http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1410-tak-putus-dirundung-dusta
/*Tak Putus Dirundung Dusta*/
Penulis: *Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group * Pada: Jumat, 04
Jan 2019, 05:30 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1410-tak-putus-dirundung-dusta>
<http://twitter.com/home/?status=Tak Putus Dirundung Dusta
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1410-tak-putus-dirundung-dusta
via @mediaindonesia>
Tak Putus Dirundung Dusta
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/01/8b828541d6601e16564c183c2f051985.jpg>
BAGI para kesatria, alih tahun dimaknai dengan segenap harapan.
Sebaliknya, bagi penebar kecemasan, tahun baru berarti dusta baru sebab
dari kabar lancung yang sudah-sudah memang mudah menghunjam dalam
ingatan kita yang pendek. Publik resah, aparat sibuk, dan pengamat
semangat membincangkannya. Bisa jadi para 'pemain dusta' tertawa-tawa
menghitung 'laba'.
Inilah bangsa yang tak putus dirundung dusta, yang para perundungnya
orang-orang yang pandai. "Orang pandai yang tak punya hati nurani.
Orang-orang terhormat yang kehilangan martabat," kata seorang aparat
Polri yang diwawancarai sebuah stasiun radio terkait dengan berita
bohong tujuh kontainer surat suara dari Tiongkok tercoblos untuk
pasangan calon presiden-wakil presiden nomor urut 01.
Ada nada geram suaranya. Politik seperti itu telah mematikan akal sehat
sebab surat suara pemilu baru selesai dicetak Maret nanti. Selama dua
tahun belakangan, katanya, bangsa ini dikepung dusta yang
bersimaharajalela. Kian terasa ada kenekatan di atas rata-rata para
penebarnya. Mereka lihai memainkan isu, mereka juga cakap keluar dari
'kepungan'.
Itulah ujian demokrasi masa awal yang kerap dianalogikan berada di
pusaran atau persimpangan jalan. Kita butuh pemimpin yang punya visi
untuk keluar dari situasi yang menjengkelkan itu. Masyarakat sipil juga
harus keras menolak terseret dalam permainan merusak bangsa sendiri.
Cina, asing, aseng, PKI, anti-Islam, memang telah dikemas dalam paket
jualan politik sejak Pilpres 2014. Ia telah menjadi penanda yang
diasumsikan bisa membuat sentimen sampai ke ubun-ubun untuk membela
capres idolanya seraya menafikan capres yang lain. Meski sudah ada yang
menyadari itu permainan usang, masih ada yang memercayainya.
Tujuh kontainer berisi surat suara tercoblos capres nomor 01. Satu
kontainer konon 10 juta surat suara, tujuh kontainer sudah 70 juta surat
suara. Artinya, di hari pencoblosan nanti, hajatan politik yang paling
ditunggu itu sudah kelar. Inilah kebatilan yang harus ditertibkan.
Sudah benar Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengadukan pembuat dan penyebar
berita dusta ke penegak hukum. Harapan KPU agar mereka jera. Para
penebar dusta tak akan jera. Kalau jera, sejak dua redaktur Obor Rakyat
dipenjara, informasi dusta mestinya selesai.
Faktanya, mereka 'pantang surut ke belakang'. Politik telah melupakan
dan membutakannya sebab kebatilan yang kali lain dikutuk, kali ini dipeluk.
Sejak kampanye pemilihan presiden dibuka beberapa bulan lalu, publik
belum mendapat apa-apa, selain kegaduhan dan kecemasan. Belum ada
pertukaran ide, pertukaran gagasan, dan menambah pengetahuan. Politik
yang mulia yang penuh noda.
Bayangkan, kita belum lupa hoaks Ratna Sarumpaet dengan kenekatan yang
tak terperi. Sosok pekerja seni, aktivis HAM, pembela kaum
marginal--begitu predikat yang kerap dilekatkan padanya--lalu berubah
jadi penebar hoaks nomor wahid di negeri ini.
Hingga kini saya belum paham kenapa Ratna menjadi penebar hoaks
berkelas, dingin, dan membius. Saya juga belum mafhum bagaimana 'deretan
tokoh hebat, bahkan ada yang berpredikat ulama' tanpa visum dokter sebab
Ratna ogah lapor polisi, tak menggunakan akal sehat mereka.
Respons mereka seragam, menuding penguasa di balik kejahatan yang
mem-vermak wajah sutradara Satu Merah Panggung itu. Mereka masih nyaring
juga bicara, seolah tanpa noda.
Para penebar hoaks dan pendukungnya tak peduli. "Siapa pun yang ceroboh
dengan kebenaran dalam hal-hal kecil tidak dapat dipercaya dalam hal-hal
penting," kata Albert Einstain. Dalam era politik yang bengis ini,
kebenaran justru tengah diolok-olok oleh para 'pemain dusta'. Mungkin
mereka tengah menyusun dusta berikutnya. Res publica (urusan publik) pun
seperti tengah dibelokkan ke arah res privata (urusan privat).
Terserah siapa presidennya nanti, tapi menebar berita dusta ialah
kebatilan. Ia merapuhkan kita. Harus dikobarkan terus 'jihad' melawan
para penebar dusta. Agar asa bangsa ini terus meninggi, supaya tak suram
masa depannya seperti digambarkan para pendusta.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1410-tak-putus-dirundung-dusta>
<http://twitter.com/home/?status=Tak Putus Dirundung Dusta
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1410-tak-putus-dirundung-dusta
via @mediaindonesia>