnya. Namun,
informasi di media sosial mereka dapatkan bahwa warga sekitar telah
mengungsi.

Akhirnya, setelah berkoordinasi, para pembimbing pun sepakat untuk segera
mengevakuasi para *hafizh-hafizhah* itu ke tempat aman.

Pengelola resort menyampaikan kesiapan mereka membantu evakuasi ke daerah
yang lebih tinggi, menggunakan lima mobil yang ada, termasuk mobil tamu
yang berniat menginap di villa.

Sebelum prosesi evakuasi, Achyar bersama satu rekannya keluar villa untuk
mengecek keadaan dengan sepeda motor. Masya Allah, ternyata sekitar villa
mereka itu sudah berantakan dihantam tsunami barusan.

Villa tersebut cukup dekat dari bibir pantai, diperkirakan 10 meter. “Itu
deket banget,” akunya. Setelah tembok di bagian belakang villa, terdapat
tanah yang cukup jadi lapangan futsal, lalu bibir pantai. Secara logika,
melihat kerusakan di sekitar, seharusnya villa itu juga dihantam tsunami.

Villa Umbul Tanjung Resort terletak menyendiri, cukup jauh dari villa-vila
lainnya. Kawasan sekitar villa itu tersapu tsunami, pemandangan yang
kontras dengan kompleks “villa penghafal Al-Qur’an” yang selamat dari
tsunami itu.

Di sebelah villa, bekas tsunami terlihat sampai ke jalanan yang juga
jalanan menuju Villa Umbul Tanjung Resort. Ada saung yang terletak di depan
luar kompleks villa sampai terlempar ke villa. “Di tempat lain air
(tsunami) sampai ke jalan, di tempat kita malah enggak kena,” sebut Achyar.

Ia juga melihat pada sebuah jembatan 300-an meter dari villa, air laut
masih pasang dengan arus kencang. Tampak perahu-perahu saling bertabrakan,
retak-retak. Jalanan di sekitar situ dipenuhi batu-batu yang dibawa
gelombang tsunami. Mobil sulit lewat.



Suasana jalan raya 300 meter sebelum Villa Umbul Tanjung Resort, usai
kejadian tsunami pada Sabtu (22/12/2018) malam. *[Dok. Achyar]*

“Begitu *ane *lihat seperti ini, kita buru-buru (untuk) evakuasi santri.
Padahal kalau melihat keadaan villa tempat kita, rasanya malas aja mau
evakuasi, karena enggak ada kerusakan apa-apa di villa kita,” ungkapnya.

Ada keanehan lain dirasakannya saat kejadian. “*Ane* (saya) merasa semacam
ada ketenangan saat itu.” Misalnya, saat mengevakuasi para santri,
prosesnya gampang, seperti tidak ada masalah. “Pokoknya kayak enggak ada
bencana.”

Bahkan, menariknya, para santri kata dia bukannya trauma pasca kejadian,
“mereka malah pengen setoran hafalan,” ujar Achyar yang mengaku di Kompleks
Nurul Fikri Jl Palka, Kp Cihideung, Desa Bantar Waru, Kecamatan Cinangka,
Serang, sudah sejak 2015 lalu.

Singkat kisah, rombongan Nuruf Fikri itu pun dievakuasi di rumah kades
setempat yang posisinya lebih di atas, dengan dua kelompok bergantian.
Kemudian mereka bergeser ke pesantren Nuruf Fikri di Jl Palka. “Jam 2.30
(dinihari) kita nyampe sini,” sebut Achyar.

Baca: Pengalaman Spiritual Relawan Tsunami Banten
<https://www.hidayatullah.com/feature/kisah-perjalanan/read/2018/12/26/157105/pengalaman-spiritual-relawan-tsunami-banten.html>

*“**Dijaga Allah”*

Pasca kejadian, Achyar mengumpulkan para santri. Ia menyampaikan hal
penting, hikmah yang bisa dipetik dari selamatnya mereka dari tsunami.

“Selama ini saya sering menasihati kalian tentang… keberkahan Al-Qur’an,
bagaimana Allah memelihara ahlul Qur’an, bahkan orang sudah meninggal -para
penghafal Qur’an- kalau kita lihat banyak di sana mayat-mayatnya yang
terjaga sudah 55 tahun ternyata masih utuh,” pesan pria yang pernah lama
kuliah di Yaman ini kepada para santri.

Memang, selama ini para santri khususnya setiap apel pagi, selalu diberi
nasihat terkait ayat-ayat Al-Qur’an, keutamaan, keberkahan, dan
keajaibannya. Mungkin katanya para santri tersebut tidak menyaksikan
langsung keajaiban-keajaiban itu selama ini.

“Oleh karena itu, *ane* kasih tahu, (dengan kejadian) ini mungkin salah
satu keajaiban yang Allah perlihatkan kepada kita bahwa ketika kita menjaga
kalam-Nya ya, menjaga ayat-ayat Allah, maka Allah akan menjaga kita, baik
itu di dunia maupun di akhirat.”

Dengan kejadian selamatnya mereka dari tsunami, “Kali ini Allah langsung
nunjukin keajaibannya,” ungkapnya. Menjaga kalam-kalam Allah dengan
menghafal Al-Qur’an, telah mengundang datangnya pertolongan tersebut.

Kirim email ke