https://tirto.id/sumitro-pernah-bela-prabowo-seperti-mien-uno-bela-sandiaga-dgNS
Sumitro Pernah Bela Prabowo, Seperti
Mien Uno Bela Sandiaga
Sumitro Djojohadikusumo. FOTO/Istimewa
<https://tirto.id/sumitro-pernah-bela-prabowo-seperti-mien-uno-bela-sandiaga-dgNS>
Sumitro Djojohadikusumo. FOTO/Istimewa
Oleh: Petrik Matanasi - 13 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
/Bagi Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo adalah Papi yang peduli pada
anaknya, terutama di saat terpuruk./
tirto.id <https://tirto.id/> - Membela diri adalah hak semua orang.
Membela anak tentu saja hak bapak dan ibunya.
Rachmini Rachman alias Mien Uno, ibu cawapres Sandiaga Uno, menyampaikan
sakit hati sekaligus pembelaan terhadap banyaknya tagar yang menyindir
anaknya bersandiwara.
Di Media Center BPN Prabowo-Sandiaga pada Senin (11/2/2019), Mien
menantang
<https://tirto.id/sandiwara-uno-bikin-marah-mien-uno-tkn-tirulah-keluarga-jokowi-dgKK>
penuduh Sandiaga minta maaf. Dia bahkan menantang orang yang mengatakan
anaknya bersandiwara berhadapan langsung dengan dirinya. Ia tidak terima
karena merasa telah mendidik sang anak dengan baik.
"Saya ingin berhadapan dengan orang itu untuk mengatakan bahwa apa yang
dilakukan adalah sesuatu yang memang benar terjadi. Jadi sekarang, kalau
ada orang yang mengatakan itu Sandiwara Uno, dia harus minta maaf kepada
ibunya yang melahirkan dan mendidik Mas Sandi dengan segenap tenaga
untuk menjadi orang yang baik. Siapa yang mau berhadapan dengan saya
sebagai ibunya?" tantang Mien seperti dikutip /Detik/
<https://news.detik.com/berita/4423968/mien-uno-tantang-orang-yang-sebut-sandiwara-uno-minta-maaf>.
Istri Razif Halik Uno itu melanjutkan, "[...] banyak yang mengatakan Mas
Sandi itu kok sabar amat, ya? Dikata-katainsama orang dia cuma senyum.
Nah, itu ada aturannya sebetulnya, yaitu landasannya adalah etika. Etika
adalah aturan emas. Landasannya adalah moral."
Dua puluh tahun sebelum Mien membela Sandiaga, Sumitro Djojohadikusumo
pernah melakukan hal serupa.
Kala itu anak Sumitro, Prabowo Subianto, yang biasa memanggilnya "Papi",
tengah terpuruk setelah Soeharto lengser. Sebagai bapak yang tentu saja
tahu lebih banyak soal Prabowo dari siapapun, Sumitro turun membela.
Bedanya, Sumitro melakukan pembelaan lewat buku biografi, bukan
konferensi pers.
"Saya bangga Prabowo tabah"
Pada Maret 1998, ketika Prabowo masih berstatus suami daripada putri
Soeharto, dia diangkat menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis
Angkatan Darat (Kostrad) dengan pangkat letnan jenderal. Usianya saat
itu baru 46. Karier Prabowo memang melesat cepat.
Pada awal 1995 dia masih kolonel. Setahun kemudian dia sudah brigadir
jenderal dengan jabatan cukup penting: Komandan Jenderal Komando Pasukan
Khusus (Danjen Kopassus). Setelahnya, di masa menjabat Danjen Kopassus,
dia naik pangkat lagi jadi mayor jenderal. Sampai akhirnya jadi letnan
jenderal. Tak sampai lima tahun, dari brigadir jenderal dia sudah
berhasil jadi letnan jenderal.
Prabowo dalam hal ini mirip Andika Perkasa, menantu Jenderal A.M.
Hendropriyono. Sudah pasti orang macam Andika dan Prabowo jadi buah
bibir di Indonesia.
