Ulama atau bukan, yang kasih uang banyak adalah bossnya......

Pada tanggal Min, 30 Des 2018 pukul 07.01 [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

>
>
>
>
> Menunggu Ijtima Ulama III <https://www.tagar.id/menunggu-ijtima-ulama-iii>
> Reporter:
> Editor: Siti Afifiyah
>
> Opini <https://.tagar.id/> December 29, 2018, 1:07 pm
>
>
> [image: https://www.tagar.id/Asset/uploads/486676-prabowo-subianto.jpeg]
> alon Presiden nomer urut 02 Prabowo Subianto (tengah) mengenakan topi dari
> Komandan Jenderal Kopassandi Abdul Rasyid Abdullah Syafii (kanan) pada
> deklarasi dukungan Komando Ulama Pemenangan Prabowo-Sandi (Koppasandi) di
> Jakarta, Minggu (4/11). (Foto: Antara/Dhemas Reviyanto)
> Fokus Berita: Pilpres 2019 <https://www.tagar.id/fokus/362/pilpres-2019>
>
> *Oleh: Eko Kuntadhi*
>
> Pilpres 2019 ini memang seru. Salah satu keseruannya adalah ada kelompok
> orang yang ngakunya ulama berakrobat sedemikian rupa, untuk menjajakan
> dagangannya. Mereka menggunakan stempel keagamaan untuk mencari celah biar
> diakui. Biar direken dalam pentas politik nasional.
>
> Mulanya ketika penentuan Cawapres. Gerindra sudah mendeklarasikan Prabowo
> sebagai Capres. Tinggal cari Cawapresnya. Sekelompok orang yang mengaku
> ulama ini ingin ikut berenang di lumpur, berbasah-basah dengan trik
> politik. Sepertinya mereka bermain mata dengan PKS.
>
> Lalu digelarlah Ijtima Ulama I. Seolah Ijtima Ulama itu dilakukan sebagai
> nasihat ulama untuk pasangan Capres. Bau-baunya sih, hanya sebagai akrobat
> politik saja.
>
> Hasil Intima Ulama I itu, merekomendasikan Prabowo sebagai Capres. Lalu
> menyodorkan dua nama, Abdul Somad dan Salim Segaf Aljufri sebagai Cawapres.
> Nah, kelihatan kan? Abdul Somad bukan dikenal sebagai politisi. Jadi
> logikanya *gak* mungkin namanya yang disorong. Beda dengan Salim Segaf,
> sebagai Ketua Dewan Syuro PKS. Artinya jika Prabowo mengikuti rekomendasi
> Ijtima Ulama I, ruang Salim Segaf terbuka untuk mendampingi Prabowo.
>
> Tapi, bagi Prabowo masalahnya bukan suara ulama-ulamaan. Baginya hasil
> Ijtima Ulama *gak* ngaruh apa-apa. Mau nasihat, kek. Mau rekomendasi
> politik, kek. Gak ada urusan. Yang penting sekarang mencari Cawapres yang
> punya duit.
>
> Maka Prabowo memutuskan Sandiaga Uno sebagai Cawapresnya. Nama Somad dan
> Salim Segaf, sejak awal sama sekali *gak* dilirik. Pilihan Prabowo memang
> jauh dari rekomendasi Ijtima Ulama. "Kalau Sandi jadi Cawapres, lu mau apa?
> Ape lo, ape lo?"
>
> Apa Prabowo *gak* dengerin ulama? Kayaknya sebaliknya. Justru ulama itu
> yang harus patuh sama kemauan Prabowo. Buktinya mereka akhirnya menggelar
> lagi Ijtima Ulama II. Hasilnya sudah dapat ditebak, para ulama
> merekomendasikan dukungan pada Prabowo-Sandi. Jadi, ulama-ulama itu harus
> nurut Prabowo. Kalau fatwanya *gak* sesuai dengan kemauan Prabowo, mereka
> harus mikir keras, lalu keluarkan fatwa baru. Sampai klop.
>
> Mungkin saja ulama yang ngumpul-ngumpul itu menyangka, ilmu agama Prabowo
> jauh lebih tinggi dibanding mereka. Makanya ulama yang harus ikut Prabowo..
> Bukan sebaliknya.
>
> Ketinggian ilmu dan maqom tersebut lebih terbaca ketika ada berita Prabowo
> meninju meja ketika bicara di hadapan ulama. Salah seorang peserta di acara
