ANALISIS
Politisasi 'Asing' Dua Capres dan Label Negatif Sebuah Kata
CNN Indonesia | Jumat, 08/02/2019 07:30 WIB
Bagikan :
Politisasi 'Asing' Dua Capres dan Label Negatif Sebuah KataIstilah
'asing' kerap digunakan dua kubu capres di Pemilu 2019. (ANTARA
FOTO/Setneg-Agus Suparto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kata '*asing
<https://www.cnnindonesia.com/tag/asing>*' kini menjadi salah satu
istilah yang kerap jadi bahan narasi para tokoh politik jelang *Pemilu
2019 <https://www.cnnindonesia.com/tag/pemilu-2019>*. Kata ini kerap
disandingkan dengan kata 'antek', 'pro', 'tenaga kerja' dan belakangan
dengan kata 'konsultan'. Kata 'asing' seakan bermakna negatif sehingga
jadi amunisi serangan yang ditudingkan ke lawan politik.
Calon presiden petahana *Joko Widodo*
<https://www.cnnindonesia.com/tag/joko-widodo>kerap jadi subjek yang
dikaitkan kata 'asing' ini. Jokowi kerap dituding antek asing atau pro
asing.
Salah satunya oleh Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo
Subianto-Sandiaga Uno, Ferdinand Hutahaean. Dia menyerang Jokowi dengan
menyebut bahwa mantan Wali Kota Solo itu mempermudah tenaga kerja asing
masuk Indonesia.
"Terkait lapangan kerja, kita akan evaluasi kontak kerja sama yang
dilakukan Jokowi dengan perusahaan asing yang mengakibatkan serbuan
tenaga kerja asing. Harus jadi lapangan kerja untuk anak bangsa," ucap
Ferdinand beberapa waktu lalu.
Lihat juga:
JK Bela Jokowi soal Prapaganda Rusia Kubu Prabowo
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190206162724-32-366869/jk-bela-jokowi-soal-prapaganda-rusia-kubu-prabowo/>
Selain soal tenaga kerja asing dan Jokowi kerap dituding karena dinilai
mempermudah investasi asing masuk.
Jokowi pun belakangan jengah. Ia juga melontarkan tuduhan serupa. Kali
ini dengan tudingan bahwa ada yang menggunakan konsultan asing dan
propaganda Rusia.
"Konsultannya konsultan asing. Terus yang antek asing siapa?" kata
Jokowi di Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (3/2).
Jokowi tak menyebut siapa pihak yang memakai konsultan politik asing.
Mantan Wali Kota Solo itu hanya menyebut konsultan asing tersebut
menggunakan teori propaganda Rusia.
Politisasi 'Asing' Dua Capres dan Label Negatif Sebuah KataCapres nomor
urut 02 Prabowo Subianto. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Ucapan Jokowi ini dipertegas oleh Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf.
Wakil Ketua TKN yang juga Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto
menyebut Prabowo didukung oleh konsultan asing sejak kontestasi politik
2009 silam.
"Sejak 2009 yang lalu, kami tahu Pak Prabowo itu didukung oleh konsultan
asing. Kami jadi saksi mata dan hal tersebut adalah persoalan di mana
kami membangun martabat dalam memenangkan itu," katanya.
Peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto
Raharjo Jati mengamini istilah 'asing' dalam pemilu berkonotasi negatif.
Alhasil istilah ini dapat digunakan untuk mendiskreditkan satu sama lain
sehingga diharapkan bisa menggerus elektabilitas lawan.
Lihat juga:
Tim Prabowo Cemas Putin Tersinggung 'Propaganda Rusia' Jokowi
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190206114142-32-366760/tim-prabowo-cemas-putin-tersinggung-propaganda-rusia-jokowi/>
"Labelisasi 'asing' itu langsung mengena soal visi misi, progam kerja
yang diusung, dan pola kepemimpinan figur tersebut. Semuanya kemudian
mengerucut pada capres-cawapres ini apakah seorang nasionalis atau agen
luar?" ujar Wasisto saat dihubungi/CNNIndonesia.com/, Kamis (7/2).
Wasisto mengatakan definisi 'asing' yang sudah kadung negatif ini sudah
terpatri sejak lama. Di era kolonial, istilah 'asing' akrab untuk
pendatang eropa yang diberikan keistimewaan ketimbang pribumi.
Politisasi 'Asing' Dua Capres dan Label Negatif Sebuah KataCapres nomor
urut 01 Joko Widodo. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Berlanjut di era revolusi dan demokrasi terpimpin, istilah 'asing' kerap
disematkan untuk menyebut pihak luar atau kaki tangan dalam negeri yang
bekerjasama untuk melawan republik.
Sementara di era reformasi, lanjut Wasisto, istilah 'asing' merujuk pada
orang luar yang bukan orang Indonesia asli.
"Dari lintasan sejarah tersebut, istilah 'asing' sebenarnya istilah
politik yang bermakna agen maupun kaki tangan pihak luar untuk
menguasai," ujar Wasisto.
Lihat juga:
TKN Berdalih Kampanye Menyerang Jokowi sebagai Edukasi Publik
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190204180642-32-366448/tkn-berdalih-kampanye-menyerang-jokowi-sebagai-edukasi-publik/>
Sementara itu, Pengamat Politik Universitas Negeri Jakarta Ubedilah
Badrun menilai istilah 'asing' sebenarnya tak sepenuhnya negatif. Jika
mau objektif, kata 'asing' justru bisa bermakna positif.
Ia mencontohkan, dalam konsep kemampuan mengelola kedaulatan negara,
'asing' justru bisa dianggap sebagai mitra, bukan musuh. Namun jika
konsepnya adalah kedaulatan di bidang ekonomi politik, 'asing' bisa
dimaknai negatif.
Apalagi, kata Ubed, di era komunitas digital saat ini di mana harus
dikedepankan kolaborasi antarnegara.
"Jadi sebetulnya diksi asing harus dibongkar harus diperdebatkan dalam
arena publik. Apa yang dimaksud asing itu. Apa misalnya terkait dominasi
investasi lebih menguntungkan kepentingan asing dari pada nasional,
sehingga kepentingan nasional dikesampingkan," kata Ubed.
Tanpa ada definisi dan konsep yang jelas pada istilah ini dari dua kubu
yang bersaing di Pilpres, publik menurut Ubed malah bisa berpersepsi
negatif.
Imbasnya, publik jengah, apatis dan bisa jadi meningkatkan angka
golongan putih atau golput.
"Diksi ini (asing) tidak perlu digunakan kecuali mampu didefinisikan
secara detil. Masalahnya keduanya kurang jelas mendefinisikan. Karena
tafsir liar, yang rugi ya mereka sendiri," kata Ubed.
Ia mengusulkan dua kubu lebih memilih diksi yang lebih subtantif
ketimbang istilah yang belum jelas maknanya. "Misalnya membahas ekonomi
lebih detail sehingga orang bisa paham," katanya.*(sah/sur)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com