https://tirto.id/victor-jara-sosok-di-balik-mars-gerindra-yang-dibunuh-tentara-dgGN
Victor Jara, Sosok di Balik Mars
Gerindra yang Dibunuh Tentara
Victor Jara. FOTO/chiletoday.cl
<https://tirto.id/victor-jara-sosok-di-balik-mars-gerindra-yang-dibunuh-tentara-dgGN>
Victor Jara. FOTO/chiletoday.cl
Oleh: Faisal Irfani - 12 Februari 2019
Dibaca Normal 4 menit
/Lagu kaum kiri Cile "Venceremos" disadur ke dalam berbagai bahasa. Di
Indonesia jadi mars partai kanan./
tirto.id <https://tirto.id/> - Isu komunis kembali digulirkan salah satu
pendukung kubu menjelang masa pencoblosan Pilpres 2019. Kali ini, yang
memainkan ialah dari pendukung petahana. Minggu (10/2) akun bernama
@D4Ni3L_Pu, yang diikuti 7.209 pengguna Twitter, mengunggah cuitan yang
menyamakan mars Partai Gerindra, “Pandu Bangsa”, dengan lagu Partai
Komunis Cile, “Venceremos.”
“/Selama ini pendukung Prabowo sering menyerang Jokowi dengan isu
komunis. Tapi, kok, mars partai milik Prabowo yang justru ada kemiripan
dengan mars [partai] komunis Chile? Hayo sopo sekarang yang ada bau-bau
komunis?/” demikian tweet tersebut berbunyi.
Baca juga: "Isu Komunis Dimainkan dalam Persaingan Oligarki"
<https://tirto.id/isu-komunis-dimainkan-dalam-persaingan-oligarki-cy47>
Unggahan itu, yang turut menyertakan video kolase, ditonton sekitar 17
ribu orang, di-retweet sebanyak 653 kali, serta mendulang 933 likes.
Tanggapan pengguna lain rata-rata “mendukung” unggahan @D4NieL_Pu. Akun
@anjares90, misalnya, mengatakan: “/Mereka menutupi kekurangan mereka
dengan jatuhin dan fitnah orang lain. Dengan sebar isu padahal fakta
sejarah siapa mereka nyata adanya/.”
Lagu ini sering diputar atau dinyanyikan dalam acara-acara Gerindra.
Salah satunya, saat Prabowo datang ke Ballroom Hotel Apita
<http://jabar.tribunnews.com/2018/03/28/mars-pandu-bangsa-menggema-saat-prabowo-tiba-di-ballroom-hotel-apita-kabupaten-cirebon>,
Cirebon, pada 28 Maret 2018. Kala itu, mars ini dinyanyikan begitu
Prabowo datang. Mars ini juga dinyanyikan kader dan pengurus Gerindra
saat perayaan ulang tahun Gerindra ke-11
<https://news.detik.com/berita/4416232/momen-prabowo-rayakan-hut-ke-11-gerindra-di-hambalang>
pada 5 Februari 2019 di Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Dalam sebuah
unggahan di twitter
<https://twitter.com/putrabanten80/status/1093049843151302658>, Prabowo
bahkan tampak memimpin kader menyanyikan mars yang biramanya mirip
dengan mars “Venceremos” itu.
Dibikin untuk Kampanye
Lagu “Venceremos” yang mirip dengan mars Gerindra itu diciptakan oleh
Sergio Ortega
<https://www.theguardian.com/news/2003/oct/01/guardianobituaries.chile>,
komposer kelahiran Antofagasta, Cile. Ortega dikenal sebagai salah satu
tokoh penggerak /Nueva Cancion/ (“Lagu Baru”), sebuah gerakan seni yang
melahirkan lagu-lagu populer bermuatan politis di era pemerintahan
sosialis Salvador Allende pada 1970-an.
Perjalanan karier Ortega terbilang lengkap, dari menggarap musik opera
hingga bekerjasama dengan penyair Pablo Neruda.