“Kenaikan pangkat yang cepat dari anak saya itu sudah jelas mengundang
ketidaksenangan bagi beberapa orang,” kata Sumitro dalam biografinya,
/Sumitro Djojohadikusumo: Jejak Perlawanan Begawan Pejuang/ (2000: 428),
yang disusun Aristides Katoppo dan kawan-kawan.
Bagi laki-laki yang pernah tidak diterima ikut Brigade Internasional
dalam Perang Saudara Spanyol ini, "kecemburuan adalah sifat umum manusia
di mana pun."
Salah satu pencemburu itu, menurut Sumitro, adalah Panglima ABRI
Jenderal Wiranto (hlm. 429).
Baca juga: Wiranto vs Prabowo: Awal Persaingan Mantan Ajudan & Bekas
Menantu
<https://tirto.id/wiranto-vs-prabowo-awal-persaingan-mantan-ajudan-bekas-menantu-cPYB>
Menjelang hari mundurnya Soeharto, Sumitro menyebut bahwa Wiranto pernah
melaporkan kepada presiden soal pergerakan pasukan yang dilakukan
Prabowo. Atas laporan itu Soeharto bilang, “copot saja Prabowo dari
Kostrad!”
Kala itu Prabowo sempat curhat ke Sumitro lewat telepon. “Saya
dikhianati,” kata Prabowo pada ayahnya (hlm. 430).
Sebagai bapak yang baik, Sumitro tentu ingin tahu oleh siapa. “Papi
nggak percaya kalau saya bilang, saya dikhianati oleh mertua. Dia bilang
kepada Wiranto, singkirkan saja Prabowo dari pasukan,” tambah Prabowo.
Prabowo akhirnya memang dicopot, tapi oleh Presiden B.J. Habibie, karena
Soeharto sudah mundur pada 21 Mei 1998.
“Pada 22 Mei 1998 pukul 19.00 WIB, Prabowo dicopot dari jabatan
Pangkostrad dan digantikan oleh Mayjen Johny Lumintang,” kata Kivlan
Zen, senior Prabowo di Akabri sekaligus orang dekatnya, dalam /Konflik
dan Integrasi TNI-AD /(2004: 91).
Seperti dicatat dalam biografi Sumitro, beberapa hari setelah pencopotan
itu Prabowo dikirim ke Bandung mengisi jabatan Komandan Sekolah Staf
Komando ABRI. Jabatan di bidang pendidikan militer itu tidak dianggap
strategis, bahkan terkesan posisi buangan.
Bagi Sumitro, apa yang dialami Prabowo adalah ujian. “Saya bangga
Prabowo tabah,” katanya.
Kepada anaknya, Sumitro bahkan berpesan, “Jangan mengharapkan
teman-teman kamu sendiri akan membantu. Orang yang berhutang budi
terhadap kamu pun bakal meninggalkanmu.”
Baca juga: Karier Militer Prabowo: Melesat Lalu Terpeleset
<https://tirto.id/karier-militer-prabowo-melesat-lalu-terpeleset-ctGX>
"Cuma /black propaganda/"
Setelah diperiksa Dewan Kehormatan Perwira (DKP) terkait kasus
penculikan aktivis 1998, karier militer Prabowo pun tamat. Biang
keroknya, masih menurut Sumitro dalam biografinya, lagi-lagi Wiranto.
Prabowo hanya diperiksa DKP dan tidak pernah ada mahkamah militer
untuknya. Atas kasus anaknya yang tidak jelas itu Sumitro begitu prihatin.
“Saya rasa, keadilan terhadap perihal Prabowo Subianto terlihat kabur
dan /ngawur/, karena seakan-akan segala tenaga menghujat terpusat pada
Kopassus dan Prabowo Subianto,” kata Sumitro kepada /Antara/
(26/11/1998) seperti dicatat juga dalam biografinya (hlm. 435).
Sumitro menambahkan, “Mengapa segala sesuatu berada di pundaknya?
Padahal kita semua tahu banyak kesatuan lain dan perwira tinggi lain
yang terlibat di situ.”
