https://news.detik.com/kolom/d-4395415/dari-kecoak-hingga-cebong-kampret-dehumanisasi?tag_
from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.16848697.1413374.1548177067-1157519436.1548177067
Selasa 22 Januari 2019, 16:25 WIB
Sentilan Iqbal Aji Daryono
Dari Kecoak hingga Cebong-Kampret:
Dehumanisasi?
Iqbal Aji Daryono - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4395415/dari-kecoak-hingga-cebong-kampret-dehumanisasi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.16848697.1413374.1548177067-1157519436.1548177067#>
Iqbal Aji Daryono
<https://news.detik.com/kolom/d-4395415/dari-kecoak-hingga-cebong-kampret-dehumanisasi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.16848697.1413374.1548177067-1157519436.1548177067#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4395415/dari-kecoak-hingga-cebong-kampret-dehumanisasi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.16848697.1413374.1548177067-1157519436.1548177067#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4395415/dari-kecoak-hingga-cebong-kampret-dehumanisasi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.16848697.1413374.1548177067-1157519436.1548177067#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4395415/dari-kecoak-hingga-cebong-kampret-dehumanisasi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.16848697.1413374.1548177067-1157519436.1548177067#>
4 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4395415/dari-kecoak-hingga-cebong-kampret-dehumanisasi?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.16848697.1413374.1548177067-1157519436.1548177067#>
Dari Kecoak hingga Cebong-Kampret: Dehumanisasi? Iqbal Aji Daryono
(Ilustrasi: Edi Wahyono)
*Jakarta* - "Jadi kalau Anda lihat waktu di lapangan orang-orang itu
berteriak-teriak dengan sangat militan, jangan lupa ada banyak di antara
mereka kemudian pulang ke rumah, menjumpai persoalan sehari-hari,
menghadapi keterbatasan ekonomi, dan sebagainya. Bahkan saya beberapa
kali diajak makan bersama di rumah mereka, ya mereka orang biasa-biasa
saja. Jangan bayangkan mereka makan makhluk yang masih hidup, misalnya."
Beberapa hari lalu di Jogja, sambil bercanda Dr. Ian Wilson menyampaikan
kalimat semacam itu. Tentu itu bukan poin utama dalam bukunya, /Politik
Jatah Preman/, yang sedang didiskusikan. Buku tersebut mengulas relasi
kuasa yang terjadi antara negara dan kelompok-kelompok ormas. Namun, Ian
mengingatkan satu hal tentang betapa buruknya dehumanisasi. Bahkan meski
laskar-laskar ormas itu kerap melakukan tindakan dehumanisasi pula,
misalnya kepada kelompok minoritas, selayaknya imajinasi dehumanis tidak
kita lemparkan balik kepada mereka.
***
Dehumanisasi adalah pandangan yang mendeskripsikan dan mengimajinasikan
kelompok liyan (/the others/) dalam kualitas-kualitas yang lebih rendah
dari sifat manusia. Sikap itu menyangkal kemanusiaan seseorang atau
sekelompok orang, memerosotkan objek sasaran ke level /sub-human/.
Dehumanisasi kerap muncul dalam sebuah skema taktik politik, namun tak
jarang ia hadir pula sebagai ekspresi spontan produk dari emosi
kolektif, yang kemudian sama-sama membawa potensi merusak dan menggerus
kemanusiaan.
Dalam sejarah, ada kasus yang paling jelas, yaitu bagaimana Hitler
bersama Nazi menegaskan ras Arya sebagai ras unggul dengan ciri-ciri
spesifik. Seiring itu, mereka menggambarkan ras-ras lain, terutama
orang-orang Yahudi, sebagai ras rendahan, bahkan "ras beracun", yang
akan melemahkan dan mengganggu kemurnian ras unggul.
Propaganda dehumanis seperti itu disebarkan lewat segala media, bahkan
menjadi kurikulum di sekolah-sekolah sejak Nazi berkuasa. Semuanya
dijadikan basis legitimasi di tengah publik untuk menjalankan
tindakan-tindakan lebih lanjut yang mengerikan, yaitu eksklusi, dan
akhirnya genosida. Berbekal pembentukan imajinasi kolektif yang
dehumanis, empati dihilangkan, dan pembenaran bersama dibangun sehingga
para "/sub-human/" itu dianggap layak dilenyapkan.
Hitler tidak sendirian. Perbudakan di Amerika Serikat pra-Perang Sipil,
yang sisa-sisanya berupa politik segregasi terus berlanjut terutama di
bagian Selatan hingga baru berakhir pada era 1950-an, pun berlandaskan
dehumanisasi.
