Memakai nama negara menyuruh orang berkorban memang paling enak dan gampang.. 
Tetapi yang pasti Jokowi sebagai presiden memang kepala negara tetapi sebagai 
calon presiden sama sekali tidak bisa dibilang representasi negara.Cuman dalam 
pilpres ini, memilih Jokowi, Probowo, ataupun memilih untuk tidak memilih 
keduanya, bukankah sudah terhitung memenuhi panggilan negara?

kutipan:Saya pernah dengar seorang tentara sipil Ukraina berkata kira-kira 
demikian: 'Saya tidak peduli saya lahir di mana, agamanya apa, dan etnisnya 
apa. Ketika negaraku membutuhkanku, walau tak menguntungkanku, maka aku akan 
rela mati memperjuangkannya.'Seperti inilah yang saya rasakan saat ini. 
Mendukung Jokowi adalah bagian dari tanda aku berbuat sesuatu untuk negaraku 
ketika negara memanggilku untuk menentukan nasib Indonesia ini sepanjang 
2019-2024.


---In [email protected], <ilmesengero@...> wrote :

 Apakah mereka yabg tertera pada gambar adalah negara yang memanggil?

On Mon, Jan 28, 2019 at 9:46 PM Awind j.gedearka@... [nasional-list] 
<[email protected]> wrote:







https://seword.com/politik/ketika-negara-memanggilmu-apakah-kamu-akan-diam-l4piLMBL1


Ketika Negara Memanggilmu, Apakah Kamu Akan Diam?

Mora Sifudan . 3 hours ago . 4 min read . 0
   
   - Politik
   -    

   -    

   -    

   -    


Saya pernah ditanya kenapa begitu getol menulis untuk membela Jokowi dan seolah 
mencekal Prabowo. Mereka menganggap tidak akan mendapatkan apa-apa, toh setelah 
Pilpres aku tetap jadi rakyat jelata. Bahkan keluargaku mengatakan kalau aku 
dapat masalah karena terlalu keras mengkritik Prabowo, bukan Jokowi yang akan 
susah, melainkan keluarga.

Ya, benar aku memang tidak akan mendapatkan apa-apa. Kalau Jokowi jadi presiden 
nanti, aku akan kembali jadi rakyat jelata. Paling saya suatu saat jumpa lagi 
dengan Jokowi untuk kedua kalinya. Apalah arti sebuah pertemuan kalau hanya 
jadi tinggal kenangan?

Benar juga kalau suatu saat saya dapat masalah karena Pilpres, bukan Jokowi 
yang susah melainkan keluarga. Kalau diakui sebagai pendukung masih untung, 
gimana kalau nggak diakui.

Tetapi perlu Anda tahu bahwa saya mendukung Jokowi bukan demi diriku sendiri, 
melainkan demi anak cucuku nanti. Saya tidak ingin suatu saat ketika Indonesia 
ini kembali dipimpin otoriter, anak cucuku menyesali kecuekan dan kediamanku 
atas apa yang terjadi di negara ini. Aku tidak ingin mereka kecewa.. Setidaknya 
saya berbuat sesuatu untuk menentukan masa depan bangsa meskipun itu hanya 
dalam tulisan.

Mungkin mereka akan membantah bahwa sudah ada orang yang akan melakukan apa 
yang aku lakukan sekarang. Ya, benar. Meskipun aku diam, toh akan ada orang 
yang akan berjuang memenangkan Jokowi. Tetapi alangkah baiknya jika orang-orang 
yang mendukung orang baik itu dibantu sebisanya. Orang baik bersama orang baik.

Mereka juga mempertanyakan apakah Jokowi itu benar-benar orang baik. Masa depan 
memang tidak ada yang tahu. Tetapi saya harus memastikan agar masa depan itu 
jauh lebih baik dengan mendukung orang baik.

Jokowi orang baik? Ya. Saya tidak ragu akan hal itu. Alasan logisnya sederhana 
dan banyak. Di antaranya, hanya pemimpin yang baik yang akan terus bekerja 
membangun suatu bangsa meskipun ia dicela, di hina, difitnah dan dilecehkan. 
Bukan dia tidak merasa sakit, tetapi bagi dia kebahagiaan rakyat Indonesia jauh 
lebih penting dari pada harga dirinya sendiri. Pemimpin seperti itu jarang 
ditemukan di negeri ini.

Siang malam ia bekerja untuk negara ini. Orang miskin dia perhatikan. Orang 
terisolasi di pinggiran Indonesia dia persembahkan akses konektivitas berupa 
jalan, telekomunikasi dan aliran listrik. Bukan hanya angan-angan sebagaimana 
para pemimpin pendahulunya, melainkan sudah terlaksa walau belum selesai 
seluruhnya. Apakah bukan pemimpin seperti itu yang Indonesia dam akan selama 
ini?

Emang Prabowo tidak bisa lakukan itu? Kalau sudah ada yang sudah terbukti, 
ngapain ajukan yang masih berjanji. Selain itu sejarah kelam karir Prabowo 
sudah cukup alasan untuk membuktikan untuk tidak memberikan kepemimpinan ke 
tangannya. Dulu dia memimpikan kekuasaan dengan mau kudeta pun sekarang dia mau 
meraih kekuasaan itu dengan cara-cara biadap. Apakah itu masih kuharapkan akan 
membawa kesejahteraan di Indonesia ini?

Saya tidak mau mempertaruhkan nasib bangsa ini dengan menggantungkan harapan 
kepada orang yang dulu pernah gagal menjadi seorang pemimpin, dengan memberikan 
kekuasaan kepada orang yang haus kausa.

Lebih baik saya kalah melawan kejahatan dari pada menang sebagai orang jahat. 
Lebih baik saya berjuang membela kebaikan dari pada diam membiarkan kejahatan 
meraih kekuasaan. Lebih baik saya pernah kalah memperjuangkan orang baik dari 
pada menyerah pada keadaan.

Apa nanti kata anak cucuku ketika mewariskan bangsa yang dipimpin penguasa 
seperti Prabowo yang mengandalkan kebohongan dan propaganda demi kuasa? Mereka 
mungkin nanti akan menyesal dengan sikapku yang diam, lari dari kenyataan. Ya, 
saya tidak mau dianggap sebagai orang yang turut menikmati kejatuhan orang 
baik, melainkan saya mau membuat mereka bangga terhadap pendahulunya yang 
berjuang demi negara.

Saya pernah dengar seorang tentara sipil Ukraina berkata kira-kira demikian: 
'Saya tidak peduli saya lahir di mana, agamanya apa, dan etnisnya apa. Ketika 
negaraku membutuhkanku, walau tak menguntungkanku, maka aku akan rela mati 
memperjuangkannya.'

Seperti inilah yang saya rasakan saat ini. Mendukung Jokowi adalah bagian dari 
tanda aku berbuat sesuatu untuk negaraku ketika negara memanggilku untuk 
menentukan nasib Indonesia ini sepanjang 2019-2024.

Apakah itu berlebihan? Tidak. Malah wajar-wajar saja. Justru karena wajar, 
makanya aku tidak merasa sulit untuk melakukannya.

Salam dari rakyat jelata
editorchoice
Mora Sifudan

Angin sepoi malam ajah.... Yang 













Kirim email ke