<https://www.theguardian.com/news/2003/oct/01/guardianobituaries.chile>
Tapi, puncak kariernya terjadi kala ia menulis balada agitasi dan
propaganda (agitprop) bertajuk “Venceremos” (“Kami Akan Menang”). Lagu
ini dipakai untuk kepentingan kampanye sosialis Allende saat mengikuti
pemilu 1970, melawan Radoromic Toric.
Menariknya, walaupun dibikin Ortega, “Venceremos” justru populer saat
dibawakan penyanyi folk Victor Jara, yang di mata masyarakat Cile sudah
seperti Bob Dylan di AS atau Iwan Fals di Indonesia era Orde Baru.
Jara tumbuh di keluarga yang miskin. Ayahnya petani, sedangkan ibunya
penyanyi folk yang berpenghasilan pas-pasan. Saat usianya 15 tahun, Jara
berhenti sekolah guna menempuh pendidikan kependetaan, yang kemudian
juga tidak tamat karena ia keburu bergabung dengan militer.
Tak lama usai diberhentikan secara terhormat dari dinas militer, Jara
mengambil studi teater di Universitas Cile dan sempat bekerja sebagai
sutradara selepas lulus. Pada masa-masa inilah, pada 1957, Jara mulai
tertarik dengan musik folk. Pemicunya: pertemuan dengan Violeta Parra,
pelopor /Nueva Cancion/.
Perjumpaan tersebut membikin Jara yakin untuk menyelami musik folk. Ia
lantas mulai menciptakan lagu dan menyanyikannya di ruang-ruang publik.
Sejak awal, lagu-lagu buatan Jara menyinggung soal permasalahan kelas
pekerja, keadilan sosial, hingga demokrasi. Ini tak mengagetkan sebab
Jara bergaul dengan banyak seniman dan aktivis. Ditambah lagi, ia juga
terdaftar sebagai anggota Partai Komunis Cile.
Baca juga: Adakah Masa Depan Partai Komunis?
<https://tirto.id/adakah-masa-depan-partai-komunis-cxq5>
Pada 1966, Jara merilis album debut. Album ini ditanggapi secara positif
oleh khalayak ramai. Semenjak debut tersebut, Jara rutin melahirkan
nomor-nomor bernas, dari “Pongo en tus manos abiertas”, “El derecho de
vivir en paz”, sampai “La población”. Seketika, Jara pun terkenal.
Karyanya menginspirasi kolega-kolega sesama musisi folk dari Abang Sam
macam Joan Baez, Pete Seeger, maupun Phil Ochs.
Popularitas Jara menuntun pada keterlibatannya dalam kampanye Allende
pada Pilpres Cile 1970. “Venceremos” yang diciptakan Ortega senantiasa
dinyanyikannya selama kampanye. Lagu ini kemudian populer sebagai salah
satu lagu khas kelompok kiri di Cile.
Dibunuh Militer Pasca-Kudeta
Solidnya kelompok kiri saat pilpres Cile 1970-an membuat AS ketar-ketir.
Mereka tak ingin Allende terpilih sebagai presiden. Dalam konteks Perang
Dingin, sosialisme Allende dipropagandakan AS dan sekutu-sekutunya
sebagai ancaman terhadap kepentingan Blok Barat di Cile, sebagaimana
Castro di Kuba.
Namun, mimpi buruk Washington menjadi kenyataan: Allende menang pemilu.
Kemenangannya dibaca sebagai kemenangan rakyat pekerja, petani kecil,
dan masyarakat adat di Cile.
Bersama barisan partai pendukungnya dari Partai Sosialis, Partai
Komunis, Partai Sosial Demokrat, hingga Kristen Kiri yang tergabung
dalam koalisi Unidad Popular,
<http://international.ucla.edu/lai/article/135568#.XGHHAjMzbIV> Allende
mendeklarasikan “La via chilena al socialismo” atau sosialisme Cile.
