https://news.detik.com/kolom/d-4373750/golfud-dan-pilpres-2019
Senin 07 Januari 2019, 12:18 WIB
Kolom
"Golfud" dan Pilpres 2019
Rizal Mustary - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4373750/golfud-dan-pilpres-2019#>
Rizal Mustary
<https://news.detik.com/kolom/d-4373750/golfud-dan-pilpres-2019#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4373750/golfud-dan-pilpres-2019#> Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4373750/golfud-dan-pilpres-2019#> Share
*0* <https://news.detik.com/kolom/d-4373750/golfud-dan-pilpres-2019#> 1
komentar <https://news.detik.com/kolom/d-4373750/golfud-dan-pilpres-2019#>
Golfud dan Pilpres 2019 Mahfud MD memberi pembekalan pada bacaleg PSI
(Foto: Zunita Amalia Putri)
*Jakarta* - Tahun 2018 yang baru saja berlalu mengenalkan sebuah istilah
dalam kontestasi politik Tanah Air. Golfud, bukan Golput (Golongan
Putih). Baik Golfud maupun Golput, sama-sama lahir dari respons kecewa
sejumlah kalangan atas kondisi atau peristiwa politik menjelang pemilu,
lebih tepatnya pilpres. Tapi, bila Golput mengajak orang untuk tidak
memilih salah satu kandidat, Golfud sebaliknya. Golongan ini justru
mendorong publik menggunakan hak pilihnya untuk mencoblos salah satu
pada April nanti, Jokowi atau Prabowo.
Golfud adalah sebutan bagi mereka yang menyebut dirinya "Golongan
Mahfud", merujuk pada nama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD.
Istilah itu sekonyong-konyong muncul setelah Jokowi memutuskan tidak
memilih Menteri Pertahanan di era Presiden Gus Dur itu sebagai
cawapresnya. Para pendukung Mahfud meyakini bahwa kehidupan di bidang
hukum dan politik dalam lima tahun ke depan akan lebih berkualitas
manakala Mahfud ikut dalam kontestasi dan bisa membantu pasangan
capresnya memenangkan Pilpres 2019.
Golongan Mahfud seketika menghiasi perbincangan di media sosial. Dimulai
oleh akun milik Akhmad Sahal dan Goenawan Mohamad, kemudian disambut
oleh kelompok /netizen/ yang lain. Nama Golfud sendiri dimunculkan
pertama kali oleh Feri Amsari, pengamat Hukum Tata Negara dari
Universitas Andalas. Gagasan utamanya adalah hadirnya sebuah kelompok di
tengah hiruk-pikuk kampanye pilpres, yang terus menyuarakan urgensi
penegakan hukum di negeri ini, keteguhan dalam memberantas korupsi,
konsistensi dalam mengembangkan toleransi, dan keberanian menghadapi
kelompok-kelompok radikal.
Itulah yang dalam pikiran para penggagas Golfud merupakan kekuatan yang
dimiki oleh Mahfud MD, yang sulit dijumpai pada tokoh lain di negeri
ini. Dalam keseharian, Golfud mengambil sikap tidak partisan apalagi
menjadi pendukung fanatik salah satu calon. Mesti tersedia ruang bagi
segolongan orang yang tidak ingin mengumbar pilihan politiknya, tidak
ikut dalam perdebatan, atau terjebak pada dialog yang tidak sehat
antardua kubu yang berkompetisi.
Itu sebabnya, lahir beragam tagar di media sosial seperti Pilpres Ceria,
Pemilu Damai, Tetap Indonesia, dan Tetap Pancasila. Meskipun pada
akhirnya mereka bersepakat bahwa masing-masing orang harus memilih salah
satu pasangan capres-cawapres pada 17 April mendatang dengan beberapa
pertimbangan.
Pertama, jika seseorang tidak menggunakan hak pilihnya dalam pilpres,
maka yang bersangkutan tidak akan bisa menghindar dari kepemimpinan
presiden terpilih nanti, siapapun orangnya. Pertimbangan pertama ini
melahirkan alasan kedua, yaitu bila tidak ditemukan pasangan yang ideal
karena masing-masing memiliki kekurangan, maka dipilih pasangan yang
paling baik di antara yang tidak ideal itu. Pertimbangan ketiga, pilpres
sejatinya bukan untuk memilih orang yang betul-betul baik menjadi
pemimpin, tapi adalah untuk mencegah orang jahat menjadi penguasa.