> itu , Usamah Hisyam, menceritakan sikap galak Prabowo di depan ulama. "Dia
> bicara di depan forum ulama sambil menggebrak-gebrak,"ujar Usamah dalam
> sebuah wawancara TV.
>
> Cuma ada dua kemungkinan ulama-ulama itu santai saja digebrak-gebrak
> ketika bicara. Pertama, para penceramah itu menganggap yang sedang bicara
> adalah bosnya. Dan mereka semua adalah bawahannya. Jadi, kalau kesannya
> diperlakukan tidak etis sambil gebrak-gebrak meja, ya *gak* masalah.
> Namanya juga bos.
>
> Kedua, kalau mereka bukan bawahannya, barangkali saja mereka minder karena
> ilmu agama mereka semua jauh di bawah Prabowo. Biasanya di kalangan ulama
> kalau bertemu dengan orang yang ilmu agamanya lebih tinggi mereka *gak *berani
> apa-apa. Tunduk patuh. Mereka menghornati orang yang lebih alim dan dalam
> pengetahuan agamanya.
>
> Ada fenomena lain, bahwa para penceramah agama itu mengakui ilmu Prabowo
> jauh lebih tinggi.
>
> Rata-rata orang yang ngumpul di acara Ijtima Ulama punya pandangan
> keagamaan mengharamkan mengucapkan 'Selamat Natal'. Apalagi merayakannya.
> Sebab bagi mereka ucapan selamat Natal itu diasumsikan pengajuan pada
> konsep ketuhanan Kristen.
>
> Padahal mah, cuma ucapan selamat hari raya doang. *Gak* ada urusan dengan
> aqidah. Tapi bagi mereka tetap haram. Nah, sebagian besar orang yang
> ngumpul di acara Ijtima Ulama itu adalah orang yang punya pandangan
> mengharamkan ucapan Natal.
>
> Buat siapa haramnya? Buat semua umat Islam, kata mereka.
>
> Ternyata Natal ini Prabowo bukan hanya mengucapkan selamat Natal tetapi
> juga merayakannya bersama keluarga. Videonya viral diupload oleh salah
> seorang familinya. Terlihat Prabowo yang begitu menikmati acara,
> berjoget-joget dengan riang.
>
> Tentu ulama yang pernah ngumpul dengan Ijtima Ulama dan merekomendssikan
> Prabowo sebagai Capres bingung. Ini gimana mau dijual ke umat, kalau *gak* 
> nurut
> pandangan mereka bahwa merayakan Natal itu haram.
>
> Tapi sekali lagi. Mereka *gak* bisa apa-apa. *Gak* bisa mempengaruhi
> Prabowo dengan fatwa agamanya. Sebab posisi mereka jauh di bawah Prabowo.
> Mana berani mengutak-atik apa yang diinginkan Prabowo. Wong,
> digebrak-gebrak saja mereka mingkem.
>
> Sekarang tinggal mereka yang bingung menerangkan pada umatnya. Padahal
> dulu orang-orang ini yang getol mengharam-haramkan Natal. Tapi sekarang
> mereka harus menerima kenyataan.
>
> Kita tunggu saja. Mungkinkah untuk menyesuaikan diri dengan kemauan
> Prabowo untuk merayakan Natal, para ulama itu menggelar lagi Ijtima Ulama
> III. Isi rekomendasinya: umat Islam diharamkan mengucapkan selamat Natal.
> Kecuali Prabowo. Dia mah, bebas.
>
> Ada satu lagi. Dalam pidatonya Prabowo tidak mempermasalahkan Australia
> memindahkan kedutaan besarnya di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Padahal
> langkah itu jelas merugikan perjuangan Palestina dan menguntungkan Israel..
> Nah, para ulama itu biasanya hobi teriak-teriak membela Palestina.
>
> Tapi, kalau Prabowo malah terkesan mendukung Israel, mereka bisa apa?
> Wong, posisinya di bawah. Bingung, kan?
>
> Seharusnya urusan Pilpres mestinya *gak* diaduk-aduk dengan agama.
> Beginilah kalau memain-mainkan agama untuk politik. Jadinya kacau.
>
> 
>

Kirim email ke