Imlek 2019: Apakah ada 'semangat sensor' dalam tahun babi? 
https://www.bbc.com/indonesia/dunia-47084878 4 jam lalu

 Bagikan artikel ini dengan Facebook 
https://www.bbc.com/indonesia/dunia-47084878#  Bagikan artikel ini dengan 
Messenger https://www.bbc.com/indonesia/dunia-47084878#  Bagikan artikel ini 
dengan Twitter https://www.bbc.com/indonesia/dunia-47084878#  Bagikan artikel 
ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=https%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Fdunia-47084878
  Kirim https://www.bbc.com/indonesia/dunia-47084878#share-tools




 Hak atas fotoREUTERSImage captionGuru-guru datang ke acara kaligrafi Mandarin 
di Kuala Lumpur, Malaysia untuk menandakan datangnya tahun Babi. Komunitas 
keturunan Cina di dunia tengah bersiap merayakan Tahun Baru Imlek, yang kali 
ini merupakan tahun Babi.
 Perayaan ini biasanya identik berbagai dekorasi, boneka, hadiah, dan iklan 
yang menampilkan binatang tahun tersebut.
 Tapi babi, binatang paling akhir di kalender zodiak Cina dipersepsikan beragam 
bagi komunitas Muslim.
 Lantas apakah ini menyebabkan masalah bagi komunitas yang merayakannya di 
negara dengan penduduk mayoritas Muslim di Asia Tenggara?
 Seperti kebanyakan keluarga Cina-Malaysia, tahun baru Imlek dipersiapkan 
secara serius oleh keluarga Chow yang tinggal di Batu Pahat, Malaysia.
 Tahun ini merupakan hal yang spesial karena Chow Yoon Kee, istrinya, Stella 
dan anak perempuannya semua lahir di tahun Babi.
 ‘Harta karun’ tersembunyi di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa 
https://www.bbc.com/indonesia/majalah-43054495 'Dicina-cinakan' di jalan: 
pengalaman putra 'tokoh integrasi' Tionghoa Indonesia pada 1965 
https://www.bbc.com/indonesia/dunia-41738253 Etnis Cina dan India ihwal 
larangan pemilikan tanah di Yogyakarta: yang berjuang dan yang 'nrimo' 
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44312524 "Kami memasang dekorasi babi 
keberuntungan di rumah dan mengundang kerabat, teman, kolega dan tetangga untuk 
berkunjung, apapun ras dan agama mereka - perayaan adalah untuk semua," kata 
Chow, seorang manajer di sebuah pabrik biskuit lokal.
 Dia tidak khawatir tentang perayaan yang mungkin menyinggung sejumlah orang di 
lingkungannya karena dia percaya tidak ada hal yang bisa menjadi kontroversi.
 "Ada banyak debat tahun lalu," dia mengingat, ketika tahun Anjing datang.
 Banyak toko tidak mau menampilkan gambar-gambar anjing karena takut akan 
menyinggung komunitas Muslim.
 Malaysia adalah tempat yang multikultur tetapi agama resminya adalah Islam. 
Ada sejumlah laporan intoleransi pada aktivitas yang dianggap menyinggung kaum 
Muslim.
 Tapi Chow mengatakan otoritas lokal mengabaikan perasaan komunitas keturunan 
Cina yang betul-betul merayakan tahun baru.
 "Malaysia terdiri dari berbagai suku, tidak hanya Muslim Melayu. Kami punya 
komunitas Cina dan India, juga agama lain seperti Kristen, Hindu, Tao dan 
Buddha jadi kita harus saling menghormati kepercayaan dan perayaan 
masing-masing."
 Dia mengatakan "semangat sensor" tahun lalu sepertinya tidak terjadi di Tahun 
Babi ini.
Hak atas fotoAFPImage captionDekorasi babi-babi yang hadir di Chinatown, 
Singapura. Tiap binatang dalam zodiak Cina dipercaya punya karakter unik 
tersendiri. Orang yang lahir di tahun babi adalah orang yang pandai, baik hati, 
dan setia.
 Tapi apa dampaknya jika binatang di tahun itu tidak disambut baik? "Tidak ada 
alasan untuk khawatir," kata konsultan Feng Shui di Kuala Lumpur Joey Yap.
 Dia mengatakan pada BBC bahwa tahun ini perayaan tidak menjadi sensitif 
seperti yang terjadi tahun lalu.
 "Babi tidak apa-apa," katanya, menambahkan memajang dekorasi babi atau tidak, 
tidak akan berpengaruh pada keberuntungan Anda.
 "Warna, dekorasi, mereka tidak penting. Realitasnya, keberuntungan tercipta 
dari tindakan, jadi rangkullah nilai positif."
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionDekorasi jelang imlek di Jakarta. Tapi 
apakah kasusnya sama di Indonesia, dengan penduduk Muslim terbesar di dunia?
 Merry Olivia, 28, mengatakan teman-temannya yang Muslim tidak masalah dengan 
gambar-gambar babi.
 "Saya besar dengan teman-teman Muslim jadi saya tahu itu tidak membuat mereka 
marah," katanya sambil menambahkan bahwa babi tampak lebih meriah dibandingkan 
tahun tahun lain.
 "Kalau dibandingkan Tahun Ular misalnya, tidak banyak yang suka. Babi itu lucu 
jadi banyak yang akan suka."
 Valeria Rita yang memiliki usaha Dapur Mama Loe menyediakan kue khusus 
menyambut tahun Babi, yaitu nastar bentuk jeruk dan babi.
 Dia mengatakan responsnya bagus sekali. "Tiap tahunnya, untuk Imlek, kami buat 
nastar karakter motif jeruk yang identik dengan perayaan Imlek. Khusus untuk 
tahun ini, kami tambahkan karakter babi sesuai dengan shio tahunnya."
Hak atas fotoDAPUR MAMA LOEImage captionValeria Rita mengatakan kuenya ini 
laris manis hingga banyak orang mengantri pesan untuk Gap Go Meh. Banyak 
konsumennya adalah Muslim. "Mereka beli kue ini untuk kolega dan teman yang 
merayakan. Beberapa juga beli untuk mereka sendiri karena suka banget sama 
karakter babi, bahkan koleksi pernak-pernik babi.
 Teman baik saya yang Muslim suka becanda, "wahh ini babi pertama yang 100% 
halal."
 Sentimen negatif di Bogor dan Pontianak
 Walau begitu, ada sejumlah orang yang merasa khawatir.
 Rangga Sastrajaya mengaku enggan menampilkan dekorasi-dekorasi Imlek di depan 
publik karena takut membuat teman-temannya yang lain tidak nyaman.
 "Kalau pakai kaos gambar babi di komunitas tidak masalah tapi kalau di luar 
mending tidak, kemudian kalau pasang dekorasi sebaiknya di dalam rumah jadi 
tidak terlalu kelihatan," katanya.
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionKasus Ahok berdampak pada meluasnya 
intoleransi, kata pakar. Imlek sudah menjadi hari libur nasional di Indonesia 
dan perayaan publik menjadi umum di sejumlah kota. Tapi belakangan ada sejumlah 
organisasi massa yang menolaknya.
 Forum Muslim Bogor (FMB) misalnya meminta perayatan Imlek tidak 
diselenggarakan secara publik di Bogor. Alasannya, mereka menilai Imlek bukan 
cuma budaya tetapi juga perayaan keagamaan, karena itu tidak pantas bagi Muslim 
berpartisipasi.
 Di Pontianak, suara serupa diungkapkan oleh Pemuda Pancasila (PP) dan Malayan 
Persatuan Forum Komunikasi Pemuda Melayu (PFKPM).
 Mereka menolak adanya perayaan terbuka karena takut acara itu menjadi ajang 
kampanye di masa pemilu ini.
 Peneliti kemasyarakatan dan kebudayaan Thung Ju-Lan dari LIPI mengatakan 
sentimen-sentimen ini merupakan dampak dari intoleransi dan narasi politik yang 
bergulir setelah kasus penistaan agama yang menjerat mantan gubernur DKI 
Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.
 Namun Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa kepercayaan 
orang-orang dari berbagai budaya, agama, dan tradisi harus dihormati.
 Laporan disusun oleh Heather Chen di Singapura dan Christine Franciska, Ayomi 
Amindoni di Jakarta.


 
 

Kirim email ke