Jelang Pilpres 2019, Presiden Jokowi Tempatkan Islam di Bawah Sorotan 
https://www.matamatapolitik.com/jelang-pilpres-2019-presiden-jokowi-tempatkan-islam-di-bawah-sorotan/
 

 Sumberwww.atimes.com 
http://www.atimes.com/article/widodo-puts-islam-front-and-center-ahead-of-polls/
 mailto:[email protected]
 
 Posted on January 13, 2019
 

 

 Ketua ulama Islam, Ma’ruf Amin, telah menetralisir ancaman ekstremis terhadap 
kampanye kandidat presiden petahana Indonesia Joko Widodo. Di sisi lain, 
kritikus mengatakan bahwa hal itu merugikan isu-isu yang lebih krusial bagi 
pemilih. Sampai saat ini, ulama konservatif itu lebih seperti penumpang dalam 
kampanye Pilpres 2019 
https://www.matamatapolitik.com/opini-politik-ekonomi-indonesia-pasca-pilpres-2019-kurang-lebih-masih-sama/.
 Baca juga: Analisis Pilpres 2019: Mengapa Jokowi Berpotensi Kalah di Sumbar 
https://www.matamatapolitik.com/analisis-pilpres-2019-mengapa-jokowi-berpotensi-kalah-di-sumbar/
 Oleh: John McBeth (Asia Times)
 Tidak ada yang terkejut ketika ulama konservatif Ma’ruf Amin, calon wakil 
presiden berusia 75 tahun yang dipasangkan dengan kandidat petahana Presiden 
Indonesia Joko “Jokowi” Widodo menjelang batas waktu pencalonan, terbukti tak 
lebih dari seorang penumpang di kursi kemudi Presiden Jokowi menjelang Pilpres 
2019 
https://www.matamatapolitik.com/topik-debat-pilpres-2019-masalah-pajak-jadi-isu-terpanas/.
 
 Ma’ruf Amin kemungkinan akan lebih tak berperan nyata jika Jokowi terpilih 
kembali, meskipun kaum minoritas resah atas pengaruh apa yang mungkin ia coba 
berikan pada isu-isu seperti RUU Halal yang berpotensi menimbulkan bencana, 
atau lebih buruk lagi, jika sesuatu terjadi pada presiden yang tampaknya sehat.
 Pada akhirnya, para analis mungkin berpendapat bahwa meskipun Amin tidak akan 
mungkin mendatangkan lebih banyak suara bagi Jokowi, dia setidaknya telah 
menangkap ancaman kemunduran dalam dukungan di antara komunitas Islam 
konservatif, yang mendorong presiden untuk mencari pasangan cawapres yang 
memiliki kredensial agama.
 Untuk beberapa orang, Ma’ruf Amin telah mencapai tujuannya dengan membagi 
Gerakan 212, koalisi konservatif yang menjatuhkan Gubernur Jakarta Basuki 
Tjahaja “Ahok” Purnama pada awal tahun 2017 dan yang telah menyerang Jokowi 
dengan pandangan ekstremis pada juga. Ma’ruf Amin membantu mendirikan gerakan 
protes, lalu mengatakan tugasnya selesai setelah Ahok dipenjara karena kasus 
penistaan agama. Ma’ruf Amin baru-baru ini mengaku menyesal telah mengirim 
gubernur populer tersebut ke penjara, menjelaskan bahwa hukum hanya berjalan 
sesuai alurnya.
 Ma’ruf Amin dalam foto tertanggal 18 Oktober 2018. (Foto: Forum AFP)

 Meski demikian, Gerakan 212 tampaknya sudah lemah, sejak kehilangan pemimpin 
Front Pembela Islam (FPI) garis keras Rizieq Shihab, yang melarikan diri ke 
pengasingan di Arab Saudi pada pertengahan tahun 2017 untuk menghindari tuduhan 
kriminal yang menurutnya memiliki unsur politik.
 Bahkan juru bicara Kapitra Ampera, yang pernah menjadi pengacara untuk Shihab 
dan juga Tommy Soeharto, putra bungsu mantan presiden Soeharto, telah menjadi 
calon anggota parlemen untuk Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), 
partai yang mengusung Jokowi, di Provinsi Riau.
 Azyumardi Azra, pimpinan pascasarjana Universitas Islam Negeri Indonesia, 
menegaskan bahwa Gerakan 212, yang dinamai berdasarkan tanggal demonstrasi 
massa anti-Ahok di Jakarta pada tanggal 2 Desember 2016, lebih merupakan 
gerakan politik daripada agama dan memang ditakdirkan untuk terpecah.
 Untuk semua kekhawatiran pada saat itu, sulit untuk melihat bagaimana 
faktor-faktor yang bersekongkol untuk menjatuhkan gubernur etnis Tionghoa di 
kota terbesar di Indonesia dapat direplikasi di panggung nasional yang jauh 
lebih luas.
 Sebagai mantan presiden Nahdlatul Ulama, dan organisasi Muslim terbesar di 
Indonesia dan dunia, serta ketua ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang 
berpengaruh, Ma’ruf Amin mungkin memiliki kredensial agama yang tak tertandingi.
 Umat Muslim Indonesia mengadakan salat subuh di Jakarta pada tanggal 12 
Desember 2016. (Foto: AFP/Kahfi Syaban Nasuti)

