Menunggu Ijtima Ulama III https://www.tagar.id/menunggu-ijtima-ulama-iii
Reporter:
Editor: Siti Afifiyah
Opini https://.tagar.id/ December 29, 2018, 1:07 pm
alon Presiden nomer urut 02 Prabowo Subianto (tengah) mengenakan topi dari
Komandan Jenderal Kopassandi Abdul Rasyid Abdullah Syafii (kanan) pada
deklarasi dukungan Komando Ulama Pemenangan Prabowo-Sandi (Koppasandi) di
Jakarta, Minggu (4/11). (Foto: Antara/Dhemas Reviyanto)
Fokus Berita: Pilpres 2019 https://www.tagar.id/fokus/362/pilpres-2019
Oleh: Eko Kuntadhi
Pilpres 2019 ini memang seru. Salah satu keseruannya adalah ada kelompok orang
yang ngakunya ulama berakrobat sedemikian rupa, untuk menjajakan dagangannya.
Mereka menggunakan stempel keagamaan untuk mencari celah biar diakui. Biar
direken dalam pentas politik nasional.
Mulanya ketika penentuan Cawapres. Gerindra sudah mendeklarasikan Prabowo
sebagai Capres. Tinggal cari Cawapresnya. Sekelompok orang yang mengaku ulama
ini ingin ikut berenang di lumpur, berbasah-basah dengan trik politik.
Sepertinya mereka bermain mata dengan PKS.
Lalu digelarlah Ijtima Ulama I. Seolah Ijtima Ulama itu dilakukan sebagai
nasihat ulama untuk pasangan Capres. Bau-baunya sih, hanya sebagai akrobat
politik saja.
Hasil Intima Ulama I itu, merekomendasikan Prabowo sebagai Capres. Lalu
menyodorkan dua nama, Abdul Somad dan Salim Segaf Aljufri sebagai Cawapres.
Nah, kelihatan kan? Abdul Somad bukan dikenal sebagai politisi. Jadi logikanya
gak mungkin namanya yang disorong. Beda dengan Salim Segaf, sebagai Ketua Dewan
Syuro PKS. Artinya jika Prabowo mengikuti rekomendasi Ijtima Ulama I, ruang
Salim Segaf terbuka untuk mendampingi Prabowo.
Tapi, bagi Prabowo masalahnya bukan suara ulama-ulamaan. Baginya hasil Ijtima
Ulama gak ngaruh apa-apa. Mau nasihat, kek. Mau rekomendasi politik, kek. Gak
ada urusan. Yang penting sekarang mencari Cawapres yang punya duit.
Maka Prabowo memutuskan Sandiaga Uno sebagai Cawapresnya. Nama Somad dan Salim
Segaf, sejak awal sama sekali gak dilirik. Pilihan Prabowo memang jauh dari
rekomendasi Ijtima Ulama. "Kalau Sandi jadi Cawapres, lu mau apa? Ape lo, ape
lo?"
Apa Prabowo gak dengerin ulama? Kayaknya sebaliknya. Justru ulama itu yang
harus patuh sama kemauan Prabowo. Buktinya mereka akhirnya menggelar lagi
Ijtima Ulama II. Hasilnya sudah dapat ditebak, para ulama merekomendasikan
dukungan pada Prabowo-Sandi. Jadi, ulama-ulama itu harus nurut Prabowo. Kalau
fatwanya gak sesuai dengan kemauan Prabowo, mereka harus mikir keras, lalu
keluarkan fatwa baru. Sampai klop.
Mungkin saja ulama yang ngumpul-ngumpul itu menyangka, ilmu agama Prabowo jauh
lebih tinggi dibanding mereka. Makanya ulama yang harus ikut Prabowo. Bukan
sebaliknya.
