Tiongkok Targetkan Keterbukaan di Level Lebih Tinggi

http://indonesian.cri.cn/20190128/69dc2a13-ff57-3eb7-5f38-28bf501560b2.html
2019-01-28 16:02:24

Forum Ekonomi Dunia (WEF) digelar di Davos, Swiss pada pekan lalu. Di ajang forum ekonomi global tersebut Tiongkok sekali lagi memaparkan tekad dan keyakinannya untuk melaksanakan keterbukaan yang menyeluruh terhadap dunia. Pada satu bulan yang lalu, pemerintah pusat dalam sebuah rapat ekonominya mengajukan akan berupaya mewujudkan keterbukaan sistematis yang berlandaskan pada regulasi dan peraturan dari keterbukaan lama yang mengutamakan pergerakan komoditas dan faktor (factor mobility). Pesan yang disampaikan di rapat tersebut menunjukkan bahwa keterbukaan Tiongkok akan memasuki tahap yang baru.

Secara harfiah, keterbukaan yang mengutamakan factor mobility memiliki ciri khas seperti apa yang umumnya dimiliki negara-negara “/late developer/”, sekaligus merupakan efek dari investasi global oleh perusahaan transnasional pada era pembangunan besar-besaran. Biasanya negara “late developer” memiliki potensi yang sangat besar di bidang sumber daya manusia, suplai bahan mentah dan pasar konsumsi. Melalui pembukaan pasar yang memungkinkan masuknya faktor-faktor produksi eksternal, negara-negara “late developer” berusaha mendorong industrialisasi dan urbanisasi lokal. Di kawasan Asia Timur, keterbukaan jensi “factor mobility” mengindikasikan karakteristik/echelon transfer/. Misalnya Jepang dalam proses pembaruan industrinya setapak demi setapak memindahkan/sunset industry/ke empat macan Asia serta Daratan Tiongkok dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Akan tetapi, proses transfernya berhenti setelah terjadinya krisis industri di negara-negara maju.

Krisis moneter global pada 2008 adalah satu titik balik dalam proses penyesuaian kembali konfigurasi/factor mobiliy/di seluruh dunia. Gara-ara ketidakseimbangan investasi dan perdagangan, negara-negara maju merenung kembali kebijakan industri masing-masing negara dengan menerapkan kebijakan proteksionisme “kompetitif” di bidang-bidang industrialisasi, perpajakan dan perdagangan luar negeri, sehingga pada akhirnya menimbulkan dampak subversif terhadap konfigurasi factor mobiliy global. Bergesernya faktor produksi dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang tidak lagi menjadi karakteristik yang terikat pada rutinitas ekonomi global, malah dalam kerja sama ekonomi global muncul semakin banyak pagar atau halangan sistematis, khususnya di bidang perdagangan.

Perubahan tersebut secara wajar menghadapkan reformasi dan keterbukaan Tiongkok pada tantangan yang baru. Dalam waktu 40 tahun yang lalu, Tiongkok melaksanakan reformasi dengan menelusuri pola progresif, yakni terus menggabungkan diri dalam sistem produksi global dengan mematok pada peraturan dan regulasi yang menjadi arus utama dunia. Pasca krisis moneter pada 2008 Tiongkok memulai proses reformasi sistem ekonomi domestik yang lebih mendalam. Keterbukaan putaran baru dimulai dengan pembentukan sejumlah kawasan perdagangan bebas (FTA). Langkah-langkah yang diterapkan antara lain penyederhanaan prosedur perizinan komoditas impor dan lain sebagainya. Ekspo Impor Internasional Tiongkok atau CIIE pertama yang digelar pada 2018 menjadi salah satu platform penting bagi Tiongkok untuk melakukan reformasi dengan bercermin pada kebijakan-kebijakan yang dijalankan di sejumlah ekonomi utama dunia. Reformasi yang berpatok pada standar negara-negara maju itulah yang menjadi inti sari keterbukaan sistematis Tiongkok saat ini.



---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke