https://news.detik.com/kolom/d-4383957/capres-fiktif-dan-parodi-politik?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.130052047.1927496871.1547474301-1638900659.1547474301
Senin 14 Januari 2019, 15:20 WIB
Kolom
Capres Fiktif dan Parodi Politik
Siti Nurul Hidayah - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4383957/capres-fiktif-dan-parodi-politik?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.130052047.1927496871.1547474301-1638900659.1547474301#>
Siti Nurul Hidayah
<https://news.detik.com/kolom/d-4383957/capres-fiktif-dan-parodi-politik?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.130052047.1927496871.1547474301-1638900659.1547474301#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4383957/capres-fiktif-dan-parodi-politik?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.130052047.1927496871.1547474301-1638900659.1547474301#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4383957/capres-fiktif-dan-parodi-politik?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.130052047.1927496871.1547474301-1638900659.1547474301#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4383957/capres-fiktif-dan-parodi-politik?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.130052047.1927496871.1547474301-1638900659.1547474301#>
2 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4383957/capres-fiktif-dan-parodi-politik?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.130052047.1927496871.1547474301-1638900659.1547474301#>
Capres Fiktif dan Parodi Politik Foto: Dok. Instagram @nurhadi_aldo
*Jakarta* - Lima tahun belakangan politik Tanah Air harus diakui
berkembang ke arah yang sama sekali tidak menyenangkan, apalagi
mencerahkan. Kelindan antara agama dan politik membikin pendulum politik
nasional bergerak tak tentu arah; liar, acak, dan serba tak pasti.
Perebutan kekuasaan politik dalam banyak hal lantas lebih mirip seperti
perang, di mana satu pihak mengklaim kelompoknya sebagai representasi
kekuatan baik dan menuding kelompok lainnya sebagai representasi
kekuatan jahat.
Di level wacana para elite, perdebatan politik yang mereka lakukan pun
gagal melahirkan perspektif wacana yang segar dan baru. Perdebatan
politik lebih banyak berisi makian, cercaan, ujaran kebencian, hingga
pelintiran sentimen identitas. Debat politik yang tersaji baik di media
massa, terlebih media sosial, cenderung lebih banyak berisi saling olok
dengan diksi-diksi yang mencerminkan kedangkalan imajinasi kita.
Populernya kata cebong, kampret, dungu, dan lain sebagainya untuk
menyebut lawan politik adalah bukti betapa imajinasi politik kita
sungguh memprihatinkan.
Politik kita mengalami dekadensi moral, etika, dan intelektualitas yang
luar biasa. Lebih parah dari itu, politik kita kehilangan salah satu
elemen penting dari politik, yakni unsur kelucuan (/sense of humor/).
Politik, utamanya para elitenya, tidak ubahnya seperti aktor drama
berkualitas semenjana yang berlakon secara kaku, tegang, dan
menyebalkan. Situasi itulah yang barangkali melatari munculnya lelucon
pasangan calon presiden dan wakil presiden fiktif Nurhali-Aldo yang
mengklaim diusung oleh "Koalisi Tronjal-tronjol Maha Asyik".
Seperti kita ketahui, beberapa hari belakangan ini foto poster
capres-cawapres Nurhadi-Aldo, lengkap dengan /tagline/ politik yang
menggelikan --salah satunya berbunyi "kalau orang lain bisa, mengapa
harus kita?"-- berseliweran di linimasa media sosial kita. Masifnya
gairah publik dalam membagikan selebaran visual itu lantas membuatnya
jadi /viral/. Di tengah panasnya rivalitas politik kedua pasangan
capres-cawapres, terutama terkait berita sumir terkait 70 juta surat
suara tertoblos, munculnya fenomena ini cukup mengendurkan syaraf publik.
*Mendistorsi Realitas
*
Fenomena pasangan capres-cawapres fiktif Nurhadi-Aldo ini boleh jadi
merepresentasikan apa yang disebut Linda Hutcheon sebagai parodi. Dalam
bukunya /A Theory of Parody/ (1985), Hutcheon mendefinisikan parodi
sebagai salah satu bentuk tiruan atau imitasi yang mengandung unsur
kelucuan sekaligus ironi. Parodi dapat berbentuk visual, audio, maupun
gabungan dari keduanya.
Selain bermuatan humor, parodi umumnya juga mengandung ungkapan
ketidaksukaan, kekecewaan, atau bahkan sesuatu yang lebih dari itu,
seperti protes atau bentuk perlawanan lainnya. Karena itulah, parodi
kerap kali juga memuat permainan semiotika berupa olok-olok, plesetan,
atau pun sindiran terhadap satu isu atau fenomena tertentu.