Ketika saya mem-/posting/ di Instagram sebuah foto sedang makan siang
bersama Mahfud MD, seorang teman menuliskan komentar di akun saya,
"/Bro/, salam hormat untuk beliau. Saya Golfud sekarang," tulis sahabat
yang juga Pemimpin Redaksi sebuah media nasional itu. Foto itu saya
/posting/ tepat di hari peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus 2018 lalu,
disertai /caption/: "Hari merdeka, bersama orang merdeka. Dirgahayu
Indonesia..."
Bagi saya, Mahfud memang sungguh-sungguh merdeka. Di balik kekecewaan
para pendukungnya, Mahfud sejatinya telah terbebas dari peluang untuk
menjadi pengemban amanah yang amat berat bagi negeri ini, menjadi Calon
Wakil Presiden RI. Sikap legowo yang ia tunjukkan di berbagai media
menjelaskan dengan baik visi kenegarawanannya, meski tetap saja muncul
pandangan bahwa ia korban "PHP" oleh salah seorang capres.
Seakan tidak peduli dengan pandangan-pandangan provokatif itu, Mahfud
kian produkif melahirkan pernyataan yang mengajak masyarakat untuk
menebar kebaikan, mendorong para pemimpin untuk bersikap adil, /fair/,
dan demokratis dengan dilandasi nilai-nilai luhur Pancasila. Hasilnya,
apresiasi publik padanya semakin deras mengalir. Golfud menyebar dengan
cepat ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga ke Melbourne dan
Tokyo, lengkap dengan kaos bergambar wajah Mahfud.
Saya sendiri tidak memiliki dan tidak menginginkan kaos bergambar Mahfud
itu agar saya terhindar dari niat mengkampanyekan sang tokoh menjelang
plipres. KPU sudah menetapkan dua pasangan pada pilpres mendatang
sehingga yang resmi kini adalah golongan Jokowi-Ma'ruf dan golongan
Prabowo-Sandi. Karena itu, Golfud yang sejatinya bertujuan
mengkampanyekan demokrasi dan pentingnya menggunakan hak pilih, sudah
menjadi bagian integral dari salah satu golongan ini.
Menjadi pertanyaan sejumlah kalangan terutama pada bulan-bulan akhir
masa kampanye seperti ini, ke mana gerangan Mahfud MD menambatkan
pilihannya kelak? Mungkinkah ia pada akhirnya meng-/endorse/ salah satu
calon yang ia yakini akan mampu memajukan bangsa ini? Betapapun, pilihan
politik Mahfud MD akan menjadi referensi penting bagi kalangan calon
pemilih yang selama ini mengikuti pemikiran dan visinya yang jelas untuk
kemajuan bangsa.
Ingatan saya melayang ke ajang pemilihan presiden 2008 di Amerika
Serikat. Tokoh sekaliber Colin Powell pada akhirnya mendeklarasikan diri
untuk mendukung salah satu calon presiden, John McCain atau Barack
Obama, tepat pada masa para calon pemilih membutuhkan referensi kuat
untuk menentukan pilihan. "/I think he is a transformational figure/,/he
is a new generation coming onto the world stage, onto the American
stage, and for that reason I'll be voting for Senator Barack Obama/,"
ujar mantan Menlu dan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS itu di
acara televisi /Meet The Press/ pada Oktober 2008.
Powell adalah mantan pejabat dan politisi Partai Republik yang kredibel
dan sangat disegani rakyat Amerika. /Endorsemen/t-nya menambah simpati
dan dukungan signifikan bagi Barack Obama yang berseberangan partai
dengannya, yang pada akhirnya terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat.
Di Tanah Air, sejumlah kalangan pada awal 2019 ini juga menantikan
langkah dan keputusan politik Mahfud MD. Namun, sembari menunggu itu,
Golfud telah memberi inspirasi dan panduan untuk menentukan pilihan pada
pilpres mendatang. Sesuai pandangan Mahfud MD dalam berbagai diskusi
bersama Golfud, pilihlah pemimpin yang terbukti paling banyak manfaatnya
atau setidaknya paling sedikit mudaratnya.
*Rizal Mustary* /praktisi komunikasi /
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*