https://tirto.id/sejarah-prri-para-kolonel-pembangkang-menentang-jakarta-cBT8
15 Februari 1958
Sejarah PRRI: Para Kolonel
Pembangkang Menentang Jakarta
Para kolonel pembangkang yang bergabung dengan PRRI. tirto.id/Deadnauval
Berkat Limpahan Bedil dari CIA:...
<https://tirto.id/berkat-limpahan-bedil-dari-cia-prri-dan-pusaran-anti-komunis-cBT7>
Buronan Negara Penyelamat Negeri
<https://tirto.id/buronan-negara-penyelamat-negeri-cnE3>
Revolusi dan Perubahan Tipe Nama...
<https://tirto.id/revolusi-dan-perubahan-tipe-nama-orang-minangkabau-czAh>
PRRI Memobilisasi Anak Sekolahan...
<https://tirto.id/prri-memobilisasi-anak-sekolahan-untuk-melawan-sukarno-cBT9>
Kisah Pilu Keluarga Dokter...
<https://tirto.id/kisah-pilu-keluarga-dokter-nainggolan-cBUa>
Sejarah PRRI: Para Kolonel...
<https://tirto.id/sejarah-prri-para-kolonel-pembangkang-menentang-jakarta-cBT8>
Para kolonel pembangkang yang bergabung dengan PRRI.
tirto.id/Deadnauval
Oleh: Petrik Matanasi - 15 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
/Mayoritas perwira yang berseberangan dengan tentara pusat—dan membangun
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia—adalah didikan Jepang./
tirto.id <https://tirto.id/> - Sebelum jadi tentara, Maludin Simbolon
adalah seorang guru sekolah. Ia tamatan salah satu sekolah guru zaman
kolonial, Christelijke Hollandsch Inlandsche Kweekschool. Payung Bangun
dalam /Kolonel Maludin Simbolon: Lika-liku Perjuangannya dalam
Pembangunan Bangsa/ (1996) menulis bahwa Simbolon pernah jadi guru di
HIS di Kartasura dan sekolah swasta di Curup, Bengkulu.
Setelah abangnya, Johan Simbolon, disiksa hingga tewas oleh serdadu
Jepang karena dituduh mata-mata, Maludin mendaftarkan diri ikut latihan
perwira tentara sukarela (Gyugun). Pada 1946, ia mengepalai Divisi Satu
Sumatera di Palembang. Sejak 1950, Simbolon adalah panglima Tentara
Teritorium I/Bukit Barisan yang bermarkas di Medan.
Pada 22 Desember 1956, Simbolon membentuk Dewan Gajah dan menyatakan
pemutusan hubungan dengan pemerintah pusat. Jakarta merespons dengan
perintah penangkapan terhadap dirinya. Simbolon kehilangan posisinya
sebagai panglima dan melarikan diri ke Sumatra Barat.
Di sana, menurut Gusti Asnan dalam /Memikir Ulang Regionalisme: Sumatera
Barat tahun 1950-an / (2007), Simbolon ditolong Letnan Kolonel Ahmad
Husein, yang memimpin Dewan Banteng pada 20 Desember 1956.
“Husein hanya memberikan bantuan sekadar uang beras,” tulis Mestika Zed
& Hasril Chaniago dalam /Ahmad Husein: Perlawanan Seorang Pejuang /(2001).
Perwira yang menggantikan Simbolon di Bukit Barisan adalah Letkol Djamin
Ginting, yang belakangan jadi Pahlawan Nasional. Simbolon menjadi
menteri luar negeri PRRI sesudah pemerintahan revolusioner anti-komunis
ini dibentuk pada 15 Februari 1958, tepat hari ini 61 tahun lalu.
Seperti Simbolon, Husein pernah ikut latihan Gyugun di zaman Jepang.
Husein yang anak apoteker di rumah sakit militer kolonial ini pernah
belajar di Taman Siswa. Di masa Revolusi, Husein adalah komandan Harimau
Kuranji. Zed & Chaniago menulis bahwa Husein identik dengan Harimau
Kuranji.
Gusti Asnan menyebut Husein terlibat dalam pertempuran Padang Area.
Usianya masih muda ketika menjadi Komandan Resimen III dalam Divisi
Banteng. Tak lupa cerita miring soal Husein dicatat Asnan.
“Parada Harahap menyaksikan kesebelasan Batalyon Harimau Kuranji
pimpinan Ahmad Husein bertanding, dan bermain kasar, segera Harahap
menulis ke surat kabarnya. Berita itu terbaca oleh Ahmad Husein dan
membuatnya berang,” tulis Asnan.
