Kebangsaan & Keagamaan: Dua Kiblat Indonesia di Persimpangan Jalan
Avatar Ariel Heryanto. tirto.id/Sabit
<https://tirto.id/kebangsaan-amp-keagamaan-dua-kiblat-indonesia-di-persimpangan-jalan-c9U1>
Avatar Ariel Heryanto. tirto.id/Sabit
https://tirto.id/kebangsaan-amp-keagamaan-dua-kiblat-indonesia-di-persimpangan-jalan-c9U1
Oleh: Ariel Heryanto - 20 November 2018
*/Di tengah proses Islamisasi kehidupan bangsa masa kini, nasionalisme
Indonesia justru tampak kedodoran karena sudah lama menderita cacat berat./*
tirto.id <https://tirto.id/>- Hari ini Indonesia tiba di sebuah
persimpangan jalan seiring ketegangan menajam antara dua kiblat
moralitas dan politik (tetapi dalam banyak kubu): kebangsaan dan
keagamaan. Situasi itu terungkap secara gamblang dalam istilah dan
semboyan yang dipakai dalam debat publik.
Misalnya “Islam Nusantara” dan sosok lawannya yang secara tersirat atau
tersurat dianggap kurang atau tidak Nusantara. Pancasila, kemajemukan
tersirat dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, dan “NKRI” juga dijadikan
senjata yang dikerahkan untuk menanggapi kekerasan yang dengan klaim
agama. Contoh mutakhirnya: bom bunuh-diri di dekat gedung Sarinah
(Jakarta, 2016), vihara di Tanjung Balai (2016), gereja (Surabaya,
2018). Wacana nasionalis juga tampil sebagai tanggapan terhadap laporan
penelitian yang menunjuk pada merosotnya toleransi antar golongan (SARA)
di lingkungan sekolah, keluarga, hingga debat politik sejak pilres 2014,
disusul pilgub DKI (2017) hingga menjelang pilpres 2019.
Baca juga:Ancaman Guru Intoleran di Indonesia
<https://tirto.id/ancaman-guru-intoleran-di-indonesia-c7Dc>
Catatan ini adalah ajakan untuk memahami peta persoalan secara lebih
jernih dengan mengambil jarak sejenak dari rangkaian kasus-per-kasus
pertikaian. Dengan berjarak dari kasus mikro dan individu yang terlibat,
semoga masalah makro yang dihadapi Indonesia bisa diamati dengan wawasan
lebih luas dan bijak.
Duduk Persoalan
Dari mana datangnya ketegangan antara kiblat “kebangsaan” dan
“keagamaan” masa kini? Kedua kiblat mempunyai tempat terhormat dalam
Pancasila. Bukan baru sekali ini ketegangan di antara mereka mengemuka.
Tapi mengapa sekarang ia berkobar (lagi) dan berkepanjangan dalam
sosoknya yang mutakhir?
Uraian di bawah ini merupakan sebuah usaha awal untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mudah-mudahan ada pencerahan yang lebih
baik dari mereka yang lebih paham dari penulis.
Ringkasnya, jawaban saya terdiri dari tiga pokok. Pertama, martabat dan
kewibawaan nasionalisme mengalami krisis di tingkat global. Kedua,
walaupun nasionalisme masih sangat dihormati di Indonesia, kebangsaan di
tanah air ini menderita cacat. Sangat berbeda dari semangat kebangsaan
di awal abad 20.
Ketiga, kebangkitan Islam di luar bidang keagamaan di Indonesia dalam
tiga dekade terakhir menanjak secara dramatis. Ini wajar dan sudah
waktunya terjadi. Terlalu lama agama mayoritas ini ditindas dan kaumnya
disisihkan di Indonesia. Namun sekali meluap, gelombang kejayaan ini
tidak dikendalikan satu pihak, tak mudah diatur, atau dibendung oleh
siapapun.
Nasionalisme: Krisis Global dan Cacat Lokal
Dalam bentangan sejarah manusia, nasionalisme relatif berusia muda.
Bangsa (dalam pengertian modern seperti yang kita kenal saat ini) baru
hadir sekitar dua ratus tahun belakangan.
Pada awal kebangkitannya, kebangsaan diyakini oleh para pendukungnya
sebagai sesuatu yang mulia, wajar, terhormat dan berlaku secara adil
untuk semua di muka bumi ini. Juga di Indonesia—ingat bunyi Mukadimah
UUD 1945. Nasionalisme ini pada awalnya sekaligus berwatak
inter-nasional-isme.
Seperti kata ilmuwan politik Benedict Anderson, sedemikian hebatnya
gagasan kebangsaan itu, sampai-sampai jutaan pengikutnya (kaum
nasionalis) di dunia siap mati demi gagasan tersebut. Mereka bukannya
siap membunuh, melainkan berkorban nyawa, demi terwujudnya bangsa-bangsa
di dunia.
Gagasan kebangsaan awal itu kini telah mengalami krisis di mana-mana.
Banyak sekali penyebab dan prosesnya. Yang jelas, banyak warga
bangsa-bangsa di dunia kehilangan kepercayaan pada janji-janji indah
kebangsaan. Dalam budaya pop dan gerakan sosial, syair lagu “Imagine”
John Lennon mewakili suara generasi muda yang tidak lagi peduli atau
percaya pada nilai-nilai kebangsaan.
