"Fatwa gerakan 212 saya yang buat, sebagai gerakan penegakan hukum atas kasus 
Ahok. Penegakan hukumnya sudah dilakukan, maka itu sudah selesai," kata Ma'ruf 
Amin, saat bertemu kiai dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) wilayah Pantai Utara di 
Hotel Gumaya Semarang, Selasa (5/2/2019).

 ...
 Ma'ruf: Gerakan 212 Sudah Selesai, Saya Buat untuk Menghukum Ahok 
https://www.suara.com/news/2019/02/06/000000/maruf-gerakan-212-sudah-selesai-saya-buat-untuk-menghukum-ahok
 Agung Sandy Lesmana
 Rabu, 06 Februari 2019 | 00:00 WIB

 
 Maruf Amin. (Suara.com/Walda)

 
 Kendati muncul gerakan baru yakni 411 serta gerakan yang melabelkan 212, 
termasuk yang memakai nama GNPF, menurut Ma'ruf tujuannya sudah berbeda.
 

 Suara.com - Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin menyatakan jika 
gerakan 212  https://www.suara.com/tag/gerakan-212sekarang sudah tidak ada. 
Menurutnya, gerakan 212 yang kini berganti jadi Persaudaraan Alumni (PA) 212 
adalah gerakan politik, bukan sesuai fungsi utama saat pertama dibuat yakni 
sebagai penegakan hukum.
 Gerakan 212, diakui Ma'ruf Amin adalah bentukannya. Namun sejalan dengan 
selesainyakasus penodaan agama  
https://www.suara.com/tag/kasus-penodaan-agamaoleh Basuki Tjahaja Purnama (BTP) 
alias Ahok, maka berakhir pula gerakan 212.
 
 
 "Fatwa gerakan 212 saya yang buat, sebagai gerakan penegakan hukum atas kasus 
Ahok. Penegakan hukumnya sudah dilakukan, maka itu sudah selesai," kata Ma'ruf 
Amin, saat bertemu kiai dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) wilayah Pantai Utara di 
Hotel Gumaya Semarang, Selasa (5/2/2019).
 

 Kendati muncul gerakan baru yakni 411, serta gerakan yang melabelkan 212, 
termasuk yang memakai nama GNPF, menurut mantan Ketua MUI itu tujuannya sudah 
berbeda.
 "Muncul nama PA (Persatuan Alumni) 212. Kemudian GNPF-MUI diganti, dibuat GNPF 
Ulama. Ini sudah tidak ada kaitannya dengan istilah penegakan hukum, tapi 
gerakan politik," kata dia.
 Ma'ruf menyebut, jika gerakan-gerakan itulah yang kemudian dijadikan kendaraan 
politik oleh kelompok-kelompok tertentu. Mereka membuat manuver dengan segala 
gerakan politisasinya.
 "Kalau sekarang dihidupkan lagi (212), kalau untuk silaturahim nggak masalah. 
Asal jangan (tujuan) yang lain," ujarnya.
 Kepada para kiai dan ulama di Pantura, Ma'ruf Amin juga menyampaikan bahwa 
munculnya gerakan itu terutama dalam Pemilihan Presiden 2019 menandakan bukan 
lagi soal memenangkan capres dan cawapres saja, namun sudah dalam momen 
pertarungan antar-ideologi.
 
 "NU tetap pada khittahnya, satu suara, solid dengan satu suara mendukung 
pasangan calon presiden dan wakil presiden yang sudah pasti bakal menjaga 
keberlangsungan NU itu sendiri," tukas Ma'ruf Amin.
 
 Kontributor : Adam Iyasa

Kirim email ke