Sebagai --katakanlah-- produk seni, parodi memunculkan jejaring
penafsiran dan tentunya makna baru dari konteks aslinya. Lagu-lagu
parodi --untuk menyebut salah satu contoh-- kerapkali berhasil
menjungkirbalikkan isi dan makna lagu hanya dengan mengganti sebagian
atau keseluruhan liriknya. Lagu cinta yang seharusnya mengharu biru bisa
diubah menjadi lagu lucu yang memicu gelak tawa pendengarnya.
Begitu pula dalam konteks parodi visual. Sebuah gambar atau foto yang
mendistorsi realitas asli dari gambar atau foto aslinya kerap membuat
kita tersenyum simpul. Sebagai misal, ketika lukisan terkenal Monalisa
diadaptasi dan diplesetkan ke dalam berbagai bentuk rupa wajah, mulai
dari artis Hollywood sampai perempuan tokoh politik terkenal.
Mikhail Bakhtin dalam /The Dialogue of Imagination/ --sebagaimana
dikutip oleh Yasraf Amir Piliang (2003)-- menyatakan parodi sebagai
bentuk dialogisme tekstual, //yakni dua teks atau lebih bertemu dan
berinteraksi satu sama lain dalam bentuk dialog yang menghasilkan
pertukaran timbal balik makna-makna yang sangat kaya, pluralistik, untuk
juga mengatakan multi-interpretatif.
Publik sebagai penikmat seni parodi boleh jadi akan merasa terhibur oleh
penjungkirbalikan persepsi dan permainan semiotika (pesan-tanda) yang
ditampilkan. Namun, bagi pihak yang diparodikan, semua lelucon dan
plesetan itu bisa disikapi secara reaktif dan menganggapnya sebagai
sebuah bentuk penghinaan. Namun, justru di situlah fungsi parodi, yakni
mengambil jarak dengan teks aslinya. Ia (parodi) berfungsi menguliti
sisi-sisi yang selama ini luput atau tidak terpikirkan oleh teks aslinya.
*Merayakan Demokrasi
*
Fungsi parodi sebagai teks baru yang berjarak dengan teks aslinya itu
sepertinya juga tampak dalam fenomena pasangan capres-cawapres fiktif
Nurhadi-Aldo. Siapa pun yang melihat poster pasangan capres-cawapres
fiktif itu di media sosial, hampir bisa dipastikan akan
mengasosiasikannya dengan capres-cawapres resmi versi Komisi Pemilihan
Umum (KPU). Namun, keseluruhan komposisi visual dalam poster tersebut
pada dasarnya adalah sebentuk teks baru yang memiliki kode semiotika
yang khas dibanding teks aslinya.
Mimik wajah yang tampak/innocent/, ditambah /tagline/ yang
menjungkirbalikkan logika adalah paduan ganjil namun berhasil
mendekonstruksi realitas politik kita hari ini. Harus kita akui,
realitas politik kita belakangan ini gagal melahirkan ide, gagasan,
wacana, dan konsep nilai yang layak diperjuangkan. Energi bangsa ini
seolah terkuras untuk melakoni jibaku politik yang didominasi oleh
eksploitasi ujaran kebencian dan reproduksi hoaks tiada henti.
Lebih spesifik dalam konteks Pilpres 2019, kita belum menyaksikan kedua
pasang capres-cawapres menyuguhkan perdebatan yang berkualitas. Visi,
misi, dan program dipacak oleh masing-masing pasangan lebih sebagai
sekadar formalitas. Polarisasi politik yang kadung membelah publik ke
dalam dua kelompok yang saling berseberangan, membuat kedua pasangan
capres-cawapres lebih memilih memainkan sentimen emosional calon pemilih
ketimbang jualan program dan gagasan. Menjadi wajar jika sebagian publik
merasa muak, jengah lantas memilih apatis dalam urusan politik.
Di tengah kebuntuan itulah parodi politik Nurhadi-Aldo muncul. Pasangan
fiktif ini tidak datang dengan tawaran program atau gagasan baru,
alih-alih justru memparodikan idiom-idiom politik yang selama ini
berseliweran dalam ruang publik kita. Meski demikian, pada kenyataannya
pasangan Nurhadi-Aldo tidak hanya menawarkan parodi berikut kelucuannya.
Lebih dari itu, di balik jargon-jargon konyolnya, tersirat semacam
kritik dan sindiran pada realitas politik kita hari ini; sebuah realitas
politik yang nyaris tidak menyisakan akal sehat.
Barangkali terlalu berlebihan untuk menyebut bahwa kehadiran pasangan
fiktif Nurhadi-Aldo ini akan mempengaruhi apalagi mengubah peta
kontestasi politik nasional. Namun demikian, kita patut mengapresiasi
kemunculannya sebagai bagian dari perayaan demokrasi era postmodern yang
penuh suka-cita, tidak melulu tegang seolah-olah dunia akan berakhir
jika pasangan yang kita dukung terjungkal secara elektoral.
*Siti Nurul Hidayah* /peneliti pada Center for the Study of Society and
Transformation/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!