https://news.detik.com/kolom/d-4398685/ahok-dan-politik-kebangsaan
Kamis 24 Januari 2019, 14:38 WIB
Kolom
Ahok dan Politik Kebangsaan
Nur Sholikhin - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/nursholikhin141>
Nur Sholikhin <https://connect.detik.com/dashboard/public/nursholikhin141>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4398685/ahok-dan-politik-kebangsaan#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4398685/ahok-dan-politik-kebangsaan#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4398685/ahok-dan-politik-kebangsaan#> 0
komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4398685/ahok-dan-politik-kebangsaan#>
Ahok dan Politik Kebangsaan Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom
*Jakarta* -
Hari ini 24 Januari 2019 menjadi hari yang bersejarah bagi Basuki
Tjahaja Purnama (BTP) dalam hidupnya. Ia telah keluar dari penjara
setelah menjalani hukuman karena dianggap menistakan agama. Keluarnya
BTP ini membuat lawan dan kawannya angkat berbicara, menawarkan sejumlah
tempat untuk kembali berkarya, salah satunya adalah partai politik.
Selain dikabarkan bahwa BTP akan berlabuh ke PDIP, sebagaimana
dikabarkan Djarot Saiful Hidayat, juga ada beberapa saran dari lawannya.
Salah satunya adalah Novel Bamukmin, Ketua Media Center Persaudaraan
Alumni (PA) 212, agar BTP tidak kembali mengulangi perbuatannya dan
mending menekuni profesi pebisnis. Sebagaimana dilaporkan *detikcom,
*Rabu (23/1), Novel Bamukmin menyatakan kalaupun BTP ingin berlabuh ke
dunia politik, sarannya adalah di partai keumatan. Partai yang
disarankan asal bukan koalisi 01, melainkan Gerindra, PAN, PKS dan
partai-partai serupa.
Selain prediksi berlabuh pada partai politik, BTP dikabarkan akan
menekuni beberapa profesi. Salah satu yang dikabarkan beberapa media,
memang dia akan memulai kariernya setelah keluar dari penjara dengan
menekuni bisnis, menulis, atau menjadi konsultan. Beberapa profesi yang
diprediksi oleh orang terdekatnya tersebut memanglah sangat wajar.
Namun, apapun profesi BTP setelah keluar dari penjara, baik di dunia
politik, bisnis, ataupun di dunia kreatif seyogianya memang ada suatu
nilai yang diperjuangkan atau dipegang olehnya. Artinya, partai politik
ataupun profesi lain bukanlah suatu tujuan akhir. Sebagaimana kutipan
yang sering digunakan oleh orang dari Gus Dur, "Yang jauh lebih penting
dari politik adalah kemanusiaan". Nilai kemanusiaan misalnya, lebih
penting daripada memperjuangkan partai itu sendiri.
Partai politik atau bisnis apapun itu memang semestinya memiliki misi
kemanusiaan. Perjuangannya di mana pun itu tidaklah kosong, hanya
mengikuti arus yang ada di masyarakat. Sehingga tidak heran saat ini
kita banyak melihat orang yang begitu memperjuangkan "mati-matian"
dukungan politiknya, tanpa memperhatikan misi yang dibawanya, salah
satunya adalah kemanusiaan. Saya rasa misi kemanusiaan menjadi bekal
yang sangat penting setiap partai atau lembaga apapun itu.
*Mendidik Rakyat*
Mohammad Hatta dalam bukunya /Mengambil Peladjaran dari Masa Lampau
untuk Membangun Masa Datang/ (1966) banyak mengupas fungsi-fungsi partai
politik. Ia menyatakan bahwa partai politik tersusun menurut golongan
paham atau pendapat yang ada dalam masyarakat. Pendapat yang dituangkan
ke dalam satu program aksi untuk membangun negara dan masyarakat
merupakan jalan untuk mewujudkan cita-cita dan kemakmuran rakyat.
Ia juga menyatakan bahwa salah satu fungsi lainnya dari partai politik
adalah mendidik rakyat untuk menyadari tanggung jawab atas keselamatan
bersama sebagai bangsa. Pun dengan misi untuk mewujudkan cita-cita
keadilan dan kemakmuran yang terkandung dalam hari nurani rakyat sudah
semestinya diperjuangkan setiap partai politik. Apabila cita-cita mulia
tersebut tidak dipegang betul oleh para anggotanya, maka akan banyak
kepentingan di dalam partai politik itu sendiri.
Mohamma Hatta menyatakan, pada masanya banyak orang yang keluar dari
partai politik karena tidak sesuai dengan kepentingan pribadinya. Pada
masanya, ada orang-orang yang ingin berkarier memperoleh kedudukan dan
mendapatkan rezeki di partai politik, akan banyak yang keluar dan
mendirikan partai politik sendiri apabila kepentingannya tidak tercapai.
Ia akan mendirikan partai baru, bukan karena prinsip orang berpisah
melainkan karena tujuannya sendiri tidak tercapai.
Kekuasaan politik menurut Mahatma Gandhi bukanlah tujuan akhir,
melainkan menjadi sarana untuk memperbaiki nasib masyarakat luas dalam
setiap bidang kehidupan. Kekuasaan politik untuk mengatur kehidupan
nasional melalui para wakilnya. Keperbihakannya pun harus jelas, dalam
bahasa Gus Dur harus mempunyai orientasi kepentingan masyarakat umum,
bukan pada kepentingan pribadi atau kelompok.
Menjelang pemilu pada April nanti, kita banyak berkaca dari fanatisme
masyarakat terhadap partai politik atau calon yang diusungnya. Banyak
yang menumpukan harapan kesejahteraannya pada calon tertentu, dan
melupakan peran sertanya sebagai masyarakat sipil sangat mempunyai andil
yang cukup besar dalam membangun bangsa ini. Setiap profesi mempunyai
andil dalam membangun keadilan sosial, kesejahteraan, dan cita-cita
mulia lainnya.
*Pelajaran Penting*
Kasus yang menimpa BTP sehingga dia masuk dalam penjara merupakan
pelajaran yang sangat penting baginya. Ia sebenarnya lebih paham
bagaimana kelompok-kelompok tertentu yang mengupayakan dirinya agar
masuk penjara, karena ia dianggap menodai agama. BTP juga sudah banyak
mengalami penolakan atas dirinya sebagai pemimpin daerah.
Atas pengalaman-pengalaman yang ia alami, memang sebaiknya ia tidak
membalas dendam atas apa yang telah ia terima. Melainkan, ia berbicara
lebih jauh lagi yaitu mengenai politik kebangsaan. Berbicara mengenai
persaudaraan, keadilan sosial, kemanusiaan, toleransi, dan lain
sebagainya daripada hanya berbicara tentang kekuasaan.
Politik kebangsaan sangat perlu dijadikan arus besar mengingat
eksklusivisme semakin marak di masyarakat. Persaudaraan kita
tersekat-sekat dengan perbedaan pilihan politik dan perbedaan agama.
Persaudaraan jangan dipahami sebagai persaudaraan sesama golongan saja,
melainkan harus ketiganya, persaudaraan sebangsa dan sesama umat
manusia. Trilogi persaudaraan --golongan/agama, bangsa, manusia-- inilah
yang akan menjaga keberagaman dan perdamaian negara ini. Dalam
kebangsaan, trilogi tersebut sudah terwakili pada Pancasila.
Apapun pilihan politik dan profesi kita, memang kita sudah semestinya
mempunyai orientasi kebangsaan. Artinya, berbicara untuk kepentingan
bersama, bukan kepentingan kelompok tertentu. Kasus BTP menjadi
pelajaran kita bersama atas persaudaraan kita yang semakin terkikis.
*Nur Sholikhin* /mahasiswa pascasarjana Psikologi Pendidikan Islam UIN
Sunan Kalijaga dan aktivis Gusdurian Yogyakarta
/
//
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*