https://news.detik.com/kolom/d-4398766/penjara-dan-titik-balik-kehidupan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.116685957.2097541221.1548342015-1444491495.1548342015
Kamis 24 Januari 2019, 15:16 WIB
Kolom
Penjara dan Titik Balik Kehidupan
Xavier Quentin Pranata - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4398766/penjara-dan-titik-balik-kehidupan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.116685957.2097541221.1548342015-1444491495.1548342015#>
Xavier Quentin Pranata
<https://news.detik.com/kolom/d-4398766/penjara-dan-titik-balik-kehidupan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.116685957.2097541221.1548342015-1444491495.1548342015#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4398766/penjara-dan-titik-balik-kehidupan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.116685957.2097541221.1548342015-1444491495.1548342015#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4398766/penjara-dan-titik-balik-kehidupan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.116685957.2097541221.1548342015-1444491495.1548342015#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4398766/penjara-dan-titik-balik-kehidupan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.116685957.2097541221.1548342015-1444491495.1548342015#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4398766/penjara-dan-titik-balik-kehidupan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.116685957.2097541221.1548342015-1444491495.1548342015#>
Penjara dan Titik Balik Kehidupan Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
*Jakarta* - "Meskipun tidak lagi menjabat sebagai Presiden Timor Leste,
Xanana Gusmao masih dianggap tokoh paling penting di sini. Siapa pun
yang ingin maju sebagai pemimpin nomor satu di negeri ini perlu
dukungannya," ujar seorang sahabat yang menemani saya selama di Timor
Timur.
Saat melewati rumahnya, halamannya penuh mobil. Artinya, banyak tamu
yang mengunjungi tokoh yang pernah dipenjara di Indonesia ini. Selama
dipenjara, mantan militan ini 'memperkaya' dirinya dengan belajar bahasa
Indonesia, Inggris, dan ilmu hukum. Hasilnya langsung moncer. Dia
berhasil duduk sebagai orang nomor satu di bekas provinsi Indonesia ini.
Demikian juga dengan Nelson Mandela. Begitu juga dengan Benazir Bhutto.
Begitu pula Aung San Suu Kyi. Juga Sukarno. Termasuk Fidel Castro yang
kontroversial itu. Bagaimana dengan Ahok?
*Penjara Tempat Menghukum Orang Jahat?*
Pertanyaan ini sering terlontar atau bahkan menjadi pemikiran serius,
khususnya orang-orang yang bekerja sebagai penegak hukum. Mengapa bisa
demikian? Karena kita tahu ada orang-orang yang tidak bersalah yang
masuk penjara karena berbagai sebab: salah sasaran, ketidaksengajaan,
dan tekanan massa.
Salah sasaran bisa diberikan contoh sederhana. Anda berada di tempat
yang salah pada waktu yang salah. Misalnya, Anda mendapati seseorang
terbaring berlumuran darah dengan pisau tertancap di dadanya di sebuah
wilayah yang memang terkenal sebagai daerah kriminal. Tergerak oleh
intuisi untuk menyelamatkannya, Anda mencabut pisau itu dan hendak
menolongnya. Pada saat yang bersamaan mobil patroli polisi datang dan
menangkap Anda. Bukan hanya tertangkap basah, sidik jari di pisau itu
pun milik Anda. Jika tidak ada saksi mata, kamera CCTV, atau pembunuh
aslinya tertangkap, bisa jadi Andalah yang jadi korban salah tangkap.
Alibi Anda begitu lemah sehingga pembelaan Anda kalah dengan bukti
'nyata' yang tampak jelas di permukaan.
Ketidaksengajaan bisa menimpa siapa saja. Saat berkendara, tiba-tiba ada
seorang bocah yang berlari ke jalan karena mengejar layang-layang putus.
Anda tidak sempat mengerem dan tabrakan maut pun terjadi. Anda masuk
penjara karena hal itu. Seorang bapak pernah bercerita bahwa dia seperti
lolos dari lubang jarum ketika mobilnya menabrak seorang bocah yang lari
ke jalan raya karena mengejar bola. Dia hampir saja menjadi korban amuk
massa seandainya bapak anak itu tidak segera keluar rumah dan berkata
lantang dan berwibawa, "Jangan pukuli bapak ini karena anak sayalah yang
salah. Dia mengejar bola tanpa melihat kiri kanan!"
Anda bisa saja masuk penjara karena tekanan massa lebih besar ketimbang
keberanian penegak hukum untuk membebaskan Anda. Bagaimanapun kuatnya
pledoi Anda dan betapapun lemahnya dakwaan jaksa, jika tekanan massa
menjadi panglima, Anda tetap saja kalah.
*Penjara Tempat Hukuman Agar Orang Jera?*
Pertanyaan ini pun sering berkelindan di otak sekaligus benak kita. Jika
demikian halnya, mengapa ada istilah residivis? Apakah penjara
betul-betul membuat kita bertobat atau justru bertambah jahat dan
seringkali kumat? Ketika mengunjungi penjara secara teratur untuk
memberikan kekuatan dan siraman rohani, saya melihat ada satu pintu
dengan tulisan besar dan mencolok: "Pintu Taubat". Di bawahnya ada
tulisan lain yang mengatakan bahwa seringkali kita masuk penjara bukan
karena jahat melainkan sesat. George W Bush pernah berkata, "/America is
the land of the second chance-and when the gates/ /of the prison open,
the path ahead should lead to a //better//life/." Nelson Mandela
membuktikannya seperti ucapannya, "/In my country we go to prison first
and then become President/."
Untuk mewujudkan harapan dua tokoh dunia itu, penjara butuh orang-orang
yang bisa mengkalibrasi GPS internal setiap orang yang rusak sehingga
petunjuk arahnya pun /error/. Butuh dokter atau ahli mata yang bisa
mengoperasi atau melaser mata orang-orang yang matanya mengalami
gangguan penglihatan. Butuh ahli pembuat kacamata sehingga penglihatan
yang buram terhadap kehidupan bisa jelas kembali sehingga tidak salah
sarah dan membentur siapa saja yang tidak searah.
Fakta di lapangan berbeda, bahkan bertolak belakang, dengan utopia
idealis di atas. Penjara, menurut pengalaman dan tuduhan banyak orang,
justru menjadi tempat orang yang lebih jahat mengajari orang yang kurang
jahat sehingga maling kecil bisa berubah menjadi perampok kelas kakap
begitu keluar dari penjara. Itu jugalah yang merupakan tesis Petr
Kropotkin di dalam tulisan gurihnya /Prison/: /Universities of Crime/
yang merupakan /up date/ dari bukunya yang legendaris /In Russian and
French Prisons. /Mengapa? Karena para kriminal itu dididik oleh orang
yang ahli.
Bisa juga karena penjara yang seharusnya membuat orang kapok justru
ruang bergembok yang membuat penghuninya aman dan nyaman melakukan
tindak kejahatan di dalamnya, misalnya justru menjadi bandar narkoba.
Kebebasan yang didapat dengan cara membayar upeti kepada para penegak
hukum, termasuk kalapas membuat mereka bebas. Kasus narapidana yang bisa
menyaksikan pertandingan olahraga di luar pulau merupakan bukti adanya
kasus main mata ini. Liputan eksklusif Najwa Shihab dari penjara semakin
membuktikan bahwa praktik ini nyata dan ada.
Kenyamanan hidup disertai pengamanan maksimal justru membuat penghuni
betah di dalam. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada penjara
tertentu-jika tidak boleh mengatakan semuanya-yang bisa membeli kamar
beserta fasilitasnya. Semakin besar dan mewah perlengkapan di dalamnya,
semakin dalam juga narapidana itu merogoh koceknya.
*Penjara Tempat Tetirah dan Kawah Candradimuka*
Mungkin inilah yang cocok bagi seorang Ahok. Di dalam penjara, seperti
cerita para sahabat dan /Ahokers/ yang banyak diunggah di media sosial,
di dalam penjara Ahok justru lebih rajin membaca kitab suci. Bukan hanya
rohaninya yang mendapatkan siraman, Ahok pun menempa jasmaninya. "Pak
Ahok kelihatan lebih sehat dan kekar," ujar seorang sahabatnya dari
balik jeruji Mako Brimob.
Selain sebagai tempat tetirah, penjara juga merupakan Kawah Candradimuka
yang mengikis sisi negatif Ahok. Di penjara dia belajar untuk bersikap
dan bertutur kata lebih santun. Selama ini dia dikenal sebagai pemimpin
yang gampang sekali mengeluarkan kata-kata "kasar" yang tidak enak
didengar, khususnya bagi orang yang biasa hidup di lingkungan yang
berunggah-ungguh. Entah dari mana Ahok belajar kata-kata keras itu,
namun dia menyadari bahwa agar bisa memimpin dengan baik, dia pun perlu
menghargai respons orang-orang yang dipimpinnya. /Ahokers die hard/
membelanya dengan berkata, "Jika tidak ditegasi, perilaku menyimpang
tidak bakal bisa ditumpas."
Dengan pengalaman hidup di dalam penjara hampir dua tahun, apakah nama
dan karier Ahok hancur atau semakin meluncur, bercahaya atau meredup?
Untuk nama, saya rasa nama Ahok justru semakin populer. Setiap tulisan
di media sosial yang mencantumkan namanya sebagai judul mendapatkan
/viewer/ dan /like/ serta komentar yang cukup banyak. Tulisan saya di
*detikcom* /Masihkah Anda Mengidolakan Ahok
<https://news.detik.com/kolom/d-3809804/masihkah-anda-mengidolakan-ahok>
/setahun lalu mendapat komentar sebanyak dua ratus.
Bagaimana dengan karier? Meskipun sudah di-/sounding /oleh banyak media,
bahwa Ahok akan melakukan ini dan itu, karier Ahok masih belum menentu.
Pilihannya setelah keluar dari penjara sedikit banyak berpengaruh di
sini. Apakah dia mau menjadi usahawan seperti semula, pembicara publik
atau bahkan /Youtuber/ atau /vlogger/, kembali ke darah dagingnya
sebagai politisi, atau --ini yang paling heboh-- menikah dengan Puput,
kita tunggu saja pernyataannya sendiri.
Jika visi misinya --seperti yang diamanatkan almarhum ayahnya--
mengangkat derajat Indonesia agar sejajar bahkan melampaui negara maju,
masih menjadi api yang tak kunjung padam, saya percaya Tjahaja Purnama
Basuki akan semakin bersinar, sehingga pernyataannya, "Panggil saya BTP"
justru menjadi titik balik kehidupannya. Selamat menghirup udara bebas, BTP!
*Xavier Quentin Pranata* /pelukis kehidupan di kanvas jiwa/