Lihat saja di internet.

Pada tanggal Sel, 15 Jan 2019 pukul 15.09 ajeg [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

>
>
> Kapan yang untuk Wiwi, kapan yang untuk Wowo?
>
> --- djiekh@... wrote:
>
> Di UGM kan sudah ada 2 deklarasi : satu pendukung Jokowi- Ma'ruf Amin,
> satu pendukung
> Prabowo-Sandi.
>
> Pada tanggal Sel, 15 Jan 2019 pukul 14.34 ajeg menulis:
>
> Heran juga kubu Jokowi itu makannya apa
> kok nggak mikir seandainya alumni UGM
> ngambek dilangkahi begini lalu deklarasi tidak
> mendukung Jokowi.
>
> Atau, timses Jokowi sudah mencari-cari temen
> kuliah Jokowi tapi nggak nemu?
>
> Anda punya, teman yang kenal temen kuliah Jokowi?
> Kalau punya tolonglah dikasih tahu, Joko Widodo
> nyapres lagi, gitu.
>
> "Strangers in the Night"
>
> --- jonathangoeij@... wrote:
>
> Mengumpulkan puluhan atau ratusan alumni UI ataupun PT lain utk deklarasi
> dukungan mungkin gampang dilakukan, tetapi toh ada juga alumni yg tidak
> mendukung. Kalau alumni2 yg tidak mendukung ini setiap hari satu demi satu
> mengatakan dirinya alumni dan tidak mendukung kemudian diberitakan
> besar2an, lha apa langkah deklarasi dukungan ini tidak backfire?
>
> "Desperately seeking Susan"
>
> --- ajegilelu@... wrote :
>
> Ke mana alumni UGM?
>
> -
>
> Alumni UI Terganggu Deklarasi Dukung Jokowi
>
> CNN Indonesia | Senin, 14/01/2019 09:22 WIB
>
> [image: Inline image]
> Acara deklarasi alumni UI dukung Jokowi digelar di Gelora Bung Karno,
> Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
>
> Jakarta, CNN Indonesia -- Tak semua alumni Universitas Indonesia sepakat
> dengan deklarasi dukungan terhadap Joko Widodo di Pilpres 2019. Beberapa
> lulusan almamater 'jaket kuning' itu merasa terganggu dengan kelompok yang
> mengatasnamakan alumni UI.
>
> Salah satu alumni UI Jurusan Antropologi angkatan 2002, Ahmad Bachrain
> mengatakan deklarasi dukungan terhadap Jokowi hanya akan membelah
> masyarakat karena perbedaan pilihan politik.
>
> "Keberatan sih tidak, tapi merasa terganggu. Saya tidak mau ada polarisasi
> nantinya," ujar Bachrain kepada *CNNIndonesia.com* di kantornya, Jakarta,
> Senin (14/1).
>
> Dia menilai dukungan terhadap salah satu calon presiden sah-sah saja
> dilakukan, namun tidak perlu membawa identitas alumni. Sebab menurutnya,
> deklarasi tersebut tidak bisa mewakili seluruh alumni UI.
>
> "Saya merasa tidak terwakili," tegas pria yang memiliki anak satu ini.
>
> Dengan deklarasi tersebut, Bachrain berpendapat ada pelabelan bahwa semua
> alumni UI dukung Jokowi. Dia pun khawatir dicap sebagai pendukung capres
> nomor 01.
>
> "Nanti mertua saya menganggap pro Jokowi karena saya alumni UI. Padahal
> saya sudah bersikap untuk golput. Sistem pemilu saat ini tidak memberikan
> pilihan pemimpin yang layak menurut saya," katanya.
>
> Keluhan tak cuma diutarakan oleh Bachrain. Banyak alumni UI yang
> menyuarakan keberatannya di media sosial. Mereka pada umumnya menganggap
> deklarasi dukungan untuk Jokowi telah mencemarkan nama almamater.
>
> Wakil Ketua DPR Fadli Zon juga menanggapi deklarasi alumni UI dukung
> Jokowi di Pilpres 2019. Sebagai alumni UI, dia mengklaim lebih berakal
> sehat karena tidak memilih Jokowi di Pilpres 2019.
>
> Fadli menanggapi dalam akun Twitter pribadinya @fadlizon ketika mengetahui
> salah satu poster yang dibawa peserta deklarasi. Poster kuning itu
> bertuliskan "Alumni minus Fadli Zon dan semacamnya pilih Jokowi".
>
> "Mumpung lagi bicarakan UI, bukan UI palsu. Saya alumni UI S1 dan S3. Saya
> mewakili UI debat ASEAN, fellow SIF, dan forum-forum internasional. Saya
> juga memimpin demonstrasi mahasiswa UI, saya Mahasiswa Berprestasi I UI dan
> Berprestasi III Nasional. Saya tentu di pihak berakal sehat: memilih
> @prabowo @sandiuno," kata Fadli dalam akun Twitternya, Minggu (13/1).
>
> Sabtu (12/1) lalu, ribuan orang berkaus kuning memadati kawasan Plaza
> Tenggara Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, untuk mengikuti deklarasi
> dukungan terhadap Jokowi-Ma'ruf.
>
> Mereka mengatasnamakan Gerakan Alumni Universitas Indonesia untuk Jooko
> Widodo-KH Ma'ruf Amin. Jokowi pun menghadiri acara tersebut.
>
> Dalam acara itu, Jokowi mengatakan pengalaman menjadi wali kota Surakarta,
> gubernur DKI Jakarta, dan presiden adalah bekalnya untuk memimpin kembali
> Indonesia selama lima tahun ke depan.
>
> Jokowi menyatakan pengalaman menjadi hal yang penting saat dipercaya
> menjadi pejabat publik. Meski demikian, dia mengaku butuh waktu untuk
> beradaptasi.
> "Di sebuah kota saya perlu 1-2 tahun untuk belajar, apa lagi untuk kelola
> negara. Butuh waktu berapa tahun pertanyaan saya?" ujar Jokowi.
>
> *(pmg/gil)*
>
> 
>

Kirim email ke