"(Calon) wakil presiden yang ia pilih punya rekam jejak yang 'sungguh sangat 
maha dashyat', memberikan kontribusi terhadap tajamnya konflik pada agama, yang 
melahirkan konflik berdarah-darah... Banyak sekali rekam jejak Ma'ruf Amin yang 
sangat intoleran," ujar Lini dalam konferensi pers di Yayasan Lembaga Bantuan 
Hukum Indonesia (YLBHI) (23/1).

 ...
 "Bukan soal rugi, (ini) karena dua-duanya (pasangan calon presiden dan wakil 
presiden) menurut aku nggak recommended. Yang satu, saya pikir prestasinya juga 
apa? Yang satu lagi banyak pencitraan, lebay," katanya.

 ...
 "Opsi untuk tidak memilih adalah pilihan dan ini adalah bagian dari ekpresi 
kedaulatan rakyat. Hari ini, rakyat melihat tidak hanya pimpinan politiknya 
yang tidak beres, tapi juga sistem politik yang harusnya menjamin 
prinsip-prinsip demokrasi, menjamin persamaan di muka hukum, persamaan ekonomi, 
sosial, dan budaya bagi masyarakat, bagi rakyat, itu tidak ada," katanya.

 ...
 'Golput adalah hak', sejumlah warga memilih golput di pilpres 2019 
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46970330 Callistasia WijayaWartawan BBC 
News Indonesia
 24 Januari 2019

 Kirim https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46970330#share-tools