Baca juga:Kegagapan & Kebebalan Belanda Memahami Aspirasi Kemerdekaan
<https://tirto.id/kegagapan-kebebalan-belanda-memahami-aspirasi-kemerdekaan-cuLC>
Berbagai bangsa besar di dunia mengalami krisis nasionalisme, sekaligus
krisis moral dan politik lembaga-lembaga kemasyarakatan yang lain:
agama, keluarga, partai politik, lembaga pendidikan, teknologi dan
sebagainya. Dalam krisis berat ini, warganya meraba-raba, atau
merumuskan identitas sosial alternatif. Bentuk dan hasilnya bermacam-macam.
Di Indonesia situasinya berbeda. Seperti di banyak negara bekas terjajah
lainnya, khususnya yang mencapai kemerdekaan lewat revolusi
berdarah-darah, kebangsaan masih dimuliakan. Juga berbeda di Barat,
kebangkitan Islam di Indonesia justru sedang mencapai titik kejayaan
yang belum pernah terjadi di negeri ini.
Sayangnya, kebangsaan yang dimuliakan di Indonesia menderita cacat
berat. Pada awalnya gagasan kebangsaan di kalangan cendekiawan Indonesia
bersifat kosmopolitan, modern, progresif dan lintas-SARA, seperti halnya
di banyak bagian dunia lain. Namun, sejak Republik Indonesia merdeka,
kebangsaan justru dihayati secara sempit. Dikaitkan dengan
primordialisme kesukuan, melahirkan gagasan pribumisasi, dan elitisme
Jawa-sentris.
Bangsa tidak lagi dipahami sebagai sebuah cita-cita dan kerja kolektif
menciptakan kehidupan bersama yang majemuk, adil, dan beradab bagi
semua. Hari ini bangsa dianggap semacam warisan dari nenek moyang.
Sebagian warga merasa punya hak-waris istimewa, melebihi hak warga lain
yang sebetulnya masih sebangsa.
Walau bertentangan dengan gagasan awal nasionalisme seabad lalu,
nasionalisme cacat primordial di Indonesia bertumbuh subur. Ia subur
karena dirawat dengan baik oleh sebagian kelompok elit yang diuntungkan
oleh gagasan tersebut.
Gagasan nasional-primodial itu jelas anti-kemajemukan. Ironisnya, ia
seringkali diserukan dalam wacana publik sebagai semboyan kemajemukan,
dan diajukan sebagai lawan dari fundamentalisme keagamaan yang dituduh
tidak toleran.
Untuk menghadapi berbagai tantangan zaman, Indonesia tidak bisa
terus-menerus mengandalkan gagasan kebangsaan yang cacat. Indonesia
perlu menyegarkan kembali gagasan kebangsaan, dengan mengenal dan
merayakan gagasan kebangsaan satu abad lampau.
Masa Emas Keagamaan
Masyarakat Indonesia sangat kuat beragama selama berabad-abad. Datangnya
kolonialisme Belanda telah membatasi wilayah gerak keagamaan, khususnya
gagasan dan kegiatan politik yang didasarkan pada agama.
Kondisi itu berubah sedikit pada tahun-tahun awal kemerdekaan RI.
Organisasi sosial, budaya, dan politik dengan afiliasi keagamaan
mendapat ruang lebar. Tapi tidak sendirian. Mereka bersaing dengan
berbagai organisasi dan partai politik sekuler.
Semua itu berakhir sejak bangkitnya pemerintahan Orde Baru (1966).
Komunis dan sosialis dihancur-leburkan. Islam menjadi satu-satunya
kekuatan alternatif besar terhadap pemerintahan militer-teknokratik Orde
Baru. Setelah Komunis, giliran Islam menjadi sasaran penindasan Orde
Baru. Baru pada tahun 1990 keadaan berubah. Untuk mengatasi perpecahan
dalam pemerintahannya, Presiden Suharto berusaha menyelamatkan kekuasaan
dengan merangkul berbagai kelompok dan tokoh Islam.
Orde Baru tidak terselamatkan, Suharto jatuh. Tetapi keran Islamisasi
yang dibuka Suharto menjadi gelombang besar yang tidak tertandingi.
Islamnya satu, tapi komunitas muslim tidak tunggal dan seragam. Di
sela-sela keragaman itulah, hadir ketegangan antara yang disebut
“Nusantara” dan yang dianggap bukan atau kurang.
Baca juga:Arsip Rahasia AS: Prediksi Bangkitnya Islam Politik
Pasca-Soeharto
<https://tirto.id/arsip-rahasia-as-prediksi-bangkitnya-islam-politik-pasca-soeharto-cPTP>
Di tengah kemeriahan Islamisasi kehidupan bangsa masa kini, berbagai
ragam kelompok dan kegiatan Islami bersaing keras. Nasionalisme
Indonesia tampak kedodoran memberikan tanggapan, bukan saja karena sudah
lama menderita cacat berat, tetapi juga karena tidak didukung oleh
kejayaan nasionalisme tingkat global yang sedang menderita krisis.
Sebaliknya, dinamika politik global pasca-Perang Dingin memberikan angin
baru pada sebagian negara dengan mayoritas muslim. Dengan bentuk dan
arah berbeda-beda, Islami Indonesia mendapat siraman dukungan globalnya.
Masalahnya, seperti telah disinggung di atas, pertikaian utama kaum
muslim terjadi dengan sesama muslim. Tidak sedikit dari mereka yang
masih menyimpan kesetiaan pada gagasan nasionalistik.
Baca juga artikel terkaitISLAMISASI
<https://tirto.id/q/islamisasi-kzb?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>atau
tulisan menarik lainnyaAriel Heryanto
<https://tirto.id/author/arielheryanto?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id -Politik)
Kolumnis: Ariel Heryanto
Penulis: Ariel Heryanto
Editor: Windu Jusuf
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com