Padi Hibrida Tiongkok Atasi “Soal Makan” Asia Tenggara
http://indonesian.cri.cn/20190107/77f4d2c3-dcd2-c5b7-587c-cc8dd868afd7.html
2019-01-07 10:52:48
“Mengembangkan padi hibrida untuk kesejahteraan rakyat merupakan
impianku seumur hidup”, kata Yuan Longping, “Bapak Padi Hibrida”,
Akademisi dari Akademi Rekayasa Tiongkok ketika ia mengenangkan kembali
penelitiannya atas padi hibrida selama puluhan tahun.
Pada awal tahun 1990-an abad yang lalu, Organisasi Bahan Pangan dan
Pertanian PBB (FAO) mencantumkan promosi padi hibrida sebagai langkah
strategis pertama untuk menyelesaikan masalah kekurangan bahan pangan
negara-negara berkembang. Mulai saat itu, sejumlah negara berkembang
mulai mempromosi padi hibrida. Yuan Longping beserta timnya berhasil
mengembangkan padi hibrida dalam berbagai jenis yang sesuai dengan
penanaman negara-negara Asia Tenggara menurut lingkungan tanah dan
kondisi iklim berbagai negara. Kini, di Filipina, Indonesia dan Vietnam
serta negara-negara Asia Tenggara lainnya terlihat penanaman padi
hibrida Tiongkok dalam area yang luas. “Pada ajaib” dari Tiongkok itu
telah membawa fajar bagi warga Asia Tenggara untuk menyelesaikan “soal
makan”.
Pusat Penelitian Padi Hibrida Tropis Filipina terletak dari Provinsi
Laguna, sebelah selatan Manila. Pada awal tahun 1990-an, tim Yuan
Longping mengerahkan ahli padi hibrida ke daerah setempat, bekerja sama
dengan pusat penelitian tersebut untuk penanaman padi hibrida. Selama
hampir 20 tahun, para ahli Tiongkok bersama dengan pusat penelitian
tersebut mengembangkan dan mempopulerkan padi hibrida, tidak saja
meningkatkan teknik penanaman padi Filipina, tetapi juga menambah
pendapatan warga setempat.
Diberitakan, hasil produksi per unit padi nasional Filipina rata-rata
mencapai 3,4 ton per hektar, hingga tahun 2018, angka itu sudah naik
sampai 4 ton per hektar, hasil produksi bertambah padi tercatat 240 ton
sepanjang tahun.
Pada tahun 2010, “program kerja sama teknik padi hibrida
Tiongkok-Indonesia” dihidupkan resmi di Indonesia dan diterapkan bersama
oleh kedua pihak. Program tersebut berhasil mengembangkan jenis baru
padi hibrida yang lebih sesuai dengan kondisi tanah dan iklim setempat,
sementara menatar sejumlah tenaga teknis setempat, sehingga merealisasi
penambahan hasil produksi bahan pangan. Warga setempat menyebut padi
hibrida Tiongkok sebagai “super padi ”. Hingga tahun 2015, teknik padi
hibrida Tiongkok sudah dipopulerkan di 13 provinsi Indonesia, hasil
produksi setiap hektar bertambah satu kali lipat lebih dari pada padi
hasil setempat. Kini, tim Yuan Longping aktif membantu petani setempat
untuk mengembangkan padi hibrida jenis baru, dalam rangka memperluas
pasar ke berbagai negara dan daerah sekitar “Sabuk dan Jalan”.
Selama bertahun-tahun, para ahli padi hibrida Tiongkok secara diam-diam
menyumbangkan amalnya dan kecerdasannya di kawasan Asia Tenggara,
membantu warga setempat untuk menyelesaikan “soal makan”, memberi
kontribusi kepada ketahanan bahan pangan.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com