Bagi Sumitro, Prabowo adalah ksatria dan berani mengambil tanggung jawab
atas kesalahan Orde Baru itu. Menurutnya, “kalau ada penyimpangan di
dalam ABRI maka ada dua tingkat atasannya yang harus tahu.”
Nama Prabowo tercoreng karena kasus penculikan aktivis itu dan dia pun
pindah ke luar negeri. Meski dalam kondisi berbeda, Sumitro pernah
terpuruk seperti anaknya waktu zaman PRRI-Permesta pada 1950-an. Saat
itu Sumitro hidup di luar negeri selama bertahun-tahun.
Selain masalah penculikan, Prabowo tentu dikaitkan dengan konsentrasi
pasukan di sekitar rumah Habibie pada 22 Mei 1998. Ada pula yang
menyebut Prabowo bernafsu menjadi Kepala Staf Angkatan Darat bahkan
Panglima ABRI di masa genting itu.
“Itu cuma /black propaganda /yang dilancarkan oleh orang-orang yang
membenci Prabowo,” kata sang ayah.
Sumitro merasa banyak orang ingin menjatuhkan Prabowo.
Baca juga: Sumitro Djojohadikusumo Pernah "Menghilang" karena Dituduh
Korupsi
<https://tirto.id/sumitro-djojohadikusumo-pernah-menghilang-karena-dituduh-korupsi-cAaN>
Infografik Sumitro Djojohadikusumo
"Habibie atau Wiranto pasti berdusta"
Bagi Sumitro, orang penting yang melakukan propaganda hitam kepada
Prabowo adalah B.J. Habibie. Di hadapan Forum Editor Asia Jerman II di
Istana Merdeka pada 15 Februari 1999, Habibie bercerita soal konsentrasi
pasukan di rumahnya waktu dia baru menjabat presiden. Habibie menduga
pasukan tersebut dikerahkan oleh seorang jenderal. “Namanya tidak usah
disembunyikan lagi, Jenderal Prabowo,” kata bekas Menristek itu, seperti
dikutip dalam biografi Sumitro (hlm. 437).
Kabar konsentrasi pasukan diperoleh Habibie dari Wiranto. Tapi Wiranto
membantah hal itu. Sumitro menyebut, "Jelas sudah, dalam soal ini satu
dari dua orang itu: Habibie atau Wiranto pasti berdusta."
Baca juga: Jatuh Bangun Dinasti Djojohadikusumo dalam Politik Indonesia
<https://tirto.id/jatuh-bangun-dinasti-djojohadikusumo-dalam-politik-indonesia
-cLjy>
Lima tahun setelah Sumitro meninggal dunia, Habibie merilis buku
berjudul /Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju
Demokrasi/ pada 2006/. /Dalam buku itu Habibie bilang, “Saya menerima
laporan mengenai pergerakan pasukan Kostrad. Oleh karena itu Panglima
ABRI saya beri perintah untuk segera mengganti Pangkostrad, dan kepada
Pangkostrad baru diperintahkan mengembalikan pasukan Kostrad ke basis
masing-masing pada hari ini juga sebelum matahari terbenam.”
Pasukan di sekitar rumah Habibie itu, seperti dicatat dalam biografi
Sumitro (hlm. 437-438), bukanlah pasukan Kostrad melainkan Kopassus.
Informasi ini didapat dari Panglima Kodam Jaya Mayor Jenderal Sjafrie
Sjamsoeddin. Kala itu komandan Kopassus adalah Mayor Jenderal Muchdi
Purwoprandjono
<https://tirto.id/muchdi-pr-di-antara-pusaran-militer-dan-politik-indonesia-dgDE>.
Nasib Muchdi juga ikut apes seperti Prabowo: hilang jabatan.
Prabowo boleh hilang jabatan, tapi dia beruntung terlahir sebagai anak
Sumitro Djojohadikusumo. Sebagai Papi, Sumitro tidak hanya membesarkan
Prabowo, tapi juga peduli dengan nasib apes yang dialami anaknya.
Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA
<https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
<https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
(tirto.id - Politik)
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Menurut Sumitro, biang kerok tamatnya karier Prabowo adalah Wiranto.