Cobalah tonton film /Django Unchained/-nya Quentin Tarantino. Di situ
ada adegan menarik ketika tokoh Calvin Candie meletakkan sebuah
tengkorak kepala seorang budak. Ia lalu bertanya, kenapa budak-budak
berkulit hitam itu tidak melawan dan membalas dendam setelah disiksa.
Calvin menjawab sendiri sambil menunjukkan tengkorak di hadapannya. Ia
bilang, ada struktur otak orang Afrika yang membuat mereka takluk, hanya
bisa menerima perintah, dan tidak mampu berinisiatif. Ketaatan dan
ketaklukan orang kulit hitam itu bukan produk tekanan sosial, melainkan
sudah merupakan takdir biologis.
"/The science/ /of phrenology is crucial to understanding the separation
of our two species/."
Spesies! Betul, Calvin sampai mengatakan bahwa manusia kulit hitam dan
kulit putih berbeda spesies. Ini dehumanisasi yang sangat telanjang. Dan
jangan salah, meski Calvin Candie cuma tokoh fiktif yang diperankan
Leonardo DiCaprio, Tarantino mengambilnya dari teori /phrenologi/ yang
memang pernah ngetop pada zamannya. Ilmu yang belakangan disepakati
sebagai /pseudoscience/ itu dipopulerkan oleh Charless Caldwell, seorang
dokter pada awal abad ke-19 yang juga memuja perbudakan.
"/They are slaves because they are tameable/. /Depend upon it, my good
friend, the Africans must have a master/." Sudah seharusnya orang-orang
Afro kulit hitam itu punya majikan, simpul Caldwell dalam sebuah
suratnya kepada seorang sahabat, pada tahun 1837.
Lihat, itulah basis legitimasi ilmiah atas perbudakan, dehumanisasi yang
pada zaman itu diklaim sebagai teori saintifik.
Kita beranjak ke Afrika, tanah asal para budak di Amerika itu. Di benua
itu, kita juga tahu apa yang pernah terjadi di Rwanda. Itu benar-benar
belum lama, baru pada 1994, tahun saat Maudy Ayunda dilahirkan dan
Chelsea Olivia sedang lucu-lucunya. Kali ini, mekanisme dehumanisasi
yang terjadi bukan melalui teori-teori /pseudoscience/, melainkan cuma
berbekal ujaran verbal yang diterima secara komunal.
Hanya dalam 100 hari, tak kurang dari 800 ribu orang beretnis Tutsi
tewas di tangan orang-orang etnis mayoritas Hutu. Anda tahu
propaganda-massa seperti apa yang diterapkan, sehingga kebrutalan akbar
itu bisa demikian efektif berjalan?
Ya, kecoak. Silakan tonton /Hotel Rwanda/, film yang mengisahkan
heroisme Paul Rusesabagina dengan aksi penyelamatan mirip-mirip Oskar
Schindler dalam /Schindler's List/. Ucapan dan makian "/cockroaches/"
alias "kecoak-kecoak" bertaburan di situ, sebagai serangan verbal dari
milisi Hutu yang menyerang dan membantai orang-orang Tutsi.
Makian tersebut, yang sejatinya dalam bahasa lokal diucapkan dengan kata
"/inyenzi/", tidak muncul sekadar sebagai makian. Ia dikapitalisasi
sebagai salah satu instrumen propaganda yang efektif oleh kalangan
pemerintahan Hutu, dengan ujung tombak militer dan milisi sipil. Ujaran
"kecoak" itu dihamburkan terus-menerus. Bukan cuma dalam omongan
sehari-hari, namun juga menjadi menu wajib siaran-siaran resmi Radio
RTLM dan liputan rutin Majalah /Kangura/, dua corong resmi dominasi Hutu.
Apa hasilnya? Benar, dehumanisasi.
Dalam narasi-narasi yang disajikan di editorial /Kangura/, secara vulgar
digambarkan bahwa para kecoak suka mengendap-endap, dan dengan
berselubung kegelapan mereka merangsek dan menyusup. Semua itu
berkembang di masyarakat Hutu dengan fantasi kolektif bahwa orang-orang
Tutsi memang seperti kecoak: busuk, kotor, dan menjijikkan. Maka, mereka
layak dibasmi. Maka, tak ada bedanya kecoak dewasa, laki-laki,
perempuan, anak-anak. Mereka semua cuma kecoak.
Hasil dari propaganda dehumanisasi itu sangat efektif. Sekali lagi:
dalam waktu relatif singkat, hampir sejuta nyawa orang-orang Tutsi
tumpas sia-sia.
***
Tiga dekade sebelum pembantaian di Rwanda, Indonesia pun mengalami
tragedi yang nyaris serupa. Tak kurang dari setengah juta orang
dihabisi, tak peduli banyak di antara mereka yang tak bersalah atau tak
tahu apa-apa. Tanpa mengecilkan proses panjang konflik sebelumnya,
muncul pula mekanisme "pengiblisan" melalui ujaran verbal. Ini tentang
bagaimana kata "PKI" secara psikologi massa bukan lagi mengacu kepada
nama organisasi, melainkan sudah nama "makhluk".
Jadilah, tidak ada kalimat semacam "diculik orang PKI" atau "dibunuh
anggota PKI" maupun "direbut kader PKI". Yang santer dikabarkan adalah
"diculik PKI", "dibunuh PKI", dan "direbut PKI". Dalam gejala kebahasaan
itu, tampak dilenyapkannya eksistensi individu dalam sebuah proses
dehumanisasi, dan baik organisasi maupun /person /dipukul rata dalam
sebuah citra sosok /demon/ yang mengerikan.
Saya tak ingin membahas lebih jauh dehumanisasi dalam istilah "PKI" yang
tak lagi mengacu kepada nama parpol itu. Ini tahun politik, saya takut
HP Anda semua dirazia tentara kalau membaca tautan tulisan ini. Saya
ingin membicarakan apa yang telah dan terus terjadi saat ini saja.
Begini. Kita sudah demikian akrab dengan istilah "cebong" dan "kampret".
Cebong menjadi istilah gampang untuk pendukung Jokowi dan Ahok,
sedangkan kampret untuk pendukung Prabowo dan, tentu saja, Anies Baswedan.
Nah, dengan segenap ilustrasi yang saya gambarkan terjadi di Eropa,
Amerika, juga Afrika, apakah ungkapan cebong dan kampret juga merupakan
satu langkah menuju dehumanisasi?
Tiba-tiba, saya takut menyadari hal ini. Ketakutan saya bukan sejenis
ketakutan heroik yang gimana-gimana, tapi lebih karena sentilan Ian
Wilson membuat saya teringat bahwa saya sendiri pun merupakan salah satu
(di antara ratusan ribu) pelaku yang sehari-hari di medsos merayakan
ujaran-ujaran "cebong" dan "kampret".
Tentu, saya tidak hendak membandingkan kedua label itu dengan hal-hal
ala /pseudoscience/ sebagaimana pernah berlaku pada Eropa zaman Hitler
dan di Amerika zaman perbudakan. Itu kejauhan. Namun, bagaimana dengan
apa yang terjadi di Rwanda? Kecoak, cebong, kampret, bukankah ketiganya
mirip-mirip, dalam arti dehumanisasi dengan mekanisme meng-hewan-kan
orang lain?
Barangkali saya lebay belaka. Saya sendiri, juga kawan-kawan yang saya
kenal, rasanya tidak pernah menggambarkan cebong ataupun kampret sebagai
para /sub-human/, dengan karakter hewani sesuai sematan label
masing-masing. Cuma, jangan lupa, ketika sebutan demikian mewabah, yang
menikmatinya bukan cuma kalangan kelas menengah gaul terdidik. Pasti ada
sebaran ke ranah masyarakat yang lebih awam, yang bisa jadi akan sangat
emosional dalam menanggapi ujaran-ujaran semacam itu.
Lantas, bagaimana kalau mereka membayangkan bahwa ejekan "cebong IQ 200
sekolam" itu benar-benar nyata dan berpijak pada realitas? Bagaimana
pula jika mereka mengimajinasikan "kampret yang melihat dunia secara
terbalik" itu sebagai fakta keras?
Bagaimana jika ucapan-ucapan yang terus direproduksi di media sosial
membuat banyak orang awam sangat yakin bahwa cebong adalah para pembenci
agama, bergerak bersama demi bangkitnya komunis, dan apalah apalah
lainnya? Bagaimana juga bila ada yang sungguh-sungguh membayangkan semua
kampret sebagai kaum yang mempersiapkan gerakan solid untuk, misalnya,
menegakkan /khilafah/ sembari menumbangkan Pancasila?
Ini bukan perbincangan tentang moralitas normatif. Abaikan dulu yang
begitu-begitu. Ini sebentuk kecemasan tentang psikologi massa dan
efek-efek sosial yang tidak mustahil mengikutinya: jangan-jangan kita
sedang merasa bercanda, atau cuma mengidentifikasi kelompok lain dalam
istilah generik suka-suka dan tak serius-serius amat, namun di
sudut-sudut dunia yang tak kita jangkau, semua itu jadi langkah kecil
namun pasti menuju proses dehumanisasi?
Duh, Gusti. Saya kok tiba-tiba merasa ngeri.
*Iqbal Aji Daryono* /esais, tinggal di Bantul/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*