http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1577-teroris-demokrasi
/*Teroris Demokrasi*/
Penulis: *Media Indonesia* Pada: Jumat, 04 Jan 2019, 05:00 WIB Editorial
MI <http://mediaindonesia.com/editorials>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1577-teroris-demokrasi>
<http://twitter.com/home/?status=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1577-teroris-demokrasi>
Teroris Demokrasi
SEIRING dengan semakin dekatnya pelaksanaan pemilihan presiden dan wakil
presiden pada 17 April mendatang semakin besar pula rintangan yang
menghadang. Kualitas perhelatan akbar demokrasi itu betul-betul
dipertaruhkan dalam menghadapi sepak terjang sebagian pihak yang
benar-benar di luar keadaban.
Sebagai kontestasi, pilpres semestinya disemarakkan dengan perlombaan
gagasan, pertarungan ide, dan adu visi-misi. Namun, faktanya, kampanye
sebagai bagian penting pilpres yang sudah berlangsung lebih dari tiga
bulan justru disesaki dengan sensasi dan kontroversi.
Sejak start pada 23 September silam, kampanye sarat dengan berita bohong
alias hoaks, ujaran kebencian, retorika-retorika pesimisme, dan
narasi-narasi penyesatan. Strategi seperti itu bertebaran setiap saat
dan celakanya bukan mereda, melainkan malah kian menggila.
Kasus teranyar yang terjadi ialah mencuatnya hoaks perihal penemuan
tujuh kontainer berisi kertas suara yang sudah dicoblos di Pelabuhan
Tanjung Priok, Jakarta. Dalam berita bohong yang diviralkan di media
sosial itu disebutkan, puluhan juta kertas suara itu didatangkan dari
Tiongkok.
Tak pelak, berita sesat itu menghebohkan khalayak sekaligus membuat
sibuk aparat. Jajaran Komisi Pemilihan Umum, Polri, hingga aparat Bea
dan Cukai pun sigap bertindak untuk kemudian memastikan kabar tersebut
tidak betul alias hoaks.
Menurut KPU, mustahil ada puluhan juta surat suara yang sudah dicoblos
karena surat suara untuk Pemilu 2019 saja belum dicetak. Ia masih dalam
proses tender dan baru selesai diproduksi pada 17 Maret nanti.
Namun, bagi para pembuat dan penebar hoaks, kewarasan dan nalar yang
sehat memang telah menjadi barang langka. Bagi mereka, yang penting
berita bohong tersebar, yang penting rakyat terhasut.
Hoaks penemuan puluhan juta surat suara yang telah dicoblos jelas bukan
masalah ecek-ecek. Ia serius, sangat serius, karena sasaran yang dituju
pelaku tak lagi sekadar rival mereka dalam kontestasi, tetapi sudah
dalam taraf untuk mendelegitimasi kontestasi itu sendiri.
Sangat mudah dibaca, penyebaran berita penemuan puluhan juta surat suara
yang sudah dicoblos dimaksudkan untuk memberikan kesan kepada publik
bahwa pilpres sarat dengan kecurangan. Ia pun bisa jadi tak bersifat
parsial, tetapi menjadi bagian dari upaya sistematis untuk
mendiskreditkan penyelenggara pemilu.
Bukan kali ini saja gerakan untuk menegasikan proses pilpres yang jujur
dan adil dilakukan. Belum lama ini, misalnya, penggunaan kotak kardus
sebagai wadah kertas suara juga dipersoalkan salah satu kubu. Dalihnya
ia rawan kecurangan. Padahal, perangkat yang diusulkan KPU itu sudah
disetujui DPR, termasuk oleh mereka yang mempersoalkannya.
Terang bahwa tak cuma untuk menyerang lawan, kini hoaks kian intensif
diarahkan untuk mendelegitimasi proses pilpres. Mereka, para pelaku,
mungkin telah merasa akan kalah sehingga perlu menyiapkan alasan bahwa
kekalahan itu akibat pilpres berlangsung sarat kecurangan. Jika terus
dilakukan, cara bertarung seperti itu amatlah membahayakan karena bisa
memicu kekisruhan di akhir perhelatan.
Pembuatan dan penyebaran kabar sesat soal penemuan puluhan juta surat
suara yang sudah dicoblos ialah kejahatan tingkat tinggi dalam
kontestasi. Mereka bukan lagi sekadar kriminal di media sosial, bukan
pula sebatas pelanggar Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik, melainkan telah wewujud serupa teroris penghancur demokrasi.
Oleh karena itu, kita sepakat dengan para pihak seperti KPU dan
Kemendagri yang meminta Polri mengusut dan menindak para pelaku, siapa
pun dia. Kita juga mendukung janji Polri untuk 'menyelesaikan' mereka.
Pemilu serentak 2019 ialah pertaruhan masa depan bangsa sekaligus uji
eksistensi demokrasi di negeri ini. Tiada tempat, juga tak ada maaf,
bagi mereka yang hendak mengacaukannya karena sesungguhnya mereka itu
teroris demokrasi yang harus dilawan.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1577-teroris-demokrasi>
<http://twitter.com/home/?status=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1577-teroris-demokrasi>