https://news.detik.com/kolom/d-4375569/berburu-undecided-voters-lewat-debat-pilpres-2019?tag_
from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.24046003.800887405.1546958907-1693964532.1546958897
Selasa 08 Januari 2019, 14:05 WIB
Kolom
Berburu "Undecided Voters" Lewat Debat
Pilpres 2019
Ali Rif'an - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4375569/berburu-undecided-voters-lewat-debat-pilpres-2019?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.24046003.800887405.1546958907-1693964532.1546958897#>
Ali Rif'an
<https://news.detik.com/kolom/d-4375569/berburu-undecided-voters-lewat-debat-pilpres-2019?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.24046003.800887405.1546958907-1693964532.1546958897#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4375569/berburu-undecided-voters-lewat-debat-pilpres-2019?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.24046003.800887405.1546958907-1693964532.1546958897#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4375569/berburu-undecided-voters-lewat-debat-pilpres-2019?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.24046003.800887405.1546958907-1693964532.1546958897#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4375569/berburu-undecided-voters-lewat-debat-pilpres-2019?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.24046003.800887405.1546958907-1693964532.1546958897#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4375569/berburu-undecided-voters-lewat-debat-pilpres-2019?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.24046003.800887405.1546958907-1693964532.1546958897#>
Berburu Undecided Voters Lewat Debat Pilpres 2019 Ilustrasi: Edi Wahyono
*Jakarta* -
Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menyusun jadwal debat calon presiden
dan wakil presiden pada Pilpres 2019. Adu gagasan tersebut akan digelar
lima ronde. Debat pertama digelar pada 17 Januari 2019 dengan peserta
debat pasangan calon presiden-wakil presiden. Tema yang diangkat adalah
persoalan hukum, HAM, korupsi, dan terorisme.
Debat kedua akan berlangsung 17 Februari 2019 dengan peserta antarcalon
presiden dan mengusung tema energi, pangan, SDA, lingkungan hidup, dan
infrastruktur. Debat ketiga diselenggarakan 17 Maret 2019 dengan tema
pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan kebudayaan, dengan
peserta debat adalah antarcalon wakil presiden.
Sedangkan, debat keempat akan dihelat 30 Maret 2019 dengan tema
ideologi, pemerintahan, pertahanan, dan keamanan, dan hubungan
internasional. Peserta debat adalah antarcalon presiden. Adapun debat
kelima akan digelar pada 10 atau 13 April 2019 (waktu masih tentatif)
dengan tema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan, investasi
perdagangan dan industri. Peserta debat kelima adalah antar-pasangan
calon presiden-wakil presiden.
Debat Pilpres 2019 kali ini menarik karena empat alasan. Pertama, debat
digelar sebanyak lima kali. Hal ini sangat istimewa bagi ruang publik
demokrasi Indonesia mengingat di negara kampiun demokrasi sekelas
Amerika Serikat saja debat pilpres hanya digelar tiga kali. Dengan
diselenggarakan lima kali, debat berarti memiliki makna dan nilai
penting dalam kompetisi elektoral di Indonesia.
Kedua, debat hanya diikuti dua pasangan calon, yaitu Joko Widodo-KH
Ma'ruf Amin (Nomor 01), dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Nomor 02).
Dan, dua kandidat capres-yakni Joko Widodo dan Prabowo
Subianto-merupakan rival lama di Pilpres 2014. Dengan kondisi demikian,
ring debat akan lebih semarak karena adu gagasan kali ini merupakan
perpaduan antara narasi lama (2014) dan narasi baru (2019).
Ketiga, debat pilpres kali ini bertepatan dengan momentum digelarnya
Pemilu Serentak 2019 pertama kali di Indonesia. Lantaran pemilu presiden
dan pemilu legislatif digelar berbarengan, maka gemuruh debat akan
bergema hingga ke daerah-daerah. Hal ini mengingat debat pilpres juga
menjadi pertaruhan partai-partai politik dan para calon anggota
legislatif di seluruh Indonesia.
Keempat, debat pilpres digelar pada saat /undecided voters/ masih
tinggi. /Undecided voters/ adalah mereka para pemilih yang belum
menentukan pilihan. Menurut data berbagai lembaga survei, /undecided
voters/ hingga Desember 2018 masih di angka sekitar 16%.
Tentu di tengah situasi kompetisi antardua pasangan calon yang masih
relatif kompetitif, debat pilpres dapat menjadi momentum pertaruhan.
Pasalnya, dalam sejumlah survei, meskipun pasangan Joko Widodo-KH Ma'ruf
Amin selalu unggul, namun jika dirata-rata interval elektabilitasnya
dengan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sekitar 20 persen. Bahkan ada data
yang menyebut interval keduanya sudah di angka 12 persen.
Itu artinya, dengan jumlah interval tersebut, maka kandidat yang mampu
merebut pemilih /undecided voters/ punya potensi memenangi kompetisi
elektoral 2019. Sebaliknya, gagal merebut /undecided voters/, maka
peluang kekalahan sangat terbuka lebar.
*Efek Debat
*
Karena itu, debat pilpres bisa menjadi ajang untuk berburu /undecided
voters/. Mitchell S. McKinney dan Diana B. Carlin dalam /Political
Campaign Debates/ mengatakan bahwa ada sejumlah efek debat bagi publik,
di antaranya adalah efek kognitif (/cognitive effects/). Efek kognitif
ini berkaitan dengan pesan-pesan (argumentasi, visi-misi dan program
kerja) yang berkaitan dengan isu-isu yang diangkat untuk mempengaruhi
pemilih.
Debat Obama versus McCain pada Pilpres Amerika Serikat 2008 lalu
misalnya bisa menjadi contoh betapa efek kognitif mampu merubah peta
suara pilpres. Obama yang saat itu sempat mengalami penurunan suara
dalam berbagai survei dan jajak pendapat ternyata mengalami kenaikan
suara usai debat digelar. Melalui debat, Obama mampu menyajikan
gagasan-gagasan /genuine/ untuk menarik suara pemilih Amerika, khususnya
para /undecided voters./
Tentu hal sama dapat berlaku dalam Pilpres 2019. Debat pilpres dapat
digunakan untuk merebut /undecided voters/. Apalagi, jika ditelusuri
/undecided voters/ sejatinya terjadi karena beberapa faktor. Pertama,
karena pemilih punya pandangan bahwa pemilu tidak akan merubah nasibnya.
Para pemimpin hasil pemilu dinilai tak mampu memberikan perubahan bagi
sebagian besar kehidupan mereka.
Kedua, pemilih belum mampu menyerap visi-misi dan program yang
ditawarkan masing-masing kandidat capres-cawapres. Kondisi itu terjadi
mengingat narasi politik yang dibangun dalam masa kampanye belakangan
adalah narasi sensasional berbau kebencian dan hoaks, bukan
narasi-narasi substansial berbasis visi-misi dan program kerja.
Akibatnya, ruang publik lebih banyak disesaki percekcokan dan saling
hujat ketimbang adu visi-misi dan gagasan.
Pada titik inilah, debat pilpres (apalagi digelar hingga lima kali)
dapat menjadi momentum bagi pasangan kandidat untuk meyakinkan publik
bahwa pemilu sesungguhnya membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat.
Begitu pula bagi publik yang belum mampu menyerap visi-misi dan program
kerja capres-cawapres, melalui ajang adu gagasan tersebut, masyarakat
akan dapat melihat dan mencerna secara mendalam tentang platform gagasan
yang ditawarkan kedua pasangan kandidat.
Karena itu, menurut hemat saya, debat pilpres bisa menjadi peluang di
satu sisi namun juga dapat menjadi ancaman di sisi lain. Menjadi peluang
jika debat pilpres mampu mendatangkan efek kognitif sehingga mampu
mempengaruhi pemilih, khususnya /undecided voters/. Namun, menjadi
ancaman jika adu gagasan tersebut tidak mampu mendatangkan efek
kognitif. Alih-alih mampu menarik suara /undecided voters/, peluang
kekalahan dalam kompetisi elektoral 2019 justru makin terbuka lebar.
*Ali Rif'an */Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia
/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*