https://veronikacloset.wordpress.com/2014/02/19/prabowo-di-mata-sintong-panjaitan/
Prabowo di Mata Sintong Panjaitan
Ditulis pada 19 Februari 2014
<https://veronikacloset.wordpress.com/2014/02/19/prabowo-di-mata-sintong-panjaitan/>

*Pengantar*

*Prabowo adalah sosok kontroversial. Ratingnya  tinggi dalam jajak pendapat
tentang siapa presiden Indonesia periode mendatang. Bahkan tertinggi jauh
melewati pesaingnya, sebelum akhirnya Joko Widodo menyalib dengan sangat
telak. Sementara nama terakhir ini meski digadang-gadang oleh masyarakat,
sampai kini belum resmi dicalonkan oleh partinya. Tarik ulur berbagai
kepentingan dalam internal partainya bisa saja membuat Jokowi tak
dicapreskan. Lho, siapa tahu ? Maka tak dapat ditolak pasti Prabowo yang
akan menyodokkan kemenangan.*

*Padahal Prabowo mempunyai masa lalu yang belum tuntas dia selesaikan,
yaitu penculikan para aktivis pada tahun 1998. Sebenarnya sebelum kasus
tersebut, Prabowo sudah mempunyai benih-benih keanehan serupa. Modus
“penculikan” dan “kudeta” nyaris dia terapkan kepada atasannya ketika dia
masih seorang kapten. Dia gagal sebagai seorang desainer tetapi cukup
suskes untuk menghambat karir orang lain karena ia masih menantu Soehato
Yang Mahakuasa waktu itu.*

*Posting ini merupakan ringkasan buku **Sintong Panjaitan Perjalanan
Seorang Prajurit PARA KOMANDO.** Ini bukan ringkasan seluruh buku itu. Saya
hanya menukil bagian tertentu yang menceritakan hubungan Sintong Panjaitan
dan Prabowo.*

*Apakah lantas peristiwa dalam buku itu menjadi subjektif. Ya tentu, lha
memang ditulis dari sudut pandang Sintong, yang mengalami masa-masa kelabu
dalam relasi dengan Prabowo. Kalau ada yang tidak setuju ya buat saja buku.
Atau beri saya tautan dalam komentar Anda, sehingga orang lain mendapat
bacaan yang berimbang.*

*Saya cuma ingin menjawab rasa penasaran para pembaca blog saya. Setiap
kali saya membuka dashboard, pencairan dengan keyword Prabowo nangkring di
angka tertinggi. Macam-macamlah. Ada mencari kaitan Prawobo dengan Timor
Leste, Prabowo dengan penculikan aktivis, dlsb., sampai juga pencarian
kenapa Prabowo tetap menjomblo. Yang terakhir ini – EGP – emang gue
pikirin. Emang peran ibu negara penting apa ?*

*Saya positif thinking. Semakin banyak orang mencari tahu sosok Prabowo
semakin orang tahu latar belakangnya sebelum akhirnya mengambil keputusan.
Keputusannya bisa apapun: memilih atau tidak memilih. Yang penting tidak
memilih kucing dalam karung. Setiap keputusan orang harus tahu
konsekuensinya. Dan saya ingin bangsa ini, terutama generasi mudanya
semakin cerdas dan bernalar.*

*Karena tulisan saya akan agak panjang maka saya bagi dua. Bagian pertama
meringkaskan kisaran peristiwa pada Mei 1998 terutama relasi Prabowo dengan
Habibi dan Sintong serta modus penculikan dan kudeta yang digunakan Prabowo
di lingkungan ABRI. Bagian kedua nanti secara khusus saya ringkaskan
tentang penculikan aktivis pada Mei 1998. ***~~~*

[image: IMG_20140203_091140]
<https://veronikacloset.files.wordpress.com/2014/02/img_20140203_091140.jpg>

   - Judul Buku : *Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para
   Komando*
   - Penulis: Hendro Subroto dengan pengantar Prof. Taufik Abdullah
   - Penerbit : Kompas, Jakarta, April 2009
   - Tebal  : 552 hlm + xxx

*PRABOWO DALAM PUSARAN PENCULIKAN DAN KUDETA*

*1. Prabowo dan Badai Mei*

Mei 1998 adalah bulan yang seharusnya tak boleh hilang dari ingatan
Indonesia. Menjelang  dan setelah Soeharto terjungkal dari kekuasaan
dikatator militeristiknya, kekacauan besar terus melanda Jakarta. Empat
mahasiswa Trisakti ditembak pada 12 Mei. Dan sesudahnya eskalasi kekacauan
terus membesar. Di berbagai tempat terjadi penjarahan, pemerkosaan dan
pembakaran.  Sutiyoso, waktu itu Gubernur DKI, mengumumkan bahwa
sedikitnya  4.939 bangunan rusak dibakar dan 500 orang tewas. Kerugian
material dan immaterial yang sugguh tak terperi.

