Soal Sandiwara Sandiaga, Subkhan: Demi Allah itu Bukan Rekayasa
Reporter:
Muhammad Irsyam Faiz (Kontributor)
Editor:
Syailendra Persada
Rabu, 13 Februari 2019 13:40 WIB
Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (tengah) berziarah ke makam Tegal
Arum KSN. Hamangkurat Agung di Desa Pesarean, Kabupaten Tegal, Jawa
Tengah, Senin, 11 Februari 2019. ANTARA Cawapres nomor urut 02 Sandiaga
Uno (tengah) berziarah ke makam Tegal Arum KSN. Hamangkurat Agung di
Desa Pesarean, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin, 11 Februari 2019. ANTARA
*TEMPO.CO*,*Brebes *- Muhammad Subkhan, seorang petani asal Desa
Tegalglagah, Kecamatan, Bulakamba, Brebes membantah dirinya bersandiwara
saat berdialog dengan Calon Wakil PresidenSandiaga
<https://www.tempo.co/tag/sandiaga>Uno, Senin, 11 Februari 2019. Saat
itu, di hadapan Sandi, Subkhan sempat menangis menceritakan kondisi
petani bawang merah di Brebes.
Baca: Ketua PA 212 Tersangka, Sandiaga: Hukum Tebang Pilih
<https://pilpres.tempo.co/read/1175218/ketua-pa-212-tersangka-sandiaga-hukum-tebang-pilih>
Subkhan tak terima aksinya kemarin dianggap sebagai//rekayasa. Dia pun
menceritakan kronologi kejadiannya. “Demi Allah itu tidak rekayasa. Saya
tahu Pak Sandi datang ke Brebes itu dua jam sebelum acara. Saya sempat
telepon Kasat Intel Polres Brebes untuk memastikan. Saat itu saya sedang
kerja bakti mengecat musala,” kata Subkhan kepada /Tempo/, Rabu, 13
Februari 2019.
Setelah mendapat kepastian, dia berangkat dari rumahnya pukul 09.00 WIB.
Awalnya Subkhan menerima informasi acara Sandi digelar di Stadion
Karangbirahi Brebes. Tapi saat itu sudah geser ke sebuah lapangan di
Desa Krasak, Brebes yang tak jauh dari stadion.
Sesampainya di Desa Krasak, dia mendekat ke panggung. Posisinya di
belakang. Saat itu dia sempat mendengarkan Sandiaga berorasi di depan
audiens yang kebanyakan berprofesi sebagai petani.
Giliran sesi tanya jawab, dia mencoba naik panggung. Tapi sempat tak
diperbolehkan panitia. “Saya mau maju enggak boleh sama pembawa
acaranya. Karena melihat penampilan saya seperti bukan petani. Tapi
waktu itu Pak Sandi melihat saya dan mempersilakan untuk maju,” kata dia.
Sampai di panggung itu, terjadilah percakapan antara Subkhan dan Sandi
yang videonya sudah tersebar di media sosial dan viral.
Banyak yang menuding aksinya itu hanyalah rekayasa. Sebab, dia selama
ini juga dikenal sebagai Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU)
Kabupaten Brebes. Faktanya, dia memang pernah menjabat sebagai Ketua
Divisi Sosialisasi KPU setempat. Subkhan membenarkan kalau dia pernah
menduduki posisi penting di KPU Brebes. Tapi dia menampik tudingan bahwa
dia bukanlah petani.
“Saya memang pernah menjabat sebagai anggota KPU satu periode
(2014-2018). Tapi apakah saya tidak boleh bertani. Sebelum di KPU Saya
sudah lama jadi petani. Saya keluarga petani,” ungkap dia.
Untuk meyakinkan publik bahwa dia petani, Subkhan menyatakan saat ini
masih menjadi ketua kelompok Tani Sumber Pangan Desa Tegalglagah,
Kecamatan Bulakamba. “Akta notarisnya masih ada atas nama saya,” katanya.
Dia juga sedang menggarap lahan pertanian sewa milik orang tuanya di
Desa Tegalglagah seluas 4 bahu. Selain itu, dia menyewa tanah bengkok
seluas seperempat hektare untuk ditanami bawang merah di desa yang sama.
“Jadi saya itu jelas-jelas petani.”
ADVERTISEMENT
Di berbagai kesempatan, Subkhan memang dikenal vokal. Terutama soal
nasib petani. Bahkan, saat masih menjabat sebagai komisioner KPU, dia
pernah ikut demo bersama ratusan petani di depan Kantor Pemkab Brebes.
Saat itu harga bawang merah jeblok hingga menyentuh angka Rp 4.000 per
kilogram.
Menurut dia, harga bawang merah turun drastis gara-gara kebijakan
pemerintah yang membuka 10 kawasan budi daya bawang merah di sejumlah
daerah. “Stok bawang surplus karena panen di mana-mana," ujar Subhan.
Simak juga: Tagar Anak Mami karena Dibela Mien Uno, Sandiaga: Masa Anak
Tante
<https://pilpres.tempo.co/read/1175178/tagar-anak-mami-karena-dibela-mien-uno-sandiaga-masa-anak-tante>
Persoalan lain, kata dia, adalah nilai produksi yang cukup tinggi.
Menurutnya, untuk menanam bawang merah satu petak sawah atau sekitar
2.000 meter persegi, petani harus mengeluarkan dana sekitar Rp 8 juta.
“Satu petak itu menghasilkan 6 kuintal bawang. Kalau dijual Rp 13 ribu
saja, maka petani Cuma dapat Rp 7,8 juta. Rugi kan?” kata Subkhan.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com