https://news.detik.com/kolom/d-4366441/catatan-akhir-2018-hitam-putih-pemanfaatan-media-komunikasi-digital?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.236702337.1284490667.1546350707-1627207624.15463507
Selasa 01 Januari 2019, 00:00 WIB
Kolom
Catatan Akhir 2018: Hitam Putih
Pemanfaatan Media Komunikasi Digital
Firman Kurniawan - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4366441/catatan-akhir-2018-hitam-putih-pemanfaatan-media-komunikasi-digital?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.236702337.1284490667.1546350707-1627207624.1546350707#>
Firman Kurniawan
<https://news.detik.com/kolom/d-4366441/catatan-akhir-2018-hitam-putih-pemanfaatan-media-komunikasi-digital?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.236702337.1284490667.1546350707-1627207624.1546350707#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4366441/catatan-akhir-2018-hitam-putih-pemanfaatan-media-komunikasi-digital?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.236702337.1284490667.1546350707-1627207624.1546350707#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4366441/catatan-akhir-2018-hitam-putih-pemanfaatan-media-komunikasi-digital?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.236702337.1284490667.1546350707-1627207624.1546350707#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4366441/catatan-akhir-2018-hitam-putih-pemanfaatan-media-komunikasi-digital?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.236702337.1284490667.1546350707-1627207624.1546350707#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4366441/catatan-akhir-2018-hitam-putih-pemanfaatan-media-komunikasi-digital?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.236702337.1284490667.1546350707-1627207624.1546350707#>
Catatan Akhir 2018: Hitam Putih Pemanfaatan Media Komunikasi Digital
Firman Kurniawan. Foto: Dok. Istimewa
*Jakarta* - Tak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi digital yang
disambut berbagai kalangan dengan aneka pemaanfaatan di Tanah Air,
memberikan sumbangan pada kemajuan ekonomi, sosial, praktik komunikasi,
maupun perubahan budaya secara signifikan. Namun demikian, tak
seluruhnya tampil menggembirakan.
Ada catatan yang cukup mengganggu terkait pemanfaatan media komunikasi
digital, terutama jika dikaitkan dengan event politik yang pemanasannya
dimulai menjelang Pilgub DKI 2017 hingga Pileg dan Pilpres 2019.
Ditengarai, teknologi digital turut menyokong menguatnya sentimen
intoleransi antar penganut agama dan menajamnya polarisasi identitas
yang berlandaskan nilai keagamaan.
Tentu gejala ini tak berdiri sendiri dan dapat serta merta menuding
teknologi informasi sebagai penyebab keadaan yang tak diinginkan ini.
Manuel Castells, dalam bukunya /"The Network Outreach and Hope"/,
menunjukkan makin merebaknya kejahatan dan tindakan kriminal global yang
di-empowering oleh teknologi informasi menjadikan keburukan susah
dideteksi, dicegah dan ditumpas. Namun di sisi lain teknologi digital
juga memperkuat /The Network of Hope/. Nilai- nilai baik dapat tersebar
dengan cepat dan menjangkau khalayak secara luas. Artinya teknologi
informasi sangat tergantung pada kemauan baik penggunanya: manusia.
Teknologi informasi memberikan dampak buruk atau baik, tergantung pada
konten yang dimuatkan kepadanya. Dan ada manusia yang bertanggung jawab
untuk itu. Sehingga jika hari ini, ancaman segregasi sosial di Indonesia
menguat, dan ada keterkaitan teknologi informasi di baliknya, maka tak
lain hasrat manusia yang memproduksi konten dan menyebarkan secara luas
yang mendorongnya menjadi seperti itu.
Event politik raya di 2019 merupakan ajang mempertaruhkan sekaligus
memperebutkan porsi ekonomi yang tidak kecil. Maka jika dapat ditempuh
dengan pengorbanan sekecil-kecilnya, dapat dianggap pilihan cerdas. Dan
itu dijawab dengan baik dengan memanfaatkan teknologi informasi. Pesan
diproduksi dengan segenap kreativitas, disebarkan secara masif melalui
media digital dan hasil yang cepat dan sesuai harapan, dapat segera
diukur. Terlebih, struktur budaya Indonesia yang mengalami lompatan dari
budaya tutur--harusnya ke budaya baca dulu--namun langsung ke budaya
menonton, menyebabkan struktur kognisi yang terbentuk pada masyarakat
Indonesia tak terlatih untuk mengkaji informasi secara mendalam dan
serius. Implikasinya, informasi tak mendalam yang disebarkan secara
bertubi-tubi, bahkan dalam format hiburan, akan menempati ruang rasa
percaya masyarakat, terlepas dari salah benarnya.
Dengan adanya kontestasi 2 kandidat besar dalam pemilihan raya 2019,
warna informasi pun menjadi 2 warna besar. Masing-masing memiliki
penganutnya yang fanatik. Inilah yang mengancam keutuhan bangsa, yang
bagi sebagian kalangan, menuduh teknologi informasi sebagai penyebabnya.
Kuatnya pengaruh teknologi informasi dalam aplikasi komunikasi bermedium
digital mendorong perlunya kesadaran bersama terhadap ancaman segregasi
sosial oleh pemanfaatannya yang tidak tepat. Event politik di USA maupun
Brazil memberikan petunjuk bahkan di negara yang sangat maju, apalagi
yang belum maju, masyarakat tidak mudah lagi menentukan kebenaran maupun
pilihan yang baik ketika sekelompok orang atas nama keuntungan ekonomi
dan demi memenuhi hasrat kuasa melakukan disinformasi, dengan sengaja
menyebarluaskan informasi salah, memproduksi dan mereproduksi hoax,
dengan memanfaatkan medium digital. Masyarakat terjebak dalam filter
bubble yang tersusun oleh jejak digitalnya sendiri, menjelma menjadi
masyarakat fanatik dan intoleran terhadap berbeda.
Akankah keadaan serupa harus mewarnai Indonesia di tengah pemilihan raya
2019? Harusnya setiap pihak menahan diri terhadap upaya melakukan
apapun, demi teraihnya kekuasaan. Permainan politik dengan memanfaatkan
teknologi informasi untuk menyebarluaskan informasi salah adalah
permainan yang menjadikan peradaban sebagai taruhannya. Haruskah
dinikmati untuk kepentingan sesaat?
/**Dr Ir Firman Kurniawan Sujono MSi,* pemerhati komunikasi digital/
*(tor/tor)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!
kolom <https://www.detik.com/tag/kolom/>