Situasi Jakarta  tak terkendali. Habibi sebagai wakil presiden tak berani
mengambil keputusan untuk mengambil alih kendali sementara Priseden dan
rombongannya sedang melawat ke Mesir. Pada saat genting itu hampir semua
jenderal  yang seharusnya bertanggung jawab mengamankan jakarta tak ada di
tempat. Sebagian besar mereka pergi ke Malang menghadiri serah terima
tanggung jawab Pasukan Pemukul Rekasi Cepat (PRRC) dari Divisi 1 kepada
Divisi II Kostrad. Aneh bahwa mereka semua tidak mengetahui bakal ada
keusuhan besar.

Pada 21 Mei Presiden Soeharto mundur dari kekuasaan dan menyerahkan kepada
B.J. Habibi. Sintong Panjaitan yang semula merupakan penasihat wapres
bidang hankam kemudian naik pangkat menjadi penasihat presiden bidang
hankam.

Keesokan harinya Kivlan Zein dan Muchhdi PR diminta oleh Parnglima Kostrad
Letjend Prabowo Subianto untuk menyampaikan surat yang ditandatangani oleh
Jenderal A.H. Nasution kepada presiden. Keduanya diterima oelh Sintong.
Surat itu berisi saran agar Subagyo HS diangkat menjadi Panglima ABRI dan,
Wiranto sebagai menteri Hankam dan Prabowo sebagai KSAD.

Ternyata kemudian dalam bukunya Kivlan Zein mnegakui bahwa Jenderal A.H.
Nasution hanya menadatangani saja. Surat ditulis tangan oleh Kiivlan Zein
sendiri karena Jenderal  Nasution sedang sakit. Jadi tanggal 22 Mei pagi
itu, Prabowo meminta Kivlan dan Muchdi PR untuk menemui Jenderal Nasution
dan membuat surat kepada presiden. Habibi diketahui sangat menghormati
Nasution.

Pagi itu pula. Wiranto melaporkan kepada presiden bahwa ada pergerakan
pasukan Kostrad dari luar Jakarta ke Jakarta di luar sepengatahuannya.
Konsentrasi pasukan juga ada di Patra Jasa, Kuningan, di sekitar kediaman
Habibi. Habibi menganggap Wiranto jujur. Maka ia memerintahkan jabatan
panglima Kostrad yang dipegang Prabowo harus diserahterimakan pada hari itu
juga. Padahal Prabowo baru memegang jabatannya itu selama 63 hari.

Mengetahui dirinya diganti, Prabowo mendatangi istana pada pukul 15.00
dengan membawa 12 pengawal. Setelah menanyakan keberadaan presiden, Prabowo
langsung menuju lantai dasar seterusnya naik lift ke lantai 4. Ia masih
bersenjata lengkap. Tak seorang pun petugas menahannya. Mestinya semua
orang yang akan bertemu presiden disterilkan dulu di lantai dasar. Sintong
kemudian meminta seorang pengawal presiden untuk mendekati Prabowo dan
memintanya menanggalkan senjatanya. Untungnya Prabowo bersedia. Ia membuka
kopel tempat menambatkan pistol, magasin peluru, pisau rimba dan peralatan
lain.

 Prabowo diterima oleh Habibi. Saat ini ia minta kepada presiden untuk
dihubungkan dengan Panglima ABRI. Saat itu seorang ajudan segera akan
menghubungi Wiranto, tetapi Sintong beranggapan hal ini tidak etis. Maka ia
melarang ajudan melakukannya.

Kedatangan Prabowo ke istana pada kukul 15.00 itu aneh, sebab mestinya ia
harus melakukan serah terima jabatan. Kata Sintong kepada KSAD, Jenderal
Subagyo HS, “Kalau KSAD tidak melakukan penggantian Prabowo sesuai
perintah, maka kalian jadi satu paket.” Maksudnya KSAD juga akan diganti.
Maka, saat itu juga KSAD mencari Prabowo. Sore itu dengan sikap hormat
Prabowo menghadap KSAD dengan sikap hormat meski tetap dengan senjata di
pinggangnya.