Fokus
<https://www.jacobinmag.com/2016/09/chile-coup-santiago-allende-social-democracy-september-11-2>
kebijakannya antara lain nasionalisasi industri berskala besar,
penyediaan layanan kesehatan, jaminan pendidikan, penyediaan susu gratis
untuk anak-anak, serta redistribusi kepemilikan lahan untuk para petani
penggarap.
Perlahan, kebijakan yang diusung Allende mulai membuahkan hasil. Ekonomi
tumbuh, inflasi dan pengangguran berkurang, angka konsumsi masyarakat
naik, di samping pendapatan pekerja naik secara signifikan dan kebutuhan
barang pokok sampai ke kalangan masyakarat bawah. Kebijakan sosialis
Allende disambut baik oleh sebagian besar penduduk Cile.
Pemerintahan Allende pun turut gencar menyasar nasionalisasi
bisnis-bisnis asing yang menguasai pertambangan Cile. Mendengar kabar
itu, Presiden AS Richard Nixon, bereaksi keras. Strategi pembalasan
diluncurkan: menurunkan harga tembaga dunia dan memberlakukan embargo
ekonomi terhadap Cile.
Ekonomi Cile yang sangat bergantung pada ekspor tembaga dibuat tak
berdaya oleh strategi AS. Harga tembaga dunia yang menyentuh titik
terendah pada 1971 membuat neraca keuangan Cile porak-poranda. Kondisi
ini diperparah dihentikannya bantuan ekonomi dari Bank Dunia dan
organisasi ekonomi internasional lainnya. Investasi asing pun mandeg
lantaran embargo yang dijatuhkan AS. Hasilnya, ekonomi Cile sempoyongan.
Kondisi tersebut mempengaruhi situasi politik dalam negeri. Pemerintahan
Allende menghadapi perlawanan dari sebagian kelas menengah yang tidak
merasa diuntungkan oleh nasionalisasi industri. Tuan tanah menghalangi
reforma agraria, bos-bos pabrik menghentikan aktivitas produksi, dan
sebagian buruh transportasi mogok.
Baca juga: Benarkah Amerika Latin Bergerak ke Kanan?
<https://tirto.id/benarkah-amerika-latin-bergerak-ke-kanan-cw3A>
Infografik Victor Jara & Militer Cile
Pada 11 September 1973, militer Cile, dibantu CIA, mengambil keputusan
penting dengan meluncurkan aksi kudeta
<http://news.bbc.co.uk/onthisday/hi/dates/stories/september/11/newsid_3199000/3199155.stm>
untuk menggulingkan Allende. Barisan pasukan dan deretan tank mengepung
istana La Moneda. Tepat sebelum siang hari, serangan udara diluncurkan
ke arah La Moneda. Para serdadu masuk ke dalam dan menggeledah setiap
ruangan. Allende ditemukan tewas dengan senapan otomatis di tangan.
Jenderal Augusto Pinochet, yang menjadi pimpinan kudeta, lantas naik
jabatan sebagai presiden dengan sokongan AS. Hampir sebagian besar
kabinetnya diisi oleh perwira militer. Setelahnya, ia memburu
orang-orang yang berafiliasi dengan Unidad Popular. Mereka yang
jumlahnya ribuan itu dibawa ke Stadion Utama Santiago untuk
diinterogasi. Beberapa langsung dieksekusi di tempat.
Termasuk Victor Jara, yang ditangkap serdadu Pinochet di Universitas
Teknik Negeri Cile. Sebagai ikon politik kiri di Cile yang dekat dengan
Allende, Jara otomatis jadi bulan-bulanan aparat.
“Ia harus tinggal di kampus malam itu. Tapi, ia bilang akan pulang
ketika jam malam sudah dicabut. Dan, yah, kata-kata terakhirnya adalah
betapa dirinya mencintaiku,” ujar sang istri, Joan Turner, seperti
ditulis Andrew Tyler dalam “The Life of Death of Victor Jara”
<https://www.theguardian.com/music/2013/sep/18/victor-jara-pinochet-chile-rocks-backpages>
yang dipublikasikan /The Guardian/.
