Ya betul sekali pak Mahfud!! Selama tidak ada perubahan dalam struktur, dalam 
sistim ekonomi, politik dan sosial, mbok sampai kiamat korupsi tak akan pernah 
terbasmi tuntas dan jangan harapkan penegakan hukum!! Saya turut berduka atas 
meninggalnya Tan Swie ling dan angkat topi atas keberaniannya di depan 
Mahmilub. Kebalikannya dengan sikap sementara orang yang nongkrong di luar 
negeri, dan tanpa kekurangan apapun, hidup mapan tapi dengan suka rela 
mengudal-udal isi perut organisasinya yang dulu dia menjadi anggotanya!!! Sejak 
jaman Mahmilub sampai sekarang praktek penyiksaan yang  memaksa penandatanganan 
BP kan masih terus berjalan, bukan?? Presiden bisa ganti namanya, kejahatan 
ORBA tanpa Suharto  terus berjalan... Pendukung Jokowi hanya dan selalu 
mengajukan puluhan proyek pembangunan neo-liberal sebagai kebanggaannya, tapi 
dengan sengaja melupakan perampasan tanah, pembunuhan dan penganiayaan terhadap 
aktivis buruh, tani, lingkungan, pelanggaran HAM sampai-sampai deportasi Tom 
Ilyas yang ingin memberi penghormatan kepada ayahnya yang diperkirakan dibuang 
dalam kuburan masal, persekusi terhadap para korban dan keluarga pembantaian 
dan penjara ORBA, razia buku-buku yang mencerminkan politik pembodohan ORBA 
yang terus dipraktekkan,  pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat, tekuk 
lutut kepada imperialis dan semua lembaganya dengan menyerahkan kekayaan alam 
milik rakyat untuk dikuras para pemodal asing....dan masih panjang lagi daftar 
kejahatan rezim jokowi-jk kepada rakyat berbagai suku bangsa....Inilah pendapat 
orang yang dicap  "sok pembela rakyat", "sok revolusioner", "ëxtrim kiri", 
"nenek dalam tempurung", etc!!! Harap diingat ini bukan kebencian pribadi 
terhadap Jokowi.. ORang yang menganggap sikap melawan rezim Jokowi sebagai 
kebencian pribadi pada hakekatnya  adalah orang yang sungguh-sungguh ingin 
menutup mata pada persoalan pokok yang dihadapi rakyat jelata dan bangsa 
Indonesia dan dengan teguh berdiri bersama dengan penguasa...     On Wednesday, 
January 23, 2019, 9:02:27 AM GMT+1, ChanCT [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]> wrote:  
 
     
 
 
Mahfud: Dua Capres Belum Berikan Harapan Baru Penegakan Hukum
 Selasa , 22 Januari 2019 | 15:05 
http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/5937/mahfud__belum_ada_harapan_baru_dalam_penegakan_hukum
   Sumber Foto Istimewa
 Prof. Dr Mahfud MD     POPULER Kembali JK Kritik Pembangunan LRTMulai Hari Ini 
Lion Air dan Wings Air Berlakukan Bagasi BerbayarMahfud: Dua Capres Belum 
Berikan Harapan Baru Penegakan HukumPagi Ini IHSG Dibuka NegatifRupiah Pagi Ini 
Dibuka di Level Rp14.195   Listen to this 
JAKARTA--Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menilai dua pasangan 
calon presiden dan calon wakil presiden belum menunjukkan harapan baru dalam 
upaya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi di Indonesia.. 
 
"Tidak ada harapan baru karena isunya dari periode ke periode itu-itu saja, 
dari Pilpres 2004, 2009, 2014 dan saat ini sehingga saya belum melihat adanya 
harapan baru untuk strategi baru," kata Mahfud dalam diskusi
 bertajuk "Menakar Komitmen Capres/Cawapres Terhadap Penegakan Hukum dan 
Pemberantasan Korupsi",
 di Jakarta, Selasa.
 
Dia mengatakan berdasarkan catatannya, tidak ada paslon yang bisa memenuhi 
janjinya dalam penegakan hukum dan pemberantasan korupsi karena masing-masing 
paslon memiliki barisan yang punya masalah hukum. Mahfud menilai kedua paslon 
juga tidak menyinggung adanya strategi mengatasi persoalan masih adanya 
tindakan birokrasi yang terkooptasi kekuatan politik..
 
"Birokrasi kita itu semua bisa diperjualbelikan, birokrasi dikooptasi kekuatan 
politik. Apa yang dijanjikan oleh dua pasangan ini? Tidak ada, padahal di sana 
masalahnya, di samping yang diselesaikan di pengadilan semua capres menjanjikan 
itu, namun tidak ada," ujarnya.
 
Menurut dia, selama ini seakan-akan korupsi hanya terjadi di pengadilan namun 
masalahnya ada di birokrasi dan terkooptasi politik namun tidak ada yang 
menunjukkan strategi bagaimana membersihkan birokrasi tersebut. Selain itu dia 
menilai untuk urusan korupsi masa lalu, ada hakim, jaksa dan Polisi yang ingin 
berbuat baik namun tidak bisa karena diteror masa lalu misalnya ada Kepala 
Kejaksaan Tinggi dipecat karena ingin menungkap sebuah kasus.
 
Menurut dia, siapa yang bisa menjanjikan penyelesaian seperti itu karena adanya 
sikap saling sandera dan dirinya pernah mengusulkan adanya potong pejabatnya 
dan sistem pengontrolan bersama. "Kalau tidak seperti itu, mencari komisi 
kebenaran dan putus hubungan dengan masa lalu sehingga kita bisa menata lagi 
sejak awal," ujarnya.
 
Dia menilai seorang pemimpin yang tampil harus berani membersihkan birokrasi 
dari kooptasi politik dan melepaskan masa lalu.
 
 
 
 
 Sumber Berita:Antaranews.com   
 
|  | 不含病毒。www.avg.com  |

     

Kirim email ke