 Tetapi putra seorang ahli agama Jawa Barat yang kurang dikenal tersebut 
membentuk karirnya oleh kepiawaiannya sebagai politisi Islam maupun hukum 
Islam. Dengan itu muncullah kemampuan Ma’ruf Amin untuk bergeser seiring dengan 
angin politik. Menyatukan kelompok-kelompok dan partai-partai Islam yang 
berbeda membuat Ma’ruf Amin mendapat peran kepemimpinan lokal di NU, yang kini 
memiliki 45 juta anggota resmi, dan akhirnya mendapat kursi di dewan legislatif 
Jakarta pada tahun 1971, posisi yang dipegangnya hingga 11 tahun berikutnya.
 Rezim orang kuat Suharto menyingkirkannya sebagai calon nasional dari Partai 
Persatuan Pembangunan (PPP), partai di mana NU dipaksa untuk bergabung pada 
tahun 1973. Sejak Suharto digulingkan pada tahun 1998, Ma’ruf Amin kembali ke 
politik praktis.
 Amin memenangkan kursi untuk Partai Kebangkitan Nasional (PKB) NU yang baru 
dibentuk dalam pemilihan demokratis pertama pasca-Suharto pada tahun 1999, 
tetapi ia keluar dari parlemen pada tahun 2004 setelah berselisih dengan mantan 
presiden pluralis Abdurrahman Wahid, keturunan salah satu pendiri NU.
 Azra menyebut Amin seorang oportunis yang, ketika menjabat sebagai penasihat 
mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bertanggung jawab mendorong suksesi 
fatwa dan kebijakan yang mengarah pada penurunan yang mengkhawatirkan dalam 
reputasi Indonesia untuk toleransi beragama antara 2008 hingga 2014.
 Presiden Indonesia Joko Widodo dan pasangan cawapres yang mendampinginya 
Ma’ruf Amin mengambil bagian dalam deklarasi perdamaian untuk kampanye 
pemilihan umum di Monumen Nasional di Jakarta, tanggal 23 September 2018. 
(Foto: AFP Photo/Adek Berry)

 Indonesia khawatir oleh bagaimana pria yang biasanya memakai sandal dan sarung 
itu akan menangani masalah ekonomi dan duniawi lainnya dalam debat televisi 
saat berhadapan dengan taipan milenial Sandiaga Uno, calon wakil presiden yang 
mendampingi capres Prabowo Subianto.
 Tentu saja, Ma’ruf Amin akan menjadi suara persuasif terhadap para pendukung 
kubu Prabowo yang berusaha melabeli Jokowi sebagai komunis yang tidak Islami 
dan tertutup. Namun, sebagian besar jajak pendapat menunjukkan bahwa Ma’ruf 
Amin memiliki sedikit pengaruh secara keseluruhan dibandingkan dengan 
popularitas Jokowi, yang tetap di atas 50 persen dibandingkan dengan 28-29 
persen yang memilih Prabowo di jajak pendapat.
 Memang, dalam satu survei baru-baru ini Jokowi benar-benar kehilangan 1,5 
persen dengan keberadaan Ma’ruf Amin, sementara di antara pemilih yang lebih 
muda kesenjangannya adalah 8-10 persen. Tapi angka itu memungkiri realitas 
politik lainnya, khususnya di dua benteng konservatisme Islam, Banten dan 
provinsi tetangganya Jawa Barat, provinsi terpadat di Indonesia.
 Jokowi kehilangan banyak suara di sana pada Pilpres 2014, sebagai dua dari 
lima provinsi di mana saingannya Prabowo meraih banyak suara. Di Banten, 
provinsi asal Ma’ruf Amin, elektabilitas Jokowi saat ini anjlok dari 58,7 
persen menjadi 39 persen dan mungkin akan semakin jauh tergantung pada 
tanggapannya terhadap bencana tsunami Gunung Anak Krakatau baru-baru ini.
 Tapi Ma’ruf Amin hanya sedikit dikenal di komunitas Islam Banten yang tenang. 
Dia meninggalkan Jawa Barat bersama orang tuanya pada usia dini untuk belajar 
di pesantren Islam berpengaruh Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, yang didirikan 
oleh pendiri NU Hasyim Asy’ari pada akhir tahun 1890-an.
 Kandidat presiden Indonesia Prabowo Subianto dan pasangan kandidat wakil 
presiden yang mendampinginya Sandiaga Uno memberi isyarat ketika menghadiri 
deklarasi perdamaian, untuk kampanye pemilihan umum mendatang, di Monumen 
Nasional di Jakarta, tanggal 23 September 2018. (Foto: AFP/Adek Berry)

 Di medan perang utama Jawa Barat, di mana presiden bertekad untuk menang, 
faktor-faktor politik yang berbeda, termasuk dukungan kali ini dari Partai 
Golkar yang berada di peringkat kedua dan juga gubernur reformis Provinsi 
Bandung Ridwan Kamil, sekutu Jokowi, telah memberikan kemenangan tipis bagi 
capres petahana.
 Jokowi mulai mendekati Ma’ruf Amin segera setelah urusan pengadilan Ahok 
berakhir. Namun demikian, Jokowi belum melabeli Ma’ruf Amin sebagai calon wakil 
presiden hingga para sekutunya dalam koalisi yang berkuasa menolak pilihannya, 
mantan ketua Mahkamah Konstitusi Mohammad Mahfud MD, yang mereka khawatirkan 
memiliki ambisi politik sendiri.
 Pemimpin gerakan itu adalah ketua PDI-P Megawati Sukarnoputri, yang melihat 
putrinya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan 
Maharani, 45 tahun, sebagai kandidat presiden pada Pilpres 2024, dan ketua PKB 
yang ambisius, Muhaimin Iskandar, 52 tahun, wakil ketua Majelis Permusyawaratan 
Rakyat (MPR).
 Ironisnya, sementara Prabowo sejauh ini menjauhi masalah primordial, mungkin 
sebagian karena uang yang dia butuhkan dari komunitas bisnis etnis China untuk 
kampanye yang kekurangan dana, pemerintah Jokowi yang telah mengambil posisi 
menyerang.
 Selama pertemuan nasional bulan November 2018, Dewan Masjid Indonesia (DMI), 
yang dipimpin untuk masa jabatan lima tahun dalam periode kedua oleh Wakil 
Presiden Jusuf Kalla, mengeluarkan dekrit bahwa 800.000 masjid di Indonesia 
seharusnya tidak boleh digunakan untuk kegiatan politik.
 Sementara Azra meragukan kemampuan lembaga itu untuk menegakkan arahan, 
pernyataan tersebut adalah upaya yang jelas untuk menghentikan agar 
tempat-tempat ibadah tidak menjadi titik mobilisasi oposisi, seperti selama 
kampanye anti-Ahok. Saat itu, Jusuf Kalla ironisnya dan mengecewakan bagi 
Jokowi, mendukung kandidat Pilkada Jakarta yang akhirnya menang, Anies Baswedan.
 Protes kelompok-kelompok Islam yang disebut ‘garis keras’ melawan Gubernur 
Jakarta Basuki Purnama di Jakarta pada tanggal 21 Februari 2017. (Foto: Antara 
Foto via Reuters/Wahyu Putro A)

 Sedikit menarik perhatian media ketika awal tahun 2018, panel ahli DMI 
melibatkan direktur Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan, anggota 
lingkaran dalam Megawati sejak menjabat sebagai ajudan polisi.
 BIN mengeluarkan laporan pada saat pertemuan bulan November 2018 yang 
memperingatkan bahwa 41 masjid di sebuah lingkungan Jakarta telah menyebarkan 
dakwah berbau ekstremisme dan intoleransi agama kepada para jamaah, banyak di 
antaranya merupakan pegawai pemerintah.
 Baca juga: Pilpres 2019: Prabowo Tiru Pemangkasan Pajak ala Trump untuk 
Dongkrak Ekonomi 
https://www.matamatapolitik.com/pilpres-2019-prabowo-tiru-pemangkasan-pajak-ala-trump-untuk-dongkrak-ekonomi/
 Baru-baru ini, PKB, salah satu dari enam partai yang membentuk koalisi 
pemerintah Jokowi, menyatakan dukungan untuk saran dari ulama Aceh bagi calon 
presiden untuk menjalani tes membaca Alquran, yang mungkin akan mempersulit 
Prabowo sebagai satu-satunya Muslim dalam keluarga Kristen.
 Yang dikhawatirkan para kritikus adalah bahwa kehebohan dengan isu agama 
mengabaikan fakta bahwa pemilu harus memperjuangkan isu-isu yang mempengaruhi 
kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia, yang masih membayar mahal untuk beras 
dibandingan dengan warga negara anggota ASEAN yang lainnya dan sekarang telah 
diberitahu bahwa sistem peringatan tsunami Indonesia selama ini banyak yang 
rusak.
 Ma’ruf Amin tampaknya merangkum semua kekhawatiran itu, seorang calon wakil 
presiden yang pengalamannya di dunia nyata terbatas pada perbankan Islam dan 
sedikit bidang lainnya. Menurut Azra, “Orang-orang khawatir tidak hanya tentang 
kesehatannya [ia memiliki masalah jantung dan mudah lelah], tetapi kurangnya 
keahlian dalam hal apa pun di luar agama.”
 
 Keterangan foto utama: Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo berdoa pada 
acara Nuzulul Quran di Istana Kepresidenan, Istana Merdeka di Jakarta, 
Indonesia, tanggal 5 Juni 2018. (Foto: AFP Forum/NurPhoto)

Kirim email ke