Sayang, Jara tak pernah pulang. Para serdadu Pinochet menangkap serta
menyeretnya ke stadion bersama para tahanan yang lain. Di sana, Jara
berkali-kali dipukul dan jarinya dihancurkan agar tak bisa bermain gitar
lagi. Tapi, Jara tetap melawan. Saat aparat mengejek kondisi tubuhnya
yang sudah tak karuan, Jara dengan lantang menyanyikan “Venceremos.” Tak
terima, para serdadu kemudian menghujaninya dengan timah panas hingga
tewas.
Usai kematiannya, Jara dibaptis jadi simbol perlawanan terhadap rezim
militer Cile. Untuk menghormati perjuangannya, nama Jara dipakai sebagai
nama stadion
<http://www.monumentos.cl/monumentos/monumentos-historicos/estadio-victor-jara-estadio-chile>
di mana ia dihabisi secara brutal oleh para serdadu.
Pasca-kudeta 1973, banyak seniman dan musisi pendukung Allende yang
mengungsi ke luar negeri. Lagu-lagu mereka pun tersebar dan dimainkan
oleh musisi kiri di belahan dunia lainnya dalam berbagai bahasa. Selain
"Venceremos", lagu era Allende lain yang populer adalah "El Pueblo
Unido" ("Rakyat Bersatu") ciptaan grup Quilapayún.
Saduran "Venceremos" dalam Bahasa Finlandia, Italia, Portugis, Cina,
Turki mempertahankan judul aslinya. Di tempat lain, "Venceremos" dikenal
sebagai "Wir Werden Siegen" (Jerman), "Vi ska segra" (Swedia),
"Венсеремос" (Rusia), "Győz a Népünk" (Hungaria), dan banyak lagi.
Jika "Venceremos" diusung sebagai lagu kebanggaan kaum kiri di seluruh
dunia, tak demikian di Indonesia. Penyaduran "Venceremos" oleh Gerindra
menjadi "Pandu Bangsa" adalah sebuah ironi. Partai sayap kanan ini
didirikan dan diketuai oleh Prabowo Subianto yang terlibat dalam
pembentukan Tim Mawar yang menculik para aktivis—orang-orang yang
senasib dengan Victor Jara.
Ironi yang lebih pahit lagi, bekas mertua sang ketua partai pun adalah
salah satu aktor kunci di balik penggulingan Sukarno pada 1965-66,
sebuah kudeta yang ditiru oleh Pinochet di Cile pada 1973. Kudeta
Pinochet—yang diikuti oleh operasi pembantaian para simpatisan
Allende—kelak masyhur dengan sebutan "Operasi Jakarta".
==========
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon mengatakan lagu yang
dipersoalkan bukanlah Mars Gerindra, melainkan Mars Pandu Bangsa. Mars
Pandu Bangsa ini, kata Fadli, memang kerap dinyanyikan bersama Mars
Partai Gerindra dalam acara formal kepartaian.
“Itu cuma lagu biasa saja. Yang ini lagu dinyanyiin ini bukan Mars
Gerindra,” kata Fadli di sela-sela acara diskusi di Seknas
Prabowo-Sandi, Jalan HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa
(12/2/2019).
“Kalau pun yang mirip itu lagu sosialis, ada yang bikin liriknya diganti
itu lagu internasional kok, karena lagunya enak aja, memberi semangat.
Tapi itu bukan Mars Gerindra,” tambah Fadli.
Pernyataan lengkap Fadli Zon soal lagu ini bisa dibaca di: *"Bukan Mars
Gerindra, Tapi Mars Pandu Bangsa yang Pakai "Venceremos
<https://tirto.id/bukan-mars-gerindra-tapi-mars-pandu-bangsa-yang-pakai-venceremos-dgJT>"*.
Baca juga artikel terkait KUDETA
<https://tirto.id/q/kudeta-dHt?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
<https://tirto.id/author/faisalrezairfan?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
(tirto.id - Politik)
Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf