Menanti Terang 'Tjahaja Purnama' Ahok di Sosok BTP


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Menanti Terang 'Tjahaja Purnama' Ahok di Sosok BTP

Perubahan nama Ahok menjadi BTP diharapkan menjadikan sosok mantan gubernur itu 
menggunakan kata-kata yang tak '...
 |

 |

 |



Suriyanto, CNN Indonesia | Jumat, 25/01/2019 14:20 WIBBagikan :    Perubahan 
nama Ahok menjadi BTP diharapkan menjadikan sosok mantan gubernur itu 
menggunakan kata-kata yang tak 'kasar' dan kontroversial. (Foto: CNN 
Indonesia/Andry Novelino)Jakarta, CNN Indonesia -- Jelang bebas, salah satu 
yang mengejutkan dari sosok Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok adalah dia tak 
ingin dipanggil dengan panggilan lamanya itu. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu 
lebih ingin dipanggil BTP, singkatan dari nama panjangnya.

Padahal nama Ahok seakan sudah menjadi 'merek' sekaligus nama besar. Nama ini 
dikenal dan terus moncer sejak 2012 saat diusung menjadi calon Wakil Gubernur 
DKI Jakarta mendampingi Joko Widodo. Sebelum 2012, publik yang mengenal Ahok 
tak seluas sekarang.

Selain itu, nama Ahok juga terkesan menjadi kata kunci sakti untuk pemberitaan 
media karena mantan Bupati Belitung Timur itu dikenal sebagai media darling. 
Pemberitaan soal Ahok baik sebelum dan selama ia dipenjara, terus menghiasi 
media massa.



| 
Lihat juga:
'Mimpi' Konsultan e-Budgeting dan Jasa Ahok pada Anggaran DKI |


Nama itu juga digunakan untuk menyebut nama pendukung dan orang yang 
menggemarinya, Ahoker.

Karena itu sebuah pertanyaan besar mengapa Ahok tak ingin lagi dipanggil dengan 
sebutan yang sudah melegenda itu dan memilih BTP.

Ahok pertama kali menyatakan ingin dipanggil BTP dalam suratnya yang diunggah 
di media sosial pada 12 Agustus 2018. Surat tersebut ditulis dalam rangka 
peluncuran buku karyanya berjudul Kebijakan Ahok. 

"Semoga Tuhan memberikan kita damai sejahtera dan keadilan. Salam BTP. Catatan, 
panggil saya BTP," kata Ahok dalam suratnya kala itu.

Permintaan penggantian nama panggilan itu, kembali disampaikan Ahok melalui 
sebuah surat yang ditulis Ahok dan diunggah oleh tim Basuki Tjahaja Purnama 
(BTP) melalui akun Instagram @basukibtp pada Kamis (17/1). 


| 
Lihat juga:
Jelang Dinikahi Ahok, Bripda Puput Mundur Diri dari Polri |


Surat itu sendiri berisi permohonan maaf Ahok atas segala tutur kata, sikap, 
dan perbuatan yang sengaja maupun tidak sengaja menyakiti hati warga. Dua 
lembar kertas bertulis tangan itu ditutup dengan permintaan agar publik 
memanggilnya BTP.

"Saya mohon maaf, dan saya keluar dari sini dengan harapan panggil saya BTP 
bukan Ahok,"tulis Ahok.

Tapi apalah arti sebuah nama, apalagi panggilan. 

Ahok bisa dipanggil apa saja. Selama dia nyaman dan yang memanggil tak 
mempermasalahkan, tentu sah-sah saja. Namun dalam tulisan ini, saya akan tetap 
menggunakan nama Ahok. Alasannya simpel, saya lebih nyaman atau mungkin lebih 
familiar dengan nama itu.

Sebagai orang biasa yang sama sekali tidak kenal Ahok secara personal, saya 
berharap dengan perubahan panggilan ini, ada perubahan pada sosok Ahok setelah 
ia tak lagi di penjara.


| Pendukung Ahok. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan) |



Semua tahu, sosok Ahok akrab dengan kontroversi. Terutama kontroversi yang 
berasal dari ucapannya. Bahkan vonis dua tahun kasus penodaan agama yang 
menjeratnya, buah dari mulutnya. Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Ahok 
mengutip Surat Almaidah ayat 51 soal kepemimpinan dalam Islam. 

Mulut Harimau

'Mulut harimau' Ahok itu yang kemudian memantik reaksi demo berjilid-jilid di 
Jakarta, termasuk Aksi 212 yang disebut dihadiri jutaan orang. 

Bukan soal perkara Al Maidah saja, Ahok juga pernah menyebut seorang ibu yang 
mengadu kepadanya dengan istilah 'maling' karena mencairkan Kartu Jakarta 
Pintar (KJP) secara tunai.

Mulut Ahok juga terus menuai kontroversi saat menyebut DPRD DKI Jakarta rampok. 
Anak buahnya di Pemprov DKI juga pernah jadi sasaran ucapan Ahok yang kasar. 
Saat itu ia menyebut pejabat DKI sebagai bajingan soal kasus jual beli unit 
rusun.


| 
Lihat juga:
Media Internasional Soroti Pembebasan Ahok |


Rekam jejak Ahok soal kesantunan kata-kata, bisa jadi, demikian buruk selama 
ini. 

Karena itu dengan berubahnya panggilan dari Ahok ke BTP, saya kira bakal ada 
perubahan perilaku terutama ucapan Ahok setelah keluar penjara.

Apalagi dengan statusnya sebagai media darling saat kata-kata dan perilakunya 
dianggap punya nilai berita.

Tegas bukan berarti harus kasar. Petuah ini pula yang diakui Ahok pernah 
diberikan Wakil Presiden Jusuf Kalla kepadanya. Masih banyak yang bisa 
dilakukan Ahok tanpa mengumbar kata-kata kasar yang bisa memicu kontroversi.


| 
Lihat juga:
Ma'ruf Amin Singgung Hak Ahok untuk Bebas dari Penjara |


Harus diakui, terlepas dari segala kontroversi dari mulutnya, banyak yang harus 
diapresiasi dari Ahok saat memimpin DKI Jakarta. Mulai soal transparansi hingga 
profesionalitas pelayanan publik.

Sangat disayangkan jika prestasi dan pencapaian pencapaian selama ini, harus 
pudar hanya karena Ahok yang tak juga bisa menjaga mulutnya. 

Semoga BTP benar-benar menjadi Ahok baru setelah keluar penjara. Dia dapat 
menjadi sosok yang lebih sejuk dan tak membuat kontroversi terus menerus, namun 
tak mengurangi ketegasannya. 

Dia, bukan tak mungkin, bakal menjadi 'Tjahaja Purnama' yang baru dan 
menerangi. (asa)

Kirim email ke