Harahap kemudian dihajar dan ditahan atas perintah Husein.
Dari Sumatra Selatan, ada Letnan Kolonel Barlian. Seperti Husein dan
Simbolon, Barlian juga ikut latihan Gyugun. Setelah ikut revolusi
1945-1949, Barlian berada di pihak Republik. Setelah 1950, Barlian
ditempatkan di Markas Besar Angkatan Darat.
Bedanya, Barlian terhitung dekat dengan Abdul Haris Nasution. Barlian
pernah jadi calon parlemen sebagai wakil dari Ikatan Pendukung
Kemerdekaan Indonesia, partai yang dibangun Nasution. Tahun berikutnya,
Barlian adalah Panglima TT II/Sriwijaya yang berkedudukan di Palembang.
Setelah 26 Desember 1956, Barlian adalah Ketua Dewan Garuda.
Baca juga:Abdul Haris Nasution Si Penggagas Dwifungsi ABRI
<https://tirto.id/abdul-haris-nasution-si-penggagas-dwifungsi-abri-cv3x>
Kolonel pembangkang lain adalah Zulkifli Lubis. Orang Batak Mandailing
ini juga didikan Jepang. Hanya saja tidak di Gyugun Sumatra, melainkan
di Seinen Dojo, kemudian jadi perwira PETA di Jawa. Ia dikenal sebagai
legenda intel Indonesia. Di awal kemerdekaan, ia menjadi Komandan Intel
Republik.
Laki-laki yang pernah menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD)
ini adalah sepupu sekaligus seteru Nasution. Meski sama-sama rival,
keduanya dikenal sebagai anti-komunis. Lubis pergi ke Sumatra dan
bergabung dengan PRRI.
Baca juga: Intel Melayu, Belajarlah Kepada Zulkifli Lubis Muda!
<https://tirto.id/intel-melayu-belajarlah-kepada-zulkifli-lubis-muda-cixf>
Infografik Mozaik Para Kolonel PRRI
Selama gerakan PRRI, Letkol Ahmad Husein bersama rekan-rekannya itu
telah menangkap sejumlah orang yang menentang gerakan mereka. Begitupun
para loyalis yang meragukan langkah politis tersebut. Orang-orang malang
ini ditahan di tiga penjara: Muara Labuh, Situjuh, dan Suliki.
Pada awal 1957, pemimpin Partai Komunis Indonesia setempat serta
beberapa pengikutnya di Sumatra Barat dijebloskan ke penjara. Masih di
daerah Minangkabu, Letkol Dahlan Djambek membentuk Gerakan Bersama
Anti-Komunis. Setidaknya 200 orang kiri ditahan. Rupanya tak hanya PKI,
ada juga orang Murba (didirikan oleh Tan Malaka) dan Partai Sosialis
Indonesia (didirikan Sutan Sjahrir) yang tidak sepaham dengan PRRI,
meski kedua partai itu pun menentang PKI.
A.H. Nasution, saat itu orang kuat di TNI yang mengepalai staf Angkatan
Darat, merespons para kolonel pembangkang dengan langkah pemecatan.
Jakarta pun bertindak dengan mengirim pasukan. Di antara perwira yang
memimpin operasi ini terdapat Letnan Kolonel Ahmad Yani, yang belum lama
pulang dari sekolah staf komando di Amerika Serikat.
“Kekuatan fisik PRRI di Sumatera dengan gampang ditumpas oleh TNI hanya
dalam waktu relatif singkat oleh operasi militer yang hampir tanpa
mendapat perlawanan,” tulis Phill Manuel Sulu yang terlibat Permesta di
Sulawesi Utara dalam /Permesta dalam Romantika, Kemelut & Misteri/(2011).
Amerika Serikat belakangan malah mendekatkan diri kepada Nasution.
Sementara para kolonel pembangkang itu dibiarkan kalah dan jadi tawanan
Jakarta. Kelak sebagian dari mereka dibebaskan dan melanjutkan karier
militer semasa pemerintahan Soeharto usai pembantaian massal kaum kiri
pada 1965-1967.
==========
/Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 18 Desember 2017 dengan judul
"Para Kolonel Pembangkang Sumatera Menentang Jakarta" dan merupakan
bagian dari laporan mendalam tentang PRRI. Kami melakukan penyuntingan
ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik./
Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA
<https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
<https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
(tirto.id - Humaniora)
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam