Sri Mulyani Sebut Utang Logis Selama APBN Defisit
CNN Indonesia | Selasa, 29/01/2019 13:25 WIB
Bagikan :
Sri Mulyani Sebut Utang Logis Selama APBN DefisitMenteri Keuangan Sri
Mulyani menganggap volume penambahan jumlah utang Indonesia sejauh ini
masih logis. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan*Sri Mulyani
<https://www.cnnindonesia.com/tag/sri-mulyani>* menyebut volume
penambahan
jumlah*utang*<https://www.cnnindonesia.com/tag/utang>Indonesia sejauh
ini masih logis dibanding skala ekonomi nasional. Apalagi, utang ditarik
dalam kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang masih
defisit.
Sudah menjadi rahasia umum jika pemerintah kerap menggunakan opsi utang
dalam menambal defisit APBN yang terus terjadi. "Kalau nominal defisit
APBN selalu ada, maka nominal (utang) akan bertambah," ucap Sri Mulyani,
Selasa (29/1).
Pada 2018 kemarin, pemerintah menutup tahun dengan defisit anggaran
sebesar 1,72 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Walaupun masih
defisit, tapi jumlahnya sebenarnya lebih kecil dari yang ditargetkan
dalam APBN 2018 sebesar 2,19 persen.
Lihat juga:
KSSK Nyatakan Stabilitas Sistem Keuangan Dalam Negeri Terjaga
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190129103349-532-364657/kssk-nyatakan-stabilitas-sistem-keuangan-dalam-negeri-terjaga/>
Sementara itu, Sri Mulyani juga menyebut agar sejumlah pihak tak hanya
fokus menyoroti utang saja tanpa membandingkan dampaknya terhadap
indikator lain. Ia meminta pengertian utang dilihat dalam konteks lebih
luas.
"Apakah utang itu mampu untuk menjaga stabilitas ekonomi indonesia waktu
dia menghadapi tekanan harga komoditas jatuh, ekspor negatif waktu tahun
2014-2015 lalu," sambung Sri Mulyani.
Belum lagi, pemerintah juga menarik utang untuk membangun proyek
infrastruktur beberapa tahun terakhir. Kemudian, dampaknya pada
pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan.
Lihat juga:
Bursa Saham Asia dan AS Kompak Merosot
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190129122320-92-364682/bursa-saham-asia-dan-as-kompak-merosot/>
"Jadi kalau cuma melihat dari utangnya saja, jadi kehilangan
konteksnya," imbuh Sri Mulyani.
Informasi saja, total utang pemerintah sampai Desember 2018 sebesar
Rp4.418,3 triliun. Bila dibandingkan dengan posisi akhir 2017 yang
sebesar Rp3.995,25 triliun, jumlahnya naik 10,5 persen.
Selain itu, pembiayaan utang dalam APBN 2018 tercatat sebesar Rp366,7
triliun atau setara dengan 91,8 persen dari target Rp399,2 triliun.
Angka itu lebih rendah dibandingkan dengan 2017 yang mencapai Rp429,1
triliun.
Terkait pembayaran bunga utang tahun lalu sebesar Rp258,1 triliun.
Jumlahnya membengkak dari asumsi awal yang hanya Rp238,6 triliun. Untuk
2019 ini, pembayaran bunga utang tercatat meningkat menjadi Rp216,6 triliun.
Lihat juga:
Bank Mandiri Incar Akuisisi Bank Kelas Menengah
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190128211318-78-364568/bank-mandiri-incar-akuisisi-bank-kelas-menengah/>
Sebelumnya, sejumlah pihak kerap mengkritik utang pemerintah yang
semakin lebar. Kritik itu datang salah satunya dari calon presiden
Prabowo Subianto belum lama ini.
Bahkan, ia mengklaim Menteri Keuangan sebaiknya disebut sebagai menteri
pencetak utang. Namun, Prabowo tak menyebut spesifik nama Sri Mulyani
saat itu.
"Kalau menurut saya, jangan disebut lagi lah ada Menteri Keuangan.
Mungkin menteri pencetak utang," kata Prabowo.*(aud/lav)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com