*Mengapa jumlah pe**nduduk miskin Banten bertambah?*
*http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/6015/jumlah_penduduk_miskin__di_banten_bertambah
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/6015/jumlah_penduduk_miskin__di_banten_bertambah>*
*Jumlah
Penduduk Miskin di Banten Bertambah*

Minggu , 27 Januari 2019 | 10:16


[image: Jumlah Penduduk Miskin di Banten Bertambah]


Sumber Foto Seputar Banten
Ilustrasi


JAKARTA--Jumlah penduduk miskin di Banten bertambah 7,38 ribu orang dari
661,36 ribu orang pada Maret 2018 menjadi 668,74 ribu orang pada September
2018.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, Agoes Soebeno di Serang, Sabtu
(26/1), mengatakan jika dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret
2018, maka selama enam bulan terjadi peningkatan sebesar 0,01 poin (dari
posisi 5,24 persen) pada periode Maret.

Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan mengalami penurunan
sedangkan di daerah perdesaan mengalami peningkatan. Persentase penduduk
miskin di perkotaan turun dari 4,38 menjadi 4,24 dan persentase penduduk
miskin di perdesaan naik dari 7,33 pada Maret 2018 menjadi 7,67 pada
September 2018.

Secara umum, pada periode 2002 hingga 2018 tingkat kemiskinan di Banten
cenderung menurun baik dari sisi jumlah maupun persentase, kecuali pada
2006, September 2013, Maret 2015, September 2017 dan September 2018.

Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode tersebut dipicu
oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebagai akibat dari kenaikan
harga bahan bakar minyak.

Garis Kemiskinan dipergunakan sebagai suatu batas untuk mengelompokkan
penduduk menjadi miskin atau tidak miskin. Penduduk miskin adalah penduduk
yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis
Kemiskinan. Selama periode Maret-September 2018, Garis Kemiskinan naik
sebesar 4,42 persen, yaitu dari Rp431.069,- per kapita per bulan pada Maret
2018 menjadi Rp450.108,- per kapita per bulan pada September 2018.

Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK) yang terdiri dari Garis
Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM), dapat
dilihat bahwa peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan
peranan komoditi non makanan, yang terdiri dari perumahan, sandang,
pendidikan dan kesehatan.

Sumbangan GKM terhadap GK pada September 2018 adalah sebesar 71,60 persen,
mengalami sedikit penurunan dibandingkan Maret 2018 yang sebesar 71,66
persen, seperti dikutip *Antara*.

Pada September 2018, beras masih berperan sebagai penyumbang terbesar Garis
Kemiskinan baik di perkotaan (19,63 persen) maupun di perdesaan (23,45
persen).

Keempat komoditi makanan lainnya penyumbang Garis Kemiskinan di perkotaan
adalah rokok kretek filter (11,46 persen), telur ayam ras (4,19 persen),
daging ayam ras (3,86 persen) dan mie instan (2,61 persen). Sedangkan di
daerah perdesaan, empat komoditi makanan penyumbang terbesar terhadap Garis
Kemiskinan secara berturut-turut adalah rokok kretek filter (17,33 persen),
telur ayam ras (3,18 persen), roti (2,70 persen) serta kopi bubuk dan kopi
instan sebesar 2,60 persen.

Sementara komoditi non makanan pemberi sumbangan terbesar untuk Garis
Kemiskinan baik di perkotaan maupun di perdesaan sama. Kelima komoditi non
makanan penyumbang Garis Kemiskinan di perkotaan adalah biaya perumahan
(9,30 persen), bensin (5,15 persen), listrik (3,71 persen), pendidikan
(1,77 persen) dan perlengkapan mandi (1,21 persen). Di perdesaan lima
komoditi non makanan penyumbang Garis Kemiskinan adalah biaya perumahan
(10,84 persen), bensin (2,54 persen), listrik (2,05 persen), biaya
pendidikan (1,06 persen) dan perlengkapan mandi sebesar 1,01 persen.



Sumber Berita:Antaranews.com

Kirim email ke