 
 Image captionSekelompok aktivis menyatakan bahwa golput adalah ekspresi 
politik yang tidak dapat dipidana. Di tengah kampanye dua kubu pasangan calon 
presiden dan wakil presiden, Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo 
Subianto-Sandiaga Uno, sekelompok orang sudah menyatakan yakin untuk tidak 
memilih kedua calon atau golput pada pemilu mendatang.
 Mereka yang memilih untuk golput ini menyatakan kecewa atas dua calon presiden 
yang ada, tren yang menurut lembaga survei kemungkinan naik pada pemilihan 
April mendatang.
 Salah seorang yang memilih golput adalah Lini Zurlia, aktivis pembela hak-hak 
kaum LGBT.
 Sikap ini jauh berbeda dengan periode Pilpres 2014 di mana dia bergabung dalam 
tim perempuan pendukung Jokowi.
 Yang perlu Anda ketahui soal debat capres-cawapres 2019 
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46733643 Nurhadi-Aldo: satir politik 
dan skeptisme 'yang memuncak' jelang pilpres 2019 
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46783730 Golput 'bisa menggerus' 
perolehan suara Jokowi-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019 
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-45161027 Lini menyebut alasannya golput 
antara lain setelah melihat Joko Widodo menggandeng Ma'ruf Amin di pilpres 
nanti.
Image captionBeberapa orang yang tidak sepakat dengan keputusan Joko Widodo 
dalam menggandeng Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden memutuskan untuk 
golput . "(Calon) wakil presiden yang ia pilih punya rekam jejak yang 'sungguh 
sangat maha dashyat', memberikan kontribusi terhadap tajamnya konflik pada 
agama, yang melahirkan konflik berdarah-darah... Banyak sekali rekam jejak 
Ma'ruf Amin yang sangat intoleran," ujar Lini dalam konferensi pers di Yayasan 
Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) (23/1).
 Sementara itu, Prabowo, katanya, bukan merupakan pilihan karena rekam jejaknya 
di kasus pelanggaran HAM.
 Politisasi agama bisa mendorong golput? 
https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-46694756 Prabowo: Pidato, debat capres 
dan dampak elektabilitas https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46873249 
Pernyataan kontroversial Prabowo dan Jokowi, suatu strategi pemilihan presiden? 
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46606215 Di Surabaya, Jawa Timur, 
Dodik, juga mengatakan siap golput karena merasa tak ada calon yang dapat 
meyakinkannya untuk memilih.
 "Bukan soal rugi, (ini) karena dua-duanya (pasangan calon presiden dan wakil 
presiden) menurut aku nggak recommended. Yang satu, saya pikir prestasinya juga 
apa? Yang satu lagi banyak pencitraan, lebay," katanya.
 Tren golput berpotensi naik Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi 
Chaniago mengatakan kelompok-kelompok yang tidak direpresentasikan dengan baik 
oleh kedua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden, mungkin memilih 
untuk golput.
 Di tahun 2014, angka golput mencapai sekitar 30%, termasuk orang-orang yang 
tidak masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan tidak mendapat undangan untuk 
memberi hak suara.
Image captionDebat pertama Pilpres 2019 (17/1) dinilai belum mampu meyakinkan 
undecided voters dan mengubah pikiran orang yang sudah memutuskan untuk golput. 
Bahkan, lanjut Pangi, debat perdana yang digelar 17 Januari lalu, tidak 
berpengaruh apa pun dalam mengubah pikiran orang yang sudah memutuskan untuk 
golput.
 Pertarungan ulang antara Joko Widodo dan Prabowo, katanya, hanya mengulang apa 
yang telah terjadi pada kampanye pilpres tahun 2014.
 Visi, misi, dan narasi yang mereka sampaikan, lanjutnya, terkesan tidak 
substansial dan dangkal.
 "Ketika tidak tersalurkan representasi kepentingan politik mereka, kedua sosok 
ini juga dipandang tidak bisa menjawab persoalan, tidak bisa membawa harapan 
baru untuk mereka, ya automatically mereka akan golput. Golput ini mestinya 
tidak akan terlalu tinggi kalau tiga calon misalnya," kata Pangi.
 "Tapi kalau dua calon ini ya, itu tadi, ada kemungkinan tren golput naik."
 Meski tren golput kemungkinan naik, Pangi mengatakan, suara pada pilpres 
mungkin tidak akan terlalu anjlok karena suara pemilih yang baru mendapatkan 
hak pilih di pilpres ini.
 "Mereka punya potensi untuk memilih karena mereka belum pernah dikecewakan. 
Mereka akan memilih presiden untuk pertama kali, tentu partisipasi mereka akan 
tinggi," katanya.
 Namun, menurut Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby, jumlah angka golput akan 
relatif sama dari pemilu-pemilu lalu.
 Adjie mengatakan jumlah orang yang memilih untuk golput karena asalan 
ideologis lebih kecil dari pada orang yang tidak memilih karena alasan 
administratif, seperti belum terdaftar di DPT, dan sebagainya.
 Golput berarti tidak boleh mengkritik? Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan 
Hukum (LBH) Jakarta, Al Ghifari Aqsa, mengatakan orang-orang yang golput karena 
ideologinya sering disebut sebagai kaum apatis.
 Mereka, katanya, seringkali dianggap tidak berhak mengkritik pemerintahan yang 
kelak terpilih.
Image captionRekam jejak Prabowo dalam dugaan kasus pelanggaran HAM membuat 
beberapa orang ragu untuk memilihnya. "Nah ini, hoax yang mana lagi? Ada yang 
beranggapan bahwa kita kan pembayar pajak, jadi kita berhak dong mengkritisi 
siapa pun yang menang," kata Al Ghifari.
 "Sebenarnya bukan itu saja, yang tidak bayar pajak pun berhak untuk 
mengkritisi karena dia dilindungi oleh konstutisi. Kalau golput adalah hak, 
berekspresi, berbicara adalah hak, siapa pun presidennya, siapa pun yang 
terpilih, siapa pun pemerintahannya, kita berhak mengkritisi. Semua orang yang 
golput berhak untuk mengkritisi siapa pun," katanya.
 Al Ghifari mengatakan kelompok yang memutuskan untuk golput mengharapkan akan 
ada perbaikan di sistem politik dan pemerintahan di masa mendatang.
 'Golput adalah salah satu ekspresi politik yang legal'
 Pengacara publik LBH Jakarta, Arif Maulana, mengatakan bahwa golput adalah 
salah satu bentuk ekpresi politik dan merupakan hak warga negara.
 "Opsi untuk tidak memilih adalah pilihan dan ini adalah bagian dari ekpresi 
kedaulatan rakyat. Hari ini, rakyat melihat tidak hanya pimpinan politiknya 
yang tidak beres, tapi juga sistem politik yang harusnya menjamin 
prinsip-prinsip demokrasi, menjamin persamaan di muka hukum, persamaan ekonomi, 
sosial, dan budaya bagi masyarakat, bagi rakyat, itu tidak ada," katanya.
 Sikap golput, ujarnya. dilindungi oleh Konvensi Internasional tentang Hak 
Sipil dan Politik (ICCPR), UUD 1945, dan Undang-Undang Hak Asasi Manusia (HAM).
Image captionKPU selalu mengimbau warga untuk menggunakan hak pilihnya. Selama 
ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU), baik di tingkat pusat maupun daerah sering 
mengimbau warga untuk tidak golput. Mereka juga mengatakan orang yang 
berkampanye mengajak orang lain untuk golput dapat dipidana.
 Namun peneliti di Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), Sustira Dirga, 
mengatakan golput tidak termasuk dalam bentuk pidana pemilu, meski sering 
dikaitkan dengan Pasal 515 Undang-Undang No 7/2017 tentang Pemilihan Umum.
 Pasal ini mengatakan setiap orang yang dengan sengaja pada saat pemungutan 
suara menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada pemilih 
supaya tidak menggunakan hak pilihnya, dipidana dengan pidana penjara paling 
lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp36.000.000,00.
 "Tanpa adanya janji atau memberikan sejumlah uang atau materi, tindakan 
sekadar menggerakan orang untuk golput tidak dipidana... Orang yang memilih 
golput atau mendeklarasikan dirinya golput tidak dapat dipidana," katanya.
 "Golput, tapi tetap datang ke TPS"
 Elisa Sutanudjaja, Direktur Eksekutif Rujak Center for Urban Studies, yang 
juga mengungkapkan keyakinannya untuk golput, mengatakan dia tidak pernah 
menganjurkan orang untuk golput.
 Namun, jika ada orang yang memutuskan mengambil sikap yang sama dengannya, 
mereka sebaiknya tetap ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Image captionElisa Sutanudjaja, Direktur Eksekutif Rujak Center for Urban 
Studies, menyarankan orang yang memutuskan untuk golput untuk tetap datang ke 
TPS. "Jika ada orang mau golput sebaiknya tetap ke TPS dan menggunakan hak 
pilihnya untuk mencegah suara anda disalahgunakan," kata Elisa dalam konferensi 
pers di YLBHI.
 "Walaupun ini bukan kewajiban, tapi pakai haknya (untuk memilih). Sudah dapat 
hak, ya digunakan. Tapi kalau misalnya mau coblos dua-duanya, silahkan."
 Oleh karena sistem pilpres belum memiliki mekanisme pemilihan kotak kosong, 
Elisa mengatakan, hal ini lah yang dapat dilakukan untuk mencegah kecurangan 
pemilu.
 Meski banyak orang yang menganggap gerakan golput itu tidak artinya, Elisa 
mengatakan suara tidak sah akan dicatat dalam tabel dan lembar yang sama dalam 
proses perhitungan kertas suara.
 Angka tidak sah itu, ujarnya, akan terus tercatat hingga ke tingkat pusat.

Kirim email ke