Tidak lama kemudian, Prof. Soemitro Djojohadikusumo, ayah Prabowo, minta
mengahadap presiden. Atas saran Sintong, sebaiknya presiden menolak bertemu
langsung dan berbicara hanya lewat telepon saja. Presiden menerima saran
itu. Apa isi pembicaraan mereka berdua, pasti orang banyak akan paham.

Sehubungan dengan penggantian Prabowo ini, Sintong Panjaitan menolak tegas
tuduhan bahwa ia adalah otak di belakangnya. Ia mengatakan bahwa ia hanya
mendukung segala sesuatu yang diputuskan oleh presiden sesuai kapasitasnya
sebagai penasihat bidang hankam.

*2. Prabowo dan kudeta L.B. Murdani*

Kalau Prabowo terlibat dalam kasus penculikan aktivis pada 1998, sebenarnya
benih karakter tersebut sudah tumbuh jauh sebelum masa itu. Tahun 1983
Luhut Panjaitan, waktu itu berpangkat mayor dan Prabowo, kapten waktu itu,
merupakan dua orang yang menduduki jabatan komandan dan wakil komandan
Detasemen 81/ Antiteror. Satuan elit ini selalu mendapat pasokan informasi
intelijen oleh staf Intelijen Hankam.  Karena kedua badan ini saling erat
terkait, maka Luhut hampir mengetahui semua gerak-gerik L.B. Murdani
sebagai Asintel Hankam.

Pada bulan Maret 1983, menjelang SU MPRR, Luhut dikejutkan oleh laporan
anak buahnya bahwa Den 81/Antiteror sedang dalam status siaga atas perintah
Kapten Prabowo Subianto. Mereka berencana untuk “mengambil” jenderal L.B.
Murdani dan beberapa nama lagi termasuk : Letjen Sudharmono, Marsdya
Ginanjar Kartasasmita, dan Letjen Mordiono. Kepala Kasi2/Ops bahkan
menerangkan bahwa mereka telah membuat rencana untuk mengamankan Presiden
Soeharto ke markas Den81/Antiteror di Cijantung.

Luhut merasa aneh, bahwa ada permasalahan besar seperti itu, tetapi ia
sebagai komandan tidak tahu apa-apa. Ia memerintahkan anak buahnya kembali
“siaga ke dalam”. Senjata dan radio para anggota dikumpulkan di dalam kemar
kerjanya. Ia tidur di kantor malam. Itu.

Prabowo ia panggil. Kepadanya Prabowo menjelaskan bahwa L.B. Murdani akan
melakukan kudeta. Seluruh ruangan Den 81/Antiteror telah disadap. Bahkan
L.B. Murdani telah memasukkan senjata ke Indonesia. Tentu saja Luhut tidak
percaya. Tapi ia ingat betul satu kalimat Prabowo saat itu, “ Bang, nasib
negara ini ditentukan oleh seorang kapten dan seorang mayor .”

Luhut melaporakan masalah “kudeta” kepada Sintong Panjaitan, Komandan Grup
3/ Sandiyudha. Oleh Sintong, Luhut disarankan untuk melapor kepada Brigjen
Jasmin, Danjen Kopassandha. Berdua, Sintong dan Prabowo menhadap Pak
Jasmin. Pak Jasmin tidak percaya laporan Prabowo, sehingga Prabowo
marah-marah. Kemudian sekali lagi Pak Jasmin memanggil Luhut masuk ke
ruangannya, sendirian tidak bersama Prabowo. “Ada apa dengan Prabowo ?
Tampaknya ia stress berat. Tahan pasukanmu. Jangan ada yang bergerak !”
demikian Brigjen Jasmin.

Susudah kembali ke markas di Cijantung, Luhut menegur Prabowo dan
menekankan kedudukan dirinya sebagai komandan dan Prabowo sebagai wakil
komandan. Ia menghadap Prof. Sumitro, ayah Prabowo,  untuk memberi tahu
bahwa Prabowo diberi cuti dua minggu. Alasannya  Prabowo stress karena
terjadi situasi di Cijantung yang “kurang pas”. Prof. Sumitro bisa memahami.

Sintong mengetahui peristiwa ini lebih detil ketika beberapa waktu
sesudahnya bertemu Brigjen Jasmin di Kariango, Makasar. Brigjen Jasmin
bercerita bahwa Prabowo mengatakan kepadanya bahwa L.B. Murdani akan
melakukan kudeta. Karena itu Prabowo akan melakukan gerakan pasukan untuk
menangkap L.B. Murdani dan beberapa perwira lainnya.

Karena Brigjen Jasmin tidak percaya, Prabowo menuduh Brigjen Jasmin tidak
setia kepada negara dan bangsa. Itu dikatakan sambil menuding-nudingkan
telunjuknya ke wajah Brigjen Jasmin. “Bahkan Luhut yang menurunkan tangan
Prabowo, “ tambah Brigjen Jasmin. Lebih parah lagi Prabowo mengintai rumah
Brigjen Jasmin sampai melompati pagar rumahnya.

Kebenaran cerita Brigjen Jasmin ini dibenarkan oleh Marsdya Teddy Rusdi,
pejabat Assiten Perencanaan Umum Panglima Tinggi ABRI. Teddy Rusdi telah
mendampingi L.B. Murdani selama 20 tahun sejak lulus dari Seskoal. Teddy
mengatakan rumahnya juga diintai oleh Prabowo sebab Prabowo menyangka di
rumah Teddy sedang dilakukan persiapan kudeta oleh L.B. Murdani.

Kata Sintong dalam bukunya, adalah benar bahwa L.B. Murdani memasukkan
senjata ke Indonesia tetapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan
kudeta. Senjata itu antara lain buatan Israel dan Perancis yang dibeli dari
 Taiwan untuk dijual kepada Pakistan dan nantinya akan disalurkan untuk
pejuang Mujahidin di Afganistan. Operasi intelijen oleh L.B. Murdani
digunakan untuk mencari dana dan peran Indonesia bagi perjuangan di Asia.

Menurut Sintong Panjaitan, tuduhan kudeta ini sama sekali tidak berdasar.
Tuduhan dilontarkan oleh seorang kapten yang “sakit” dan tidak punya
perangkat untuk menyelidiki kebenaran. Mestinya terhadap Prabowo diambil
tindakan. Namun kenyataannya ABRI tidak berani mengambil tindakan karena
segan terhadap Soeharto yang mungkin saja akan membela menantunya.

Tentu saja segala peristiwa yang menyangkut dirinya itu diketahui oleh L.B.
Murdani sendiri, meski peristiwa itu tidak diperpanjang. Tetapi peristiwa
itu merupakan titik awal di mana hubungan L.B. Murdani dan Prabowo tidak
pernah lagi menjadi baik. Bahkan beberapa saat kemudian hubungan Luhut
Panjaitan dan Prabowo juga ikut memburuk terutama karena kasus pembangunan
jaringan intelijen di Den 81 / Antiteror. Luhut juga dilaporkan kepada
Suharto:  sekali lagi ….. akan melakukan kudeta kepada Soeharto!

Perkembangan selanjutnya di lingkungan ABRI dikenal adanya “debennysasi”,
orang-orang yang dekat dengan L.B. Murdani dibersihkan dari peran-peran
strategis. Luhut yang mencapai pangkat jenderal bintang tiga pun tidak
pernah menduduki jabatan pangdam bahkan kasdam pun tidak pernah.

Sintong Panjaitan juga merasakan hal yang serupa. Ia mencermati dan
menyimpulkan bahwa pada waktu itu setidaknya ada tiga kelompok dalam ABRI.
Pertama adalah kelompok yang dekat dengan Soeharto, kedua adalah kelompok
yang biasa saja dan ketiga adalah kelompok yang dekat dengan L.B. Murdani.
Yang terakhir ini adalah kelompok yang kurang dipercaya oleh Soeharto.
Apabila kelompok pertama membuat kesalahan mereka selalu dilindungi, kalau
kelompok kedua fifty-fifty, kalau kelompok ketiga tiada maaf bagimu.
Sintong sendiri menilai kedekatan dirinya dengan semua atasannya termasuk
L.B. Murdani sebagai sikap  prajurit yang profesional. Ia juga dekat dengan
Try Sutrisno, Edy Sudrajat dll.

*3. Prabowo dan Penculikan Aktivis 1998 —– dilanjut…….*

[image: IMG_20140203_091211]
<https://veronikacloset.files.wordpress.com/2014/02/img_20140203_091211.jpg>Link
terkait :

http://www-cgi.cnn.com/ASIANOW/asiaweek/98/0724/cs1.html

http://www-cgi.cnn.com/ASIANOW/asiaweek/magazine/2000/0303/cover1.html

http://en.wikipedia.org/wiki/May_1998_riots_of_Indonesia

Kirim email ke