Ketinggian ilmu dan maqom tersebut lebih terbaca ketika ada berita Prabowo
meninju meja ketika bicara di hadapan ulama. Salah seorang peserta di acara itu
, Usamah Hisyam, menceritakan sikap galak Prabowo di depan ulama. "Dia bicara
di depan forum ulama sambil menggebrak-gebrak,"ujar Usamah dalam sebuah
wawancara TV.
Cuma ada dua kemungkinan ulama-ulama itu santai saja digebrak-gebrak ketika
bicara. Pertama, para penceramah itu menganggap yang sedang bicara adalah
bosnya. Dan mereka semua adalah bawahannya. Jadi, kalau kesannya diperlakukan
tidak etis sambil gebrak-gebrak meja, ya gak masalah. Namanya juga bos.
Kedua, kalau mereka bukan bawahannya, barangkali saja mereka minder karena
ilmu agama mereka semua jauh di bawah Prabowo. Biasanya di kalangan ulama kalau
bertemu dengan orang yang ilmu agamanya lebih tinggi mereka gak berani apa-apa.
Tunduk patuh. Mereka menghornati orang yang lebih alim dan dalam pengetahuan
agamanya.
Ada fenomena lain, bahwa para penceramah agama itu mengakui ilmu Prabowo jauh
lebih tinggi.
Rata-rata orang yang ngumpul di acara Ijtima Ulama punya pandangan keagamaan
mengharamkan mengucapkan 'Selamat Natal'. Apalagi merayakannya. Sebab bagi
mereka ucapan selamat Natal itu diasumsikan pengajuan pada konsep ketuhanan
Kristen.
Padahal mah, cuma ucapan selamat hari raya doang. Gak ada urusan dengan
aqidah. Tapi bagi mereka tetap haram. Nah, sebagian besar orang yang ngumpul di
acara Ijtima Ulama itu adalah orang yang punya pandangan mengharamkan ucapan
Natal.
Buat siapa haramnya? Buat semua umat Islam, kata mereka.
Ternyata Natal ini Prabowo bukan hanya mengucapkan selamat Natal tetapi juga
merayakannya bersama keluarga. Videonya viral diupload oleh salah seorang
familinya. Terlihat Prabowo yang begitu menikmati acara, berjoget-joget dengan
riang.
Tentu ulama yang pernah ngumpul dengan Ijtima Ulama dan merekomendssikan
Prabowo sebagai Capres bingung. Ini gimana mau dijual ke umat, kalau gak nurut
pandangan mereka bahwa merayakan Natal itu haram.
Tapi sekali lagi. Mereka gak bisa apa-apa. Gak bisa mempengaruhi Prabowo
dengan fatwa agamanya. Sebab posisi mereka jauh di bawah Prabowo. Mana berani
mengutak-atik apa yang diinginkan Prabowo. Wong, digebrak-gebrak saja mereka
mingkem.
Sekarang tinggal mereka yang bingung menerangkan pada umatnya. Padahal dulu
orang-orang ini yang getol mengharam-haramkan Natal. Tapi sekarang mereka harus
menerima kenyataan.
Kita tunggu saja. Mungkinkah untuk menyesuaikan diri dengan kemauan Prabowo
untuk merayakan Natal, para ulama itu menggelar lagi Ijtima Ulama III. Isi
rekomendasinya: umat Islam diharamkan mengucapkan selamat Natal. Kecuali
Prabowo. Dia mah, bebas.
Ada satu lagi. Dalam pidatonya Prabowo tidak mempermasalahkan Australia
memindahkan kedutaan besarnya di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Padahal
langkah itu jelas merugikan perjuangan Palestina dan menguntungkan Israel. Nah,
para ulama itu biasanya hobi teriak-teriak membela Palestina.
Tapi, kalau Prabowo malah terkesan mendukung Israel, mereka bisa apa? Wong,
posisinya di bawah. Bingung, kan?
Seharusnya urusan Pilpres mestinya gak diaduk-aduk dengan agama. Beginilah
kalau memain-mainkan agama untuk politik. Jadinya kacau.