Kalau yang rakus, pakai akal bulus, pasti dapat banyak fulus, tetapi karena
tidak tulus,
tidak akan lulus, apalagi lulus mulus, bisa-bisa disapu angin
lesus.(KPK?).... ?
Bakal kena kasus menurut desas desus.........Yang menang yang punya
usus..........
Yang rakus , kena kasus, masuk kakus.......

Pada tanggal Sel, 15 Jan 2019 pukul 05.20 Sunny ambon [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

>
>
> *Merawat akal sehat dengan obat bulus supaya mulus dapat fulus. Amin!*
>
> On Tue, Jan 15, 2019 at 5:08 AM ChanCT [email protected]
> [nasional-list] <[email protected]> wrote:
>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> Merawat Akal Sehat di Tahun Politik
>> Oleh :  Wasisto Raharjo Jati
>> Selasa, 15 Januari 2019 07:13 WIB
>>
>>
>> *[image: Official logo TEMPO.CO]*
>>
>> *Wasisto Raharjo Jati*
>>
>> *Peneliti di Pusat Penelitian Politik LIPI*
>>
>> Panggung politik digital di dunia maya Indonesia selama 2018 semakin
>> menunjukkan adanya eskalasi narasi intoleransi yang semakin menguat.
>> Kondisi ini sebenarnya mirip dengan situasi pada 2017 saat pemilihan
>> Gubernur DKI Jakarta berlangsung dan media sosial menjadi ajang
>> pertempuran. Hanya, kini pertempuran tersebut tidak lagi menyoal
>> teologi-ukhrawi, tapi lebih pada perebutan materi. Hal tersebut terindikasi
>> dari maraknya sikap bias melihat dan mencampuradukkan agama dan politik
>> dalam panggung kampanye pemilihan presiden 2019.
>>
>> Di satu sisi, amalgamasi agama dan politik di ranah dunia maya telah
>> mengaburkan rasionalitas, yang berujung pada pemujaan figur. Di sisi lain,
>> amalgamasi politik dan agama tersebut justru berujung pada sikap
>> irasionalitas dalam membaca realitas. Gambaran seperti ini menunjukkan
>> bahwa masyarakat Indonesia dimabukkan dengan masalah identitas tapi alpa
>> merawat rasionalitas.
>>
>> Gejala militansi terhadap agama bukan tanpa sebab. Hal ini akibat
>> minimnya keinginan masyarakat untuk saling bernegosiasi dan peduli terhadap
>> perbedaan. Akibatnya, terjadi benturan kepentingan satu sama lain, yang
>> pada akhirnya menjadikan isu politik sebagai senjata. Agama menjadi senjata
>> yang sekarang tren, dan ini bisa dilihat dari upaya untuk membentengi diri
>> dari kalangan konservatif serta upaya menaikkan diri sebagai kalangan
>> mayoritas. Dalam berbagai sudut pandang, keduanya bertaut, yang pada
>> akhirnya esensinya sama: siapa yang paling lama duduk di tampuk kekuasaan.
>>
>> Masyarakat Indonesia pada dasarnya sadar politik tapi awam informasi
>> politik. Kondisi ini dimaksimalkan dengan semakin merebaknya fitnah, ujaran
>> kebencian, dan berita bohong di ruang publik. Masyarakat menjadi korban
>> propaganda, yang menjadikan mereka alat untuk meraih kekuasaan elite.
>>
>> Sebenarnya, praktik politik digital di arena media sosial warganet
>> Indonesia awalnya berlangsung secara dinamis pada 2017. Namun hal tersebut
>> berubah ketika kepentingan politik mulai menyusupi arena diskusi netizen..
>> Hal yang pada mulanya masalah pribadi ditarik menjadi soal teologi. Hal
>> yang dasarnya soal pemenuhan materi ditarik ke urusan politik. Uniknya
>> lagi, labelisasi sosial kemudian berlaku dalam percakapan di media sosial
>> antara pendukung A dan pendukung B. Keributan itu hampir menjadi menu tiap
>> hari yang berujung pada aksi-aksi kekerasan verbal dan nonverbal.
>>
>> Dalam konteks ini, kita melihat bahwa euforia kebebasan masyarakat
>> Indonesia terhadap peranti digital semakin lama semakin terdistorsi. Hal
>> yang semula sebagai ajang eksistensi dan artikulasi, kini berkembang
>> menjadi ajang filterisasi sosial. Akal sehat tidak lagi digunakan karena
>> sudah terdogma dengan berita dan informasi tidak akurat sehingga
>> menciptakan penggiringan opini, entah itu baik ataupun positif.
>>
>> Masyarakat sangat gemar terpengaruh narasi ketertindasan mayoritas, yang
>> sebenarnya masih menunjukkan mental intoleran. Hal itu bisa saja memicu
>> eksklusivitas sosial di kalangan masyarakat lain, yang membuat tidak adanya
>> jalinan negosiasi di antara sesama orang Indonesia. Padahal, sejatinya,
>> negosiasi itu menjadi akar masyarakat Indonesia, yang mengedepankan
>> musyawarah untuk mufakat. Spirit tersebut telah berganti dengan semakin
>> intensnya penyempitan perspektif masalah pada aksi tagar. Munculnya tagar
>> tidak berarti memberikan solusi baru, tapi malah menciptakan kompetisi.
>> Pada akhirnya, mekanisme musyawarah untuk menghasilkan konsensus sekarang
>> semakin dimaknai menjadi ajang pengumpulan massa terbanyak sebagai nilai
>> kebenaran.
>>
>> Apalagi kini menggejala isu politik identitas. Sebenarnya, politik
>> identitas itu muncul kalau ada ketertindasan yang dirasakan kalangan
>> minoritas. Namun, dalam konteks Indonesia, justru yang mayoritas merasa
>> menjadi minoritas dan ingin memainkan isu ketertindasan. Pemutarbalikan
>> posisi dan fakta ini jelas mengandung kepentingan politik. Ironisnya,
>> aktor-aktor mayoritas bermental minoritas itu abai terhadap dampak jangka
>> panjang dan menghamba pada kekuasaan yang semu. Ujungnya jelas: isu akan
>> digoreng dan mobilisasi massa.
>>
>> Menjelang pemilihan presiden, mengedepankan sikap waras, baik pikiran
>> maupun hati, menjadi mutlak. Terlebih lagi para elite, yang kerap
>> menjadikan masyarakat semakin terpolarisasi. Salah satu cara menangkal
>> amalgamasi agama dan politik adalah mengedepankan kampanye programatik,
>> yang dipertarungkan adalah program dan gagasan, bukan sindiran berbasis
>> identitas. Kandidat harus memulai langkah ini dengan menanggalkan
>> identitasnya sebagai politikus yang ideolog, bukan yang demagog, yang
>> senantiasa memainkan isu penistaan dan ketertindasan untuk meraih suara.
>>
>>
>> <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
>> 不含病毒。www.avg.com
>> <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
>> <#m_9139393807831327743_m_-1630141451108713431_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>
>>
>> 
>

Kirim email ke