Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Berakhirnya penantian warga Kepahiang impikan penerangan
Senin, 7 Januari 2019 08:53 WIB
Berakhirnya penantian warga Kepahiang impikan penerangan
Warga Dusun V, Embong Ijuk, Kepahiang, Bengkulu, Irham Haris bersama
kedua anaknya saat menerima bantuan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi
(LTSHE) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Kepahiang,
Bengkulu. (ANTARA News/ Sella Panduarsa Gareta)
Program pemasangan LTSHE merupakan program dari Pemerintah Pusat untuk
memberikan akses penerangan kepada masyarakat yang berada di wilayah 3T
(Terpencil, Tertinggal dan Terluar)...
Bengkulu (ANTARA News) - Kegelapan seakan menjadi teman sejati bagi
keluarga Irham Haris saat malam tiba. Selama 10 tahun tinggal di Dusun
V, Desa Embong Ijuk, Bengkulu, Irham, istri dan keempat anaknya hanya
mengandalkan kaleng bekas yang diisi minyak tanah dan diberi sumbu
sebagai sumber cahaya.
Petani kopi dan lada ini harus merogoh Rp72.000 per bulan untuk membeli
enam liter minyak tanah yang digunakan sebagai bahan penerangan lampu
kaleng setiap bulannya.
Asap hitam yang keluar dari cahaya lilin lampu kaleng seringkali
mengotori wajah anak-anak Irham, hingga suatu hari anak bungsunya
menganggap warna hitam di hidungnya adalah kotoran tikus.
Sejak saat itu, Ayah 48 tahun ini memimpikan adanya penerangan memadai
di wilayah tempatnya tinggal. Pria berkulit sawo matang, yang juga
kepala lingkungan Dusun V, Embong Ijuk, ini terus memutar otak agar
malam di daerahnya tak lagi gulita karena belum tersambungnya aliran
listrik.
Dusun V, Embong Ijuk, terletak di atas bukit Kabupaten Kepahiang,
Bengkulu. Butuh waktu sekitar empat jam dari kota untuk menuju ke sana
dengan medan menanjak, berbatu, curam, dan berliku.
Embong Ijuk sebenarnya terdiri dari lima dusun, namun hanya Dusun V yang
belum dialiri listrik.
Irham kemudian mengetahui adanya program bantuan Lampu Tenaga Surya
Hemat Energi (LTSHE) yang digagas Direktorat Jenderal Energi Baru
Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM).
Kemudian, sebagai kepala lingkungan, ia bersama kepala desa mengajukan
permintaan bantuan pemasangan LTSHE untuk 40 warganya ke Kementerian
ESDM pada 2016.
Selama penantian, Irham menyaksikan anak-anaknya belajar setiap malam di
bawah temaram lampu kaleng. Jika ia lupa mengisi minyak, maka anak-anak
tak bisa belajar.
Hingga pada sekitar Agustus 2018, mimpi Irham dan warga setempat
diwujudkan oleh Kementerian ESDM. Tak hanya di dusun tempat Irham
tinggal, lampu bertenaga surya tersebut mulai menerangi delapan desa di
Kabupaten Kepahiang serta delapan desa lainnya.
Terangi rumah
Dalam satu paket LTSHE yang diberikan Kementerian ESDM, warga
mendapatkan empat bohlam lampu, satu panel surya, kabel dan enam
colokan, di mana empat colokan untuk lampu, satu untuk panel surya dan
satu lainnya bisa digunakan untuk mengisi baterai ponsel.
Tingkat terangnya lampu juga dapat diatur hingga tiga pilihan, yakni
terang, sedang dan redup. Irham sendiri berupaya mengatur nyalanya lampu
agar dapat digunakan secara maksimal.
Selain mudah digunakan, perangkat LTSHE yang mengandalkan tenaga surya
juga membuat Irham tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli minyak
tanah.
Hal lain yang membuatnya semakin senang adalah karena ia dapat
menyaksikan anak-anaknya semakin giat belajar di malam hari. “Untuk itu
saya berterima kasih kepada pemerintah pusat hingga pemerintah desa yang
memberikan bantuan ini,” ungkapnya.
Cita-cita Dhea
Salah seorang anak Irham bernama Dhea Artamevia mengaku sangat senang
rumahnya kini diterangi lampu bertenaga surya. Dhea mengatakan ia lebih
semangat belajar saat malam.
Menurut Dhea, belajar menggunakan lampu kaleng membuat huruf-huruf
menjadi kabur saat dibaca, karena cahayanya terlalu redup.
Siswa SMA 5 Kepahiang ini ingin bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu,
sehingga cita-citanya menjadi seorang guru dapat terwujud. Menurutnya,
guru adalah profesi mulia.
“Saya ingin membahagiakan ayah dan ibu,” ujar Dhea ketika ditemui di
kediamannya.
Terangi 16 desa
Inspektur Jenderal ESDM Akhmad Syakhroza datang ke Kabupaten Kepahiang
untuk menyerahkan secara simbolis 2.111 unit LTSHE kepada masyarakat di
16 desa di Bengkulu.
Dalam sambutannya, Akhmad menyampaikan, LTSHE merupakan program
terobosan untuk menerangi masyarakat yang belum mendapatkan akses
listrik khususnya pada desa-desa yang masih gelap gulita, terisolir yang
sulit dijangkau listrik PLN.
Pemasangan LTSHE di Bengkulu dilakukan di lima kabupaten, yang pertama
yakni Kabupaten Kepahiang sebanyak 1.238 unit yang tersebar di delapan
desa di dua kecamatan, yaitu Desa Kota Agung, Embong Jiuk, Embong Sido,
Talang Sawah dan Sosokan Cinta Mandi yang berada di Kecamatan Ilir.
Kemudian di Desa Sosokan Taba, Talang Tige, dan Sosokan Baru, yang
berada di Kecamatan Muara Kemumu.
Kedua yakni di Kabupaten Bengkulu Utara sebanyak 403 unit yang tersebar
di tiga desa di dua kecamatan, yakni Desa Suka Maju dan Suka Baru di
yaitu Kecamatan Marga Sakti Seblat, serta Desa Lebong Tandai di
Kecamatan Napal Putih.
Pemasangan LTSHE selanjutnya dilakukan di Kabupaten Seluma sebanyak 249
unit yang tersebar di tiga desa di dua kecamatan, yaitu di Desa Suban
dan Maras Jauh, Kecamatan Semidana, serta Desa Sinar Pagi di Kecamatan
Seluma Utara.
Kemudian di Kabupaten Kaur sebanyak 120 unit yang tersebar di Desa Suka
Jaya, Kecamatan Nasal.
Terakhir yakni Kabupaten Lebong sebanyak 101 unit yang tersebar di Desa
Sungai Lisai, Kecamatan Pinang Belapis.
Akhmad mengungkapkan, program pemasangan LTSHE merupakan program dari
Pemerintah Pusat untuk memberikan akses penerangan kepada masyarakat
yang berada di wilayah 3T (Terpencil, Tertinggal dan Terluar) yang
sampai dengan 73 tahun kemerdekaan Indonesia belum pernah merasakan
akses energi listrik.
Pewarta:Sella Panduarsa Gareta
Editor: